*http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0706/08/115602.htm



Jenis Bakteri Mematikan Baru, Ditemukan*

Meningkatnya ancaman pandemi penyakit yang belum pernah diidentifikasi
sebelumnya seperti virus flu burung membuat para ahli semakin waspada.
Baru-baru ini ilmuwan di Amerika Serikat menemukan strain bakteri baru yang
berpotensi menimbulkan komplikasi penyakit bahkan mematikan.

Bakteri yang diberi nama Bartonella rochalimae tersebut ditemukan pada
seorang wanita AS berusia 43 tahun yang baru saja melakukan perjalanan ke
Peru selama 3 minggu. Wanita yang tidak disebutkan namanya itu menderita
demam yang mirip dengan gejala malaria atau demam typhoid.

Jenis bakteri bartonella ini memiliki hubungan dekat dengan mikroba yang
pernah menyebabkan ribuan tentara menderita sakit saat Perang Dunia Pertama
yang lebih dikenal sebagai demam parit. Penularan penyakit tersebut terjadi
lewat carian tubuh. Bakteri ini juga diduga masih berkerabat dengan bakteri
yang diidentifikasi 10 tahun lalu ketika terjadi epidemi AIDS di San
Fransisko, AS, yang menyebabkan penyakit cakaran kucing dan menginfeksi
25.000 orang per tahun di AS.

Wanita yang terinfeksi bakteri tersebut memiliki gejala ruam, muncul
bintik-bintik kecil di seluruh tubuh, sulit tidur dan mengalami demam tinggi
selama beberapa minggu. Bakteri ini bersarang di sekitar pegunungan Andes,
Peru, dan menyebar melalui lalat. Para ahli menduga penyakit yang ditemukan
pada wanita itu merupakan pertama kali yang disebabkan bakteri bartonella.

Dr.Jane Koehler adalah orang pertama yang menemukan pasien yang terinfeksi
Bartonella di tahun 1987 di klinik AIDS di rumah sakit San Fransisco.
"Bakteri tersebut menggerogoti tulang pasien AIDS selama beberapa bulan,"
kata Koehler. Berdasarkan penelitian Koehler, bakteri ini dapat menyebabkan
luka yang nyeri dan tumor pada pembuluh darah di kulit.

"Jika pasien mengalami demam tinggi dan berkepanjangan, dokter harus
melakukan diagnosa yang tepat dan melakukan perawatan segera, terutama pada
pasien yang memiliki sistem imun rendah, mereka bisa mati karena infeksi
bakteri ini," ujar Koehler.



Sumber: AFP
Penulis: An


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke