*
http://www.antara.co.id/arc/2007/6/9/ri-tolak-kutukan-keras-dk-pbb-terhadap-iran/


RI Tolak Kutukan Keras DK PBB Terhadap Iran**

New York (ANTARA News)*- Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB)
dalam sidang pada Jumat di Markas Besar PBB, New York, gagal mengesahkan
pernyataan pers yang berniat mengutuk keras pernyataan Presiden Iran Mahmoud
Ahmadinejad soal "kehancuran Israel", karena Indonesia, yang menjadi salah
satu dari 15 anggota, menolak pengesahannya.

Wakil Tetap Prancis untuk PBB, Jean-Marc de La Sabliere, usai sidang
menyatakan penyesalannya karena DK PBB gagal mengeluarkan pernyataan
mengutuk Iran.

Prancis, salah satu anggota tetap DK PBB selain Amerika Serikat (AS),
Inggris, Rusia, dan China, adalah negara penggagas rancangan pernyataan pers
soal kecaman terhadap Ahmadinejad dan gagasan tersebut didukung penuh
anggota lainnya, terutama oleh AS dan Inggris.

"Mayoritas anggota Dewan menginginkan adanya pernyataan mengutuk. Tapi,
sayangnya kita tidak dapat mengesahkan rancangan itu hari ini karena ada
keberatan dari salah satu negara," katanya, tanpa menyebut nama Indonesia.

Kalangan diplomat internasional di Markas Besar PBB mengatakan bahwa saat
sidang,* Indonesia* --yang diwakili oleh *Deputi Wakil Tetap RI untuk PBB,
Hasan Kleib*-- menjadi satu-satunya negara yang langsung menyatakan menolak
pengesahan pernyataan kutukan terhadap Irak.

Sementara itu, satu negara lainnya, yaitu Qatar, tidak memberi pernyataan
apa pun, dan mengatakan pihaknya akan berkonsultasi dulu dengan Doha sebelum
menyatakan setuju atau tidak terhadap pengesahan pernyataan tersebut.

Dua hari sebelumnya, yaitu 6 Juni 2007, Perwakilan Tetap Israel untuk PBB di
New York mengirimkan surat kepada DK PBB untuk menanggapi pernyataan
Ahmadinejad saat berpidato pada 3 Juni 2007.

Ahmadinejad dikutip saat mengatakan "Dengan pertolongan Tuhan, tombol
detik-detik kehancuran rezim Zionis sudah mulai ditekan oleh tangan-tangan
anak-anak Lebanon dan Palestina".

Baik La Sabliere maupun Wakil Tetap AS untuk PBB, Zalmay Khalilzad,
menganggap pernyataan Ahmadinejad sebagai masalah serius.

"Kita tidak boleh mengabaikannya. Presiden salah satu negara bicara tentang
penghancuran suatu negara lainnya yang merupakan anggota PBB, kami anggap
Dewan Keamanan harus bereaksi," kata La Sabliere.

"Ini adalah masalah serius, prinsipil, tidak dapat diterima dan merupakan
isu menyangkut ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata
Dubes Khalilzad, secara terpisah kepada para wartawan.

Dubes La Sabliere mengatakan, DK akan kembali bertemu pada Senin (11/6)
untuk mencoba kembali upaya menuju pengesahan.

Namun, sejumlah kalangan memperkirakan pengesahan itu akan menemui jalan
buntu karena keberatan-keberatan yang diajukan Indonesia.

Dari tiga produk yang dihasilkan Dewan Keamanan PBB, yakni resolusi,
pernyataan Presiden DK, dan pernyataan pers, maka hanya resolusi yang
disahkan melalui voting. Sementara itu, dua hal lainnya harus dengan suara
bulat.

Hasan Kleib, saat ditemui ANTARA News menyebutkan setidak-tidaknya ada tiga
alasan yang membuat Indonesia menolak pengesahan.

Pertama, Indonesia menganggap DK PBB kurang adil, mengeluarkan suatu reaksi
atas pilihannya sendiri, dan dalam hal ini memenuhi permintaan Watap Israel,
agar DK PBB melakukan tindakan terhadap Presiden Iran.

"Sementara itu, Dewan Keamanan sama sekali tidak memberikan reaksi, walaupun
kita minta berulang kali, terhadap isu-isu lain yang lebih jelas mengancam
perdamaian dan keamanan internasional," kata Hasan.

Ia mencontohkan, tindakan penculikan dan penahanan yang dilakukan oleh
Israel terhadap anggota kabinet dan parlemen Palestina; rencana Israel
membunuh kepala biro politik Hamas, Khalid Mishal; ataupun perusakan setiap
hari yang dilakukan Israel di wilayah pendudukan.

"Terhadap kasus-kasus tersebut, Dewan Keamanan sama sekali tidak
mengeluarkan satu pun pernyataan kepada media," tegasnya. Kedua, Indonesia
menganggap pernyataan Ahmadinejad pada 3 Juni itu bersifat retorik --yang
disampaikan dalam rangka peringatan 18 tahun wafatnya Imam Khomeini--
sehingga bukan merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan
internasional.

"Kita terbiasa melihat adanya lingkaran retorika antara Israel dan Iran
selama ini," ujar Hasan Kleib.

Sebagai contoh, ujarnya, pejabat Israel yang dikutip koran Israel, Haaretz,
pada April 2006 menganjurkan pembunuhan terhadap Presiden Ahmadinejad karena
`hal itu akan lebih mendorong terciptanya stabilitas`. DK-PBB tidak
mengeluarkan reaksi terhadap kasus tersebut. <br

Ketiga, Indonesia melihat rancangan pernyataan pers DK PBB tidak
mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi.

"Tidak sesuai dengan pernyataan Presiden Iran sendiri. Ahmadinejad tidak
mengatakan Iran akan menyerang Israel," kata Hasan.

Selain itu, penyebutan "Negara Israel" dalam rancangan pernyataan pers,
ujarnya, tidak sama dengan apa yang telah disebutkan oleh Sekretaris
Jenderal (Sesjen) PBB, Ban Ki-moon, sehari sebelumnya yang mengeluarkan
pernyataan kecaman terhadap pernyataan Presiden Iran.

"Seperti yang disampaikan oleh Sesjen PBB, bahkan surat dari Watap Israel
sendiri, yang disebut bukan `Negara Israel` melainkan `Rejim Zionis`,"
katanya.

Sementara itu, Duta Besar Iran di PBB, Mehdi Danesh-Yazdi, dalam wawancara
dengan ANTARA News mengatakan DK PBB seharusnya tidak mengeluarkan
pernyataan pers karena apa yang dikatakan presidennya tidak mengancam siapa
pun ataupun perdamaian dan keamanan internasional.

Ia mengkritik DK PBB yang kerap memihak dan tidak adil dalam mengambil sikap
dan melakukan tindakan.

"Dewan Keamanan diam jika kasusnya dilakukan oleh Israel. Tapi, kalau
pernyataan rutin oleh pejabat Iran, mereka cepat-cepat mengambil sikap dan
mendorong semua anggota Dewan untuk menentukan posisi yang tidak adil
terhadap Iran," cetusnya.

Danesh-Yazdi juga melihat banyak media Barat dalam memberitakan pernyataan
Presiden Ahmadinejad kepada publik mereka, sering salah kutip dan salah
interpretasi.

Ia menjelaskan, dalam pernyatan 3 Juni 2007, Presiden Ahmadinejad sebenarnya
memberikan peringatan kepada Israel bahwa banyak berita dan isu yang beredar
belakangan ini bahwa Israel sedang merencanakan menyerang Lebanon pada musim
panas mendatang.

"Tentu semua pihak harus berupaya menghindarkan jangan sampai terjadi. Dan,
beliau mengingatkan kepada rezim Israel, agar jangan sampai mengulang
kesalahan tahun lalu, saat mereka menyerang Lebanon. Itu sebenarnya maksud
Presiden," papar Dubes Iran di PBB tersebut.

Danesh-Yazdi mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan untuk mengirimkan
surat kepada DK PBB guna memaparkan kejadian yang sebenarnya.

Soal posisi Indonesia yang menolak pengesahan pernyataan pers, Dubes Iran
mengatakan, "Itu sesuai dengan yang kami harapkan dari saudara-saudara kami
dari Indonesia. Kami sangat berharap ini menjadi indikasi bagi penentuan
posisi Indonesia di Dewan Keamanan di masa-masa mendatang."


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke