*http://www.media-indonesia.com/
** Petambak Plasma Dipasena Dapat Kredit Rp880 Miliar** Penulis: Ilham Djamhari BANDAR LAMPUNG--MIOL*: PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) meminta PT Central Proteinaprima (CP Prima) yang tergabung dalam Konsorsium Neptune segera berdialog dengan petambak plasma Dipasena membicarakan pencairan modal kerja Rp880 miliar. Dana tersebut sudah tersedia dan siap disalurkan. Pencairan sepenuhnya berdasar pada kesepakatan antara Neptune dan plasma. Hal itu disampaikan Sekretaris Perusahaan PT PPA Renny O. Rorong di Bandar Lampung, Sabtu (9/6), terkait pencairan kredit Rp880 miliar untuk modal kerja 11 ribu petambak plasma Dipasena dan Wahyuni Mandira. Setiap petambak akan mendapat kredit Rp125 juta, meliputi pinjaman dari Bank Panin Rp80 juta dan Konsorsium Neptune Rp45 juta. "Penjualan ini untuk mengamankan revitalisasi. Karyawan dan plasma menjadi perhatian utama pemerintah karena yang direvitalisasi tak hanya tambak, tetapi juga plasma dan karyawan," kata Ronny didampingi Corporate Communications Astried Swastika dan External Coordination Specialist PPA Hakim H. Polim. Rorong mengaku banyak menerima surat dari plasma terkait revitalisasi. Kekhawatiran yang disampaikan ke PPA, kata Rorong, sudah diakomodasi, termasuk pembiayaan plasma. "Dana Rp880 miliar itu stand by dan siap pakai. Soal pencairannya bergantung pada kesepakatan antara Neptune sebagai inti dan petambak plasma. PPA akan mengawal term of reference (TOR) yang disepakati sebelum memutuskan Neptune sebagai pemilik baru Dipasena," kata Rorong. Konsorsium Neptune, kata Rorong, sudah membuat tahapan revitalisasi, sesuai dengan mekanisme korporasi yang diatur dalam perjanjian. Menurut Rorong, jika tahapan itu tidak dilaksanakan akan menjadi negatif poin bagi Neptune. Namun, PPA yakin hal itu dapat terlaksana dengan baik karena pengawasan Departemen Kelautan dan Perikanan juga ikut mengawasi. "Sebagai perusahaan publik, CP Prima tentu akan lebih dahulu memaparkan tahapan itu ke publik lewat Badan Pengawas Pasar Modal," kata Rorong. PPA juga meminta Neptune memperhatikan catatan Tim Penilai Independen PPA yang beranggotakan Pradjoto (ahli hukum), Chatib Basri (ekonom) dan Made L. Nurdjana (Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Departemen Kelautan dan Perikanan). Tim ini merekomendasikan sistem inti plasma merupakan jiwa pengembangan Dipasena kini dan masa depan. "Tim meminta Neptune berhati-hati melaksanakan revitalisasi melalui proses sosialisasi yang melibatkan masyarakat adat setempat. Dengan kemitraan, konflik sosial antara inti dan plasma tidak akan terjadi. Neptune harus terus menyosialisasikan diri, termasuk jangka waktu revitalisasi," kata Rorong. CP Prima menyiapkan pinjaman kredit Rp880 miliar dengan pembagian pinjaman kredit per petambak plasma Rp80 juta dari Bank Panin dengan pengenaan bunga, untuk pengadaan benur, pakan udang, perawatan dan perbaikan infrastruktur tambak, sarana budi daya lain. Konsorsium Neptune menyediakan pinjaman dana Rp45 juta untuk setiap petambak plasma. Komposisi alokasi yang dibayarkan kepada PPA sesuai dengan yang ditetapkan Rp20 juta, sedangkan Rp25 juta dialokasikan untuk keperluan irigasi air, listrik, dan obat-obatan pada saat kegiatan budi daya semasa revitalisasi berjalan. (IH/OL-02). [Non-text portions of this message have been removed]

