Melihat kejujuranmu, apa tidak pliket, seeeeeh ?

leonardo rimba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Dear 
Friends, berikut tanya jawab antara saya dan
 seorang Psikolog, sebut saja bernama Mbak Tine (nama
 samaran), tentang hal memberikan masukan bagi putrinya
 sendiri mengenai pernikahan. Semoga bermanfaat. 
 
 +++++++++++++
 
 > Dear Mas Leo,  masih inget saya yang memberi respon
 > mengenai masalah perkawinan? Saya kalau di yahoo
 > memakai id Tine. Salam kenal Mas. 
 
 Dear Mbak Tine,
 
 Salam kenal lagi. Thanks for trusting me to give you
 advice (ehem...). Ya, saya ingat, waktu itu subyek
 postingnya "Leo, aku dicintai seorang pastor".
 
 > saya seorang Psikolog yang banyak memberikan 
 > konseling pada pernikahan, tapi kok ya seorang 
 > psikolog susah ya memberi masukan ke anak sendiri. 
 > Hehehee,... jadi ibarat tukang cukur tidak bisa 
 > mencukur kepala sendiri. Hik hik....
 > Untuk itu saya pingin masukan dari Mas Leo nich.
 
 Well, what to say Mbak? Mungkin memang begitulah
 kodrat manusia, tidak bisa "membuahi" diri sendiri.
 Saya membacakan tarot untuk ratusan orang per tahun
 yang meminta private counselling, tetapi saya sendiri
 tidak bisa membacakan tarot untuk diri saya sendiri
 karena saya tidak bisa obyektif, maunya yang
 bagus-bagus saja.
 
 Begitu juga tentang konseling pernikahan: lebih dari
 separuh klien saya meminta konseling tentang membentuk
 pernikahan baru atau melikuidasi pernikahan yang
 dianggap sudah kedaluwarsa, expired. Lah? Memang ya,
 jaman sekarang pernikahan mempunyai expiry date yang
 tergantung dari bargaining kedua belah pihak. Kalau
 salah satu pihak sudah merasa kebelet ingin likuidasi
 dan merger dengan pihak lain, maka pihak yang satunya
 tidak bisa (dan tidak berhak) untuk menahannya.
 
 Memangnya kita masih di jaman Siti Nurbaya dimana
 wanita dijodohkan dengan pria, dan pria bisa seenaknya
 saja kawin lagi dan kawin lagi dan kawin lagi? You
 know yourself that the situation is completely
 different now. But, ternyata kita ini masih punya
 vestiges dari jaman Siti Nurbaya, walaupun disamarkan
 dengan asumsi-asumsi rasional.
 
 Contohnya: Pria musti mapan sebelum berumah-tangga.
 
 Nah, apakah itu persyaratan yang bukan berasal dari
 jaman Siti Nurbaya karena di belakang belief system
 seperti itu ada anggapan bahwa yang mencari nafkah
 buat rumah tangga adalah pria? Wanita tinggal di rumah
 saja dan berfungsi sebagai "pabrik" pembuat anak.
 Wanita melahirkan dan membesarkan anak; pria bekerja
 di luar rumah dan bawa pulang duit. Di belakang belief
 system itu ada lagi berlapis-lapis belief system yang
 berasal dari budaya kita sendiri. 
 
 Misalnya: istri harus membutakan diri terhadap apa
 yang dilakukan oleh suami di luar rumahnya. Sering
 para istri mengatakan: dia suami saya, tetapi di luar
 rumah dia bukan suami saya.
 
 Itu adalah belief system yang mengacu kepada peran
 wanita sebagai pihak yang dependen, tergantung pada
 pria. You know yourself, again, that that is not the
 case nowadays. Situasinya sudah berubah. Banyak wanita
 (bahkan sebagian besar malahan) yang memiliki mata
 pencaharian sendiri. Sebagian wanita yang mandiri
 sebagai professional malahan memiliki income yang
 lebih besar daripada suaminya. Dan, karena memiliki
 income sendiri dan tidak tergantung dari sang suami,
 maka para istri yang secara materi independen dari
 para suaminya ini tidak mau lagi diperlakukan
 semena-mena seperti di zaman purba. 
 
 Gak ada lagi yang namanya wanita harus bersifat nrimo,
 monjo di ranjang, pasrah tinggal di kandang. Tidak ada
 lagi itu...
 
 > saya punya anak kedua putri, namanya Aida Zulfida 
 > (Ida), dia lahir tanggal 11 Juni 1981.  Saya
 > memberikan arahan ketika nanti memilih jodoh paling
 > tidak salah satunya memiliki kriteria pekerjaan...
 > Aduch hare gene Mas,... kalau gak punya pegangan
 > piye to? Nach dia punya kenalan, dibilang pacar
 > bukan dibilang bukan kayaknya deket, lulusan S1 tapi
 
 > profesi gak jelas dan sekali-sekali ngajar bela diri
 > karate. Pernah aku tanya seberapa deket,... dia 
 > bilang biasa tapi nyaman. Wach,... nyaman terus
 > malah ga ada tantangan kan Mas? Pertanyaanku, kenapa
 > ya kok anakku ini gak bisa berpikir jauh kedepan, 
 > yang penting nyaman aja?
 
 Well, tidak ada salahnya memberikan arahan agar calon
 suami Ida memiliki pekerjaan tetap. Tetapi, tentu saja
 Ida juga memiliki pandangan sendiri. Saya lihat Ida
 itu berpikirnya independen seperti Anda ini, ibunya
 sendiri, yang berpendapat bahwa harus ada bargaining
 antara pria dan wanita, bahwa wanita itu tidak harus
 tergantung dari pria.
 
 Ida yang anak kedua dari Mbak ini melihat bahwa ibunya
 itu sering memberikan konseling pernikahan kepada
 banyak orang. Dan Ida juga sadar bahwa pernikahan itu
 tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh tradisi
 kita. Ida melihat banyak klien dari ibunya ternyata
 terbontang-banting gara-gara masuk ke "mahligai
 rumah-tangga" yang ternyata no other than jebakan para
 orang tua yang ingin lekas lepas dari tanggung-jawab. 
 
 Di kultur kita kan orang tua merasa masih harus
 bertanggung-jawab sampai anak-anaknya berumah tangga.
 Selama anak belum berumah-tangga, orang tua merasa
 bahwa tugasnya belum selesai.
 
 Tapi, does it work? Apakah segala dorongan-dorongan
 untuk cepat menikah itu bisa efektif? You know
 yourself bahwa jaman sekarang ini tidak seperti itu
 lagi... Sekarang banyak wanita yang akhirnya menyesal
 telah menuruti keinginan orang-tua agar cepat-cepat
 menikah. Orang tua malu anaknya dikatain jadi perawan
 tua. Dan si anak perempuan gak tahan mendapat tekanan
 dari orang tua yang setiap hari mengelus-ngelus dada
 di depannya hanya karana anak perempuannya itu belum
 mau menikah.
 
 Jadinya ya perkawinan jebrat jebret. Biarpun undangan
 disebarkan untuk dua ribu orang, dan yang dateng orang
 sekampung, plus dari kampung-kampung lain... kalau si
 mempelai wanita merasa dirinya diperdaya oleh orang
 tua yang kesengsem dengan jabatan dan harta calon
 besannya (banyak kasus begini) maka jadinya adalah
 perkawinan terpaksa. 
 
 Jamanne jaman Posmo (Post Modern), tapi spiritne masih
 spirit Siti Nurbaya. Piye?
 
 Orang tua masih merayu-rayu, malah sering dengan
 setengah mengancam, agar anak wanitanya cepat-cepat
 menikah. Asal calon mempelai pria punya pekerjaan, wis
 menikahlah. Kok?
 
 Orang tua, walaupun yang modern seperti Mbak ini,
 ternyata masih takut anak wanitanya dipake gratisan.
 Well, kenapa takut? Itu suka sama suka toh? Dan kalo
 sukanya cuma sampe saling maen cemceman doang, kenapa
 harus dipaksa menikah? Cintanya cuma cinta cemceman,
 dan cinta cemceman gak bakal bisa bertahan kalo
 targetnya adalah rumah tangga yang, diharapkan, bisa
 bertahan puluhan tahun. Apalagi seumur hidup.
 
 > Siapa tau Mas, melalui saran Mas Leo aku bisa masuk
 > dan memberi pengertian ke Ida.
 > 
 > Thanks berat Mas
 > Tine
 
 Mbak, saran dari aku cuma satu. Please give Ida fredom
 to choose. Kalau dia cinta dan merasa bisa hidup
 dengan seseorang sebagai suaminya, then it's her
 choice. It's her marriage that we are talking about,
 and _not_ your marriage. Dan, kalau mau pakai
 pengertian psikologi modern (you are a psychologist
 kan?), malahan orang tua gak boleh ikut campur sama
 pilihan anaknya. Bisa memberi masukan, tapi gak punya
 hak veto. Ida sudah lebih dari 21 tahun kan? Sudah
 bukan anak di bawah umur kan?
 
 Biarkan saja dia memilih calon yang disukainya. Apapun
 yang dipilihnya, konsekwensinya akan ditanggung oleh
 dia sendiri. Saya lihat Ida sudah tidak lagi bisa
 mempertimbangkan budaya tradisional kita yang
 cenderung memaksa wanita untuk cepat menikah dengan
 calon yang bisa bawa materi. Dia lihat sendiri bahwa
 rumah tangga semacam itu cuma lip service saja. Manis
 di bibir, dan pahit di hati.
 
 Aku cuma sarankan agar dia bisa bebas memilih which is
 her own right. Please try to be objective, Mbak,...
 realitas kehidupan masyarakat kita sudah beda. Dan
 please be realistic about that, even when it concerns
 your own family.
 
 Sekian dari saya, semoga bisa membantu. And, don't you
 think that I am an experienced family man. Nggak gitu
 Mbak, aku ini belum pernah menikah, kawin aja belum.
 Jujur aja.
 
 All the Best,
 Leo
 
 [Leonardo Rimba adalah alumnus UI dan PennState,
 seorang tarot reader & bidang lainnya dalam ranah
 Psikologi Transpersonal. Untuk membuat appointment,
 please contact him at HP: 0818-183-615. Email:
 <[EMAIL PROTECTED]>.]
 
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
 
     
                       

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke