--- In [email protected], mohamat safiri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>



"Jelas bahwa orang yang tidak berakal atau tidak cerdik akan 
mendapat kesukaran untuk menegakkan agama yang merangkumi semua 
aspek kehidupan. Mereka tidak akan mampu menegakkan tamadun lahir. 
Tanpa akal, umat Islam akan jadi beku dan jumud.
Begitulah maksud yang tersurat dan tersirat dari berakal dan agama 
yang terkandung dalam hadis ini. Kita tidak dapat lari dari hakikat 
bahwa akal itu perlu dalam agama akan tetapi hanya apabila ia mau 
tunduk dan dipimpin oleh hati..."



=====>  Dimana akal diterapkan dengan akal budi serta kemuliaan 
bathiniah dapat kita lihat dengan mudah jelas jemelas dalam bangsa 
bangsa yang tertata rapi:

Bersih dan tidak kumuh
Hukum berdaulat, supremacy hukum
Struktur kehidupan tertata rapi
hampir tak ada kemelaratan dan kesenjangan sosial
Jaminan sosial bagi setiap warga yang sangat ketat

Ini kita lihat misalnya di Ausstria, Luxemburg, negara negara 
Skandinavia, Monacco, dll. Di Asia, kita lihat di Korea selatan, 
Jepang, taiwan, Singapura..

Mereka menyembah sang Khalik dalam tatanan kehidupan yang sangat 
rapi, tanpa kontroversi, tanpa ketajaman konflik horizontal antar 
strata kemaszarakatan.

Inilah buah akal. Akal sehat.

Salam

Danardono










> 
>   
> Akal Dalam Beragama
> 
> Rasullullah SAW bersabda yg maksudnya :
> 
> 'tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal"
> 
> ¨artinya orang yang akalnya tidak sehat atau orang yang 
tidak¨siuman atau orang yang terganggu akalnya ataupun orang gila 
tidak¨dapat dan tidak mampu beragama. Mereka pun tidak 
dituntut¨beragama. 
> 
> Jelasnya mereka tidak dituntut bertauhid, bersyariat atau 
bertasawuf. Mereka bukan orang yang mukalaf. Oleh itu mereka tidak 
disuruh menegakkan syariat. Mereka terlepas dari hukum suruhan dan 
hukum larangan Tuhan. Kalau mereka berbuat ibadah, tidak diberi 
pahala. Kalau mereka berbuat maksiat dan kemungkaran pun tidak 
berdosa. Mereka ini dianggap sebagai ahlul fitrah. Mereka ini sama
> saja dengan anak-anak yang mati sebelum akil baligh tidak pandang 
apa agama ibu dan ayah mereka dan juga manusia yang tidak sampai 
kepada mereka seruan dakwah. Mereka semua adalah ahli syurga.
> 
> Namun istilah tidak berakal dalam hadis tersebut bukan saja 
maksudnya gila atau tidak siuman atau terganggu akal. Kalau itulah 
yang dimaksudkan, sudah tentu Rasullullah akan terus menyebut gila 
atau tidak siuman. Tidak berakal di sini juga bermaksud belum pandai 
menggunakan akal atau akal yang belum sempurna. Seperti anak-anak 
yang belum cukup umur atau belum akil baligh, mereka ini bukan gila 
atau bukan tidak siuman. Cuma mereka belum pandai menggunakan akal 
dan oleh itu dianggap tidak berakal. Mereka ini tidak diwajibkan 
beragama.
> 
> Walaupun begitu, hadis ini juga tidak bermaksud orang yang berakal 
atau orang yang sempurna akalnya sudah tentu akan beragama. Ini 
tidak berlaku. Berapa banyak kita lihat orang yang berakal malahan 
yang pandai-pandai tidak beragama bahkan ada di antara mereka yang 
menentang agama. Satu hal lagi, walaupun agama dalam hadis ini 
dikaitkan dengan berakal, ini tidak bermakna akal itu semata-mata 
adalah alat untuk beragama. Justeru itu kalau akal diasah tajam-
tajam dan diisi dengan berbagai-bagai dan sebanyak-banyak ilmu, 
belum tentu seseorang itu akan beragama, walaupun ilmu yang ada 
padanya adalah ilmu Quran dan hadis. Berapa ramai kita lihat 
profesor-profesor terutama di perguruan perguruan tinggi di Barat 
dan Amerika yang mengajar ilmu Islam dan memberi ijazah, masters dan 
PhD ilmu Islam kepada lulusan lulusan orang Islam tetapi mereka 
sendiri tidak beriman. Hadis ini merujuk kepada orang yang tidak 
berakal dan bukan kepada orang akal. Orang yang tidak berakal ialah 
orang yang tidak pandai atau belum pandai menggunakan akalnya. Orang 
akal ialah orang yang mengagungkan akalnya. 
> 
> Ada perbedaan antara dua istilah ini. Kalau orang yang tidak 
berakal susah hendak beragama, orang akal yang berpandukan akalnya 
dan logika semata-mata, lebih-lebih lagi susah hendak beragama. 
Sebenarnya, tidak berakal dalam hadis ini membawa maksud akal yang 
tidak terpimpin. Orang yang akalnya tidak terpimpin dianggap tidak 
berakal. Dalam Islam, akal yang tidak terpimpin itu ialah akal yang 
tidak dapat berfungsi di atas landasan haq dan kebenaran. Iaitu akal 
yang berputar dengan bebas tanpa dikontrol oleh hati yang yakin, 
beriman dan takut kepada Allah. Islam menganggap orang yang akalnya 
tidak mau tunduk kepada hatinya atau kepada kebenaran sebagai orang 
yang tidak berakal. Akal seperti ini hanya akan tunduk kepada 
nafsunya saja.
> 
> Walau bagaimana pintarnya akal yang tidak terpimpin ini, ia tidak 
akan dapat keluar dari kepompong alam dunia dan alam material. Ia 
tidak dapat menembusi alam-alam yang lebih seni dari
> alam syahadah atau alam nyata ini seperti alam barzakh alama 
khirat, syurga, neraka, malaikat dan hal yang berkaitan dengan
> Tuhan itu sendiri. Walhal semua itu adalah benar.
> Akal yang tidak terpimpin ini sangat bahaya. Ia akan ber-
> gantung habis-habisan kepada logika akal semata-mata dan tidak
> akan nampak sumber kebenaran yang lain. Walhal kalau
> menurut logika akal, akhirat itu tidak logis, syurga dan neraka
> tidak logis, hidup sesudah mati itu tidak logis, malaikat tidak
> logis bahkan Tuhan itu pun tidak logis. Justeru itu, orang yang
> akalnya tidak terpimpin akan mendapatkan kesukaran untuk mem-
> percayai perkara-perkara ghaib seperti malaikat, hari kiamat,
> Tuhan dan sebagainya.
> 
> Itu sebab dalam Islam, pendidikan adalah berteraskan konsep
> yang terkandung di dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW ber-
> sabda, maksudnya: "Awal-awal agama mengenal Allah".
> Awal-awal lagi, anak-anak perlu dikenalkan kepada Allah
> supaya hati mereka terisi dengan rasa-rasa bertuhan. Rasa-rasa
> inilah yang akan menguasai dan memimpin akal mereka. Akal
> mereka akan berputar dan berfungsi di bawah pengawalan hati
> mereka yang senantiasa terhubung dengan Tuhan dan yang senantiasa 
terisi dengan kebenaran dan rasa-rasa bertuhan.
> Islam tidak mau akal itu digunakan secara bebas tanpa
> kawalan. Islam mau akal itu senantiasa terpandu. Islam menuntut
> kita berzikir sambil berfikir. Ini dapat dilihat dalam ayat dalam 
Al Quran, maksudnya: "Orang yang sentiasa mengingati Allah
> (berzikir) dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan
> mereka berfikir tentang kejadian langit dan bumi".(Surah
> Ali Imran: 191)
> 
> 
> Hati mesti terhubung dahulu dengan Tuhan melalui zikir,
> barulah akal digunakan untuk berfikir. Berzikir itu kerja hati.
> Berfikir itu kerja akal. Barulah fikiran itu akan dibantu dan
> dipandu oleh Tuhan. Kalaulah akal dibebaskan berfikir tanpa
> kawalan hati yang berzikir, ia akan menyimpang dari kebenaran.
> Akal itu kalau dibebaskan berfikir, pengujungnya nanti ia akan
> menafikan/menolak kewujudan Tuhan. Karena hal-hal Tuhan dan 
perkara-perkara ghaib adalah diluar kemampuan akal untuk memahaminya.
> 
> Ditakutkan apabila perkara-perkara ini tidak dipahami, akal akan
> menolaknya. Itulah bahayanya akal. Sebab itu ia perlu dikawal
> dan dipimpin oleh hati. Mari kita lihat cara mencari kebenaran 
berpandukan prinsip dan kaedah falsafah, iaitu kaedah yang dicipta 
oleh orang akal yang seratus persen bergantung kepada kekuatan akal 
semata-mata. Dalam sesuatu perkara atau permasalahan itu, 
ditimbulkan bermacam macam keraguan terlebih dahulu. Sesudah itu 
barulah akal digunakan untuk mencari hujah, dalil dan kepastiannya 
yang paling masuk akal.
> 
> Atas dasar inilah penemuan-penemuan dan teori-teori
> falsafah dikemukakan. Dalam Islam, ini tidak berlaku. Ilmu
> kepastian perlu didapatkan terlebih dahulu dari Tuhan. Sesudah itu 
barulah akal digunakan untuk melaksanakan dan mengembangkannya. 
Dengan itulah akal akan senantiasa terpimpin dan tidak keluar dari 
garis orbitnya. Ia tidak perlu mencipta sistem, konsep atau doktrin 
yang baru tetapi hanya perlu mengembangkan konsep yang telah 
ditetapkan oleh Tuhan. Inilah sebenarnya fungsi akal. Ia menterjemah 
dan mencari kaedah atau jalan bagaimana hukum dan syariat Tuhan 
dapat dipahami dan dilaksanakan. Akal itu adalah pelaksana bagi 
sistem dan hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Ia bukan pencipta 
sistem atau hukum baru. Apabila akal digunakan untuk mencipta sistem 
dan hukum, maka porak-perandalah hidup manusia
> karena sistem dan hukum yang dicipta itu akan berlawanan dan
> bertentangan dengan keperluan dan tuntutan fitrah asal mula 
kejadian manusia. Hanya Tuhan saja yang mengetahui keperluan dan 
kehendak manusia yang sebenarnya karena Dialah yang menciptakan 
manusia. Oleh karena itu hukum Tuhan sajalah yang sesuai dan patut 
digunakan dan dipakai untuk manusia.
> Tidak berakal dpt juga bermaksud tidak cerdik. Bila akal
> tidak cerdik, tidak pandai bertindak dan tidak pandai 
menyelesaikan masalah, dia tidak akan mampu dan tidak akan berupaya
> untuk memahami, menterjemah dan melaksanakan segala
> hukum dan syariat Tuhan. Akal seperti ini tidak akan dapat 
menegakkan tuntutan agama yang begitu banyak. Ia tidak akan dapat 
mempraktikkan agama secara syumul dan menyeluruh. Ia hanya akan 
dapat berbuat ibadah-ibadah yang khususiah seperti solat, puasa, 
wirid, zikir, baca Quran dan sebagainya. Ia mungkin dapat menjadi 
seorang ahli abid. Tetapi agama bukan sebatas melaksanakan ibadah 
khususiah dan menjadi ahli abid saja. Agama termasuk menegakkan 
segala tuntutan-tuntutan yang lain yang berbentuk batiniah maupun 
lahiriah. Agama menuntut kita menegakkan tamadun atau peradaban 
rohani dan tamadun/peradaban lahir.
> 
> Peradaban rohani melibatkan hati, akal dan nafsu yang perlu
> dibina dan dididik sehingga seseorang itu menjadi orang yang
> betul-betul kenal Allah (arifbillah) dan bertaqwa kepada Allah.
> Di segi lahirnya, Islam sebagai cara hidup (addin) perlu 
ditegakkan dalam semua aspek kehidupan dalam bidang sosial, ekonomi, 
pendidikan, kebudayaan, keuangan, pelayanan kesehatan dan 
sebagainya. Inilah yang dinamakan tamadun lahir. Barulah Islam itu 
lengkap, syumul dan sempurna. Barulah keperluan lahir dan rohani 
manusia dapat dipenuhi. Inilah yang dimaksudkan dengan agama iaitu 
cara hidup atau addin yang syumul dan lengkap.
> Ini semua bukan hal yang mudah. Hanya orang yang berakal dan yang 
cerdik saja mampu melaksanakan semua ini. Orang yang tidak cerdik 
tidak akan dapat memahaminya, jauh sekali
> untuk menegakkan dan melaksanakannya.
> 
> Peradaban lahir pula, Islam sebagai cara hidup, ditegakkan dalam 
semua aspek kehidupan. Barulah Islam itu lengkap, syumul dan 
sempurna. Barulah keperluan lahir dan rohani manusia dapat dipenuhi. 
Kita tidak cukup mampu menjadi ahli ibadah semata-mata. Kita harus 
ingat bahwa maksud agama dalam hadis ini dan pemahaman agama yang 
sebenarnya meliputi seluruh sendi-sendi dalam agama yang wajib kita 
tegakkan meliputi yang lahir maupun yang batin.
> 
> Jelas bahwa orang yang tidak berakal atau tidak cerdik akan 
mendapat kesukaran untuk menegakkan agama yang merangkumi semua 
aspek kehidupan. Mereka tidak akan mampu menegakkan tamadun lahir. 
Tanpa akal, umat Islam akan jadi beku dan jumud.
> Begitulah maksud yang tersurat dan tersirat dari berakal dan agama 
yang terkandung dalam hadis ini. Kita tidak dapat lari dari hakikat 
bahwa akal itu perlu dalam agama akan tetapi hanya apabila ia mau 
tunduk dan dipimpin oleh hati.
> 
> sekian
> _________________________________________________________________
> Did you know you can now customize your mailbox with different 
colours to suit your mood with the new Windows Live Hotmail?
> http://get.live.com/mail/features
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke