Catatan laluta:

Sistim kehidupan masyarakat Kapitalisme, yang telah meng-global telah mengalami 
proses perkembangan ratusan tahun lamanya. Tak terkecuali pula, dampaknya pada 
kehidupan masyarakat di Indonesia sampai saát ini....nyatanya pemaksaan 
penetrasi sistim kapitalisme, telah dilakukan dengan cara metode kekerasan 
tanpa memperhitungkan "site effect" pada perkembangan jiwa umat manusia.

"....saya berkesan bahwa kasadaran sebagian besar bangsa Indonesia dewasa ini 
sedang mengalami krisis yang nyata, yang termanifestasikan dalam suatu penomena 
yang dapat digolongan dalam kategori psychopathologisce Syndrome, yang 
dampaknya kita kenal sebagai Schizoprene Psychosen..."

"... yang  dampaknya kita kenal sebagai bentuk Schizoprene Psychosen ( 
Paranoide Symtomatik), yang bermunculan dalam bentuk bermacam-macam penyakit 
jiwa, misalnya depressi, irasional minderwertig,  traoma, perasaan takut,dll ; 
yang dampaknya telah menghasilkan manusia-manusia yang kehilangan sifat 
kekritisannya dan apatis,..."  untuk selanjutnya silahkan baca catatan uraian 
karya Pak Roeslan (Berlin - Jerman) sehabis melihat filem dokumen tentang G30S 
1965/1966 ....  

From: "Roeslan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "'Mira Wijaya Kusuma'" <[EMAIL PROTECTED]>,
 <[EMAIL PROTECTED]>
CC: "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]>, "Nasional-list" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: FILEM DOKUMEN G30S 1965/1966:  MENYEMAI TERANG dALAM  KELAM 
Date: Tue, 19 Jun 2007 00:09:24 +0200

Roeslan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mira Wijaya Kusuma dan bung Magili yb, inilah tanggapan saya terhadap film :    
 
    > MENYEMAI TERANG DALAM KELAM<  > DAN KADO UNTUK IBU<: 
     
     Setelah mencermati 2 film; yaitu: Menyemai Terang Dalam Kelam dan Kado 
Untuk Ibu, dan mengamati kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini, saya berkesan 
bahwa kasadaran sebagian besar bangsa Indonesia dewasa ini sedang mengalami 
krisis yang nyata, yang termanifestasikan dalam suatu penomena  yang dapat  
digolongan dalam kategori psychopathologisce Syndrome, yang dampaknya kita 
kenal sebagai Schizoprene Psychosen . Keadaan seperti itu tercermin dalam 
sebagian besar kesadaran bangsa Indonesia yang selama 32 tahun dibawah 
penindasan kejam dari system militerisme orde baru, yang dampaknya telah 
menghasilkan budaya yang tidak manusiawi, dan sama sekali tak  bisa membedakan 
antara impian dan kenyataan. Salah satu dampaknya  telah membikin bangsa ini 
mudah sekali memberikan stigma PKI pada setiap orang yang mempunyai pandangan 
politik yang berlainan dengan politik penguasa negara, apalagi terhadap  orang 
yang menentang orde baru Soeharto. Sikap budaya yang tak manusiawi itu
 juga tercermin dalam sikap DPR yang didominasi oleh Golkar dan juga tercermin 
dalam sikap politik Pemerintah Indonesia dalam menyikapi peristiwa pembantaian 
besar-besaran (genosida)1965-1966 terhadap 3 juta rakyat Indonesia yang tak 
bersalah, yang dituding dan di fitnah terlibat G30S, PKI atau simpatisannya dan 
pendukung politik Presiden Soekarno. Demikian juga terhadap  pembunuhan secara 
pelen-pelan yang sangat  keji terhadap Presiden Soekarno dan pembuangan ke 
Pulau Buru secara semena-mena terhadap puluhan ribu orang-orang  yang dicurigai 
atau dituding beraliran kiri, yang dianggap berbahaya bagi kepentingan rezim 
militer fasis Soeharto. Terhadap peristiwa pelanggaran berat HAM sersebut, baik 
DPR, pemerintah dan sebagian besar bangsa ini selalu bersikap acuh tak acuh, 
dan membisu, seolah-olah di Indonesia tak pernah ada sesuatu peristiwa besar, 
yaitu pelanggaran berat HAM seperti peristiwa genosida 1965-1966.
      Terjadinya gejala Schizoprene Psychosen seperti yang dikemukakan diatas  
adalah sebagai akibat dari  adanya penindasan,penyiksaan, terror fisik maupun 
Psychologi dan pemaksaan yang sifatnya militeristis, yang menggunakan cara-cara 
fasis dan kekerasan senjata. Ini semua diungkapkan dalam  film Menyemai Terang 
dalam Kelam dan Film kado untuk Ibu, misalnya siksaan yang tak manusiawi 
terhadap rakyat yang sudah menjadi tahanan politiknya.  Yang diperlalukan 
sebagai binatang dan ancaman-ancaman keras terhadap seluruh rakyat Indonesia 
yang menentang kehadiran sistem militerisme orde baru. Perbuatan yang tak 
manusiawi itu dilakukan secara sadar, dengan maksud agar supaya seluruh rakyat 
Indonesia mau mengakui bahwa semua impian-impian brutal, yang horor dan 
bisazarre dari klik militer fasis Soeharto,adalah suatu kebenaran, sehingga 
dengan demikian dapat dipergunakan sebagai alasan untuk menyiksa dan membunuh 
rakyatnya yang tak bersalah dan tak mengetahui seluk-beluk tentang
 apa yang disebutnya gerakan G30S  PKI itu. 
   Dampak dari adanya  pengakuan paksaan dibawah ujung senapan,sebagai produk 
dari tindakan kekerasan a’la militer fasis itu ternmanifestasikan dalam bentuk 
siksaan-siksaan brutal, bizarre dan horor yang tak berperikemanusiaan terhadap 
para tahanan politik yang dituduh terlibat dalam gerakan G30S , yang untuk 
selanjutnya hasil dari pengakuan yang direkayasa  dengan kekerasan itu, segera 
disiarkan dalam media cetak, seperti misalnya Koran Berita Yudha yaitu 
satu-satunya koran militer yang dibolehkan terbit pada saat itu dan juga 
disiarkan melalui  siaran  radio secara intensif oleh klik militer fasis 
Soeharto  
      Impian-impian brutal dan bizarre dari klik militer fasis  Soeharto yang 
termanifestasikan dalam bentuk berita  tentang adanya penyiksaan para jendral, 
pencungkilan mata para Jendral  dan penyiletan kemaluan para Jendral yang 
diiringi dengan tari-tarian seksi dari Gerwani, sebenarnya sama sekali tidak 
pernah ada dan tidak pernah terjadi,secara kilat telah dibesar-besarkan dan 
dimuat dalam koran Berita Yudha, yaitu koran milik klik militer fasis Soeharto.
   Semua kebohongan yang telah disebar luaskan baik melalui  Berita Yudha 
maupun sisran-siaran RRI, semua dibantah oleh  penjelasan dari tim dokter yang 
ditunjuk oleh klik militer orde baru sendiri,yang mengatakan bahwa tak satupun 
dari jenasah para jendral itu yang menunjukkan adanya bukti-bukti bekas 
penyiksaan,apa lagi penyungkilan mata dan penyayatan dengan silet pada kelamin 
para jendral yang menjadi korban G30 S itu. 
   Dari penjelasan para dokter spesialis yang telah melakukan pemeriksaan 
secara teliti terhadap keadaan jenasah para jendral, adalah merupakan bantahan 
dan bukti yang cukup kuat terhadap kebohongan besar yang telah dilakukan oleh 
klik militer fasis Soeharto kepada bangsa Indonesia.
   Nampaknya kebohongan tersebut telah digunakan sebagai alasan untuk melakukan 
pembantaian masal (genosida) 1965-1966 yang memakan korban 3 juta  
manusia-manusia yang tak bersalah, yang kemudian dilanjutkan  dengan pembunuhan 
secara pelan-pelan terhadap Presiden Soekarno. Demikianlah proses kenaikan 
Jendral Soeharto dalam merebut kekuasaan negara dari  tangan Presiden Soekarno.
      Dampak dari adanya kebohongan besar yang dipaksakan dengan segala macam 
cara dan bentuk siksaan dan ancaman terhadap seluruh rakyat Indonesia selama 32 
tahun lamanya , sekarang ini nampak telah menyebabkan terjadinya >konflik 
kesadaran jiwa yang taktertuntaskan< dari hampir semua bangsa Indonesia. 
Keberadaan konflik ini tersimpan dalam bawah sadar masing-masing  individu 
orang Indonesia, yang sekarang ini  nampak termanifestasikan dalam bentuk 
psychopathologisce Syndrome, yang  dampaknya kita kenal sebagai bentuk 
Schizoprene Psychosen ( Paranoide Symtomatik), yang bermunculan dalam bentuk 
bermacam-macam penyakit jiwa, misalnya depressi, irasional minderwertig, 
traoma, perasaan takut,dll ; yang dampaknya telah menghasilkan manusia-manusia 
yang kehilangan sifat kekritisannya dan apatis, sehingga munculah  sejumlah 
manusia-manusia Indonesia yang berjiwa bebek, acuh tak acuh terhadap HAM dan 
selalu menuruti kehendak  penguasa negara yang tetap mendukung system 
militerisme
 orde baru,tanpa memperdulikan benar atau salah.  Keadaan semacam ini sangat 
menonjol dalam masalah memberikan penilaian tentang keadilan. Tuntutan tentang 
keadikan telah dikacaukan dengan pengertian balas dendam. Misalnya jika rakyat 
menuntut ditegakkannya supermasi hukum  dan mengadili perbuatan pelanggaran 
berat HAM dari mantan penguasa orde baru dan elite-elite militer mendukung orde 
baru, maka dijawab dengan jawababan yang sangat naif, yang antara lain dengan 
mengatakan kita jangan melakukan balas dendam. Dari adanya jawaban seperti itu 
jelas bahwa mereka para golongan militer  dan elite bangsa ini tidak 
menghendaki adanya penegakan keadilan dibumi Indonesia, karena yang penting 
bagi mereka adalah mau menutup-nutupi perbuatan biadap yang tak mengenal HAM. 
Rupanya sumber utama dari ediologi seperti itu adalah datang dari ideologi 
“Globalisasi- Ekonomi- Budaya” yang dianut oleh negara-negara kapitalisme 
neoliberal, yang secara terselubung telah digunakan untuk
 menggantikan Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan Bung Karno. Sungguh menyedihkan 
kondesi seperti itu.
      Jadi sebagai akibat dari adanya “konflik kesadaran jiwa yang tak 
tertuntaskan” itu, dampaknya telah menyebabkan bangsa Indonesia telah terkena 
gejala sakit jiwa, yang muncul dalam bentuk  Schizophren  psychosen (paranoide 
Symptomatik). Ini jelas termanifestasikan dalam sikap kalangan militer di 
Indonesia, terutama para elitenya dan juga nampak dalam sikap wapers JK, yang 
diikuti  oleh sejumlah besar orang-orang pengikut Golkar dan partai-partai 
politik yang mengorbit pada Golkar. Dan bahkan paranoia itu telah menjalar 
dikalangan  masyarakat lapisan  menengah dan bawah dari bangsa bangsa ini. 
Keadaan semacam ini tercermin dalam bentuk secara mudah  memberikan stigma PKI 
pada siapa saja yang menentang orde baru baik yang dulu maupun yang jilit kedua 
dewasa ini. Misalnya ada diantara para jendral TNI dan juga wapres JK, yang 
dengan sakenaknya saja menuduh pada pendemo yang mengkritik program pemerintah, 
atau kaum buruh yang menuntut kenaikan upah, dituduh sebagai PKI.
 Demikian juga keberadaannya Front Persatuan Nasional atau Partai Front 
Persatuan Nasional juga dituding sebagai PKI. Dan masih manyak lagi hal-hal 
seperti itu yang kiranya terlalu banyak  jika dikemukakan semuanya dalam 
tulisan ini.
   Inilah bentuk dari adanya  paranoide (paranoia) symtomatik, sebagi hasil  
dari budaya yang dibangun oleh Jendral  TNI AD Soerharto, dan oleh kerena 
itulah, maka Soeharto telah diberi gelar bapak pembangunan oleh Golkar dan para 
pengikutnya.. 
      Adanya “konflik kesadaran jiwa yang taktertuntaskan” seperti yang telah 
diutarakan diatas, adalah merupakan element yang tidak kelihatan yang bermukim 
didalam „bawah sadar” setiap individu   orang Indonesia, adapaun induknya yang 
kita kenal adalah sistem penindasan militer yang tak mengenal prikemanusiaan 
dari pemerintah militer fasis rezim orde baru, seperti yang telah diuraikan 
diatas; yang kini muncul di permukaan dalam bentuk paranoide (paranoia) 
sysmtomatik. Kalau si patient yang mengidap penyakit paranoide (paranoia) ini 
pergi memeriksakan diri kepada ahli-ahli jiwa dan ahli-ahli-sarafotak, sang 
dokter tidak akan menemukan penyakitnya ; pin-tomography-pun tidak sanggup 
„membaca“ gejala side-effect “konflik kesadaran jiwa yang tak tertuntaskan” 
itu. Penyakit itu ada, cuma sang dokter tidak-tahu, karena sang dokter tidak 
mengenal apa yang disebut “konflik kesadaran jiwa yang taktertuntaskan” itu.
   Selanjutnya adanya paranoide (Paranoia) sebagai dampak dari adanya Konflik 
kesadaran jiwa yang taktertuntaskan itu akan terus tersimpan sepanjang jaman 
dalam setiap individu bangsa Indonesia. Dewasa ini konflik ini sudah nampak 
menonjol dalam bentuk:  “konflik Sejarah yang tak tertuntaskan”. Ia tak akan  
dapat dituntaskan karena selalu dihalang-kalangi oleh pengasa negara yang pada 
hakekatnya adalah masih tetap para militer fasis pencinta Soeharto. Selama 
konflik ini terus tak dapat dituntaskan , maka bangsa ini akan tetap menderita 
paranoide Symptomatik yang akan terus mengancam  persatuan seluruh bangsa 
Indonesia, karena konflik itu akan selalu muncul dikelak kemudian hari.
   Menurut pengamatan saya terhadap elite-eliti bangsa ini yang nampaknya 
pinter-pinter dan titelnya sudah berganda, tapi sepintas lalu kalau saya 
„lihat“ mereka ini banyak yang tak mengenal hakekat >holargi Sejarah bangsa 
Indonesia yang tak tertuntaskan<, didalam segala corpus baik yang riil, apalagi 
yang fiktif<, sangat disayangkan kondisi ini!!!
     
   Film MENYEMAI TERANG DALAM KELAM dan Kado Untuk Ibu adalah merupakan suatu  
bentuk therapie untuk menyembuhan adanya “konflik kesadaran jiwa yang tak 
tertuntaskan”  baik secara individu maupun kolektif yang tersimpan di bawah 
sadar , yang sampai saat ini tak dapat dituntaskan, yang dalam praktek  
kongkrit kehidupan sosial-politik telah muncul sebagai >konflik sejarah yang 
tak tertuntaskan< itu tadi
     
   Dengan adanya penindasan yang luar biasa kejamnya selama 32 tahun lamanya, 
yang sampai sekarang masih dirasakan oleh segenap  rakyat Indonesia, maka 
konflik sejarah yang tak tertuntaskan  itu telah terdesak masuk kedalam bawah 
sadar setiap individu dari bangsa Indonesia dan menjadi konflik kesadaran 
kolektif bangsa ini.
   Oleh karena itu untuk menyembuhkan penyakit yang timbul dari adanya dampak 
“konflik kesadaran jiwa” yang tak tertuntaskan yang diderita oleh bangsa 
Indonesia akan tersimpan terus dalam bawah sadar setiap individu, maka dewasa 
iini kiranya kita sudah didesak untuk segera melakukan pekerjaan “Therapie”, 
yang dalam konteks ini adalah dalam bentuk  monumen-monumen untuk mengenang 
penyiksaan, genosida 1965-1966 dan tempat pembuangan Pulau Buru. Atau 
menggunakan cara “Feedbeck” yaitu mencermati kembali sejarah masa silam, 
melihat kasahan-kesalahan yang serius terutama dalam bidang kemanusiaan untuk 
selanjutnya digunakan dalam menyusun perjalan baru untuk masa yang akan datang. 
Dengan “Feedbeck” kita akan sekaligus dapat melihat asal mulanya penyakit yang 
telah berjangkit dalam jiwa bangsa ini.  Usaha yang telah tertuangkan dalam 
Film Menyemai Terang dalam Kelam dan Kado Untuk Ibu adalah merupakan suatu  
usaha untuk mengetok pintu, bawah sadar dari setiap manusia supaya dapat
 membula kembali lembaran sejarah yang sudah tersimpan didalam bawah sadar 
secara kolektif,yang akan dapat membantu usaha untuk menuntaskan adanya konflik 
kesadaran bangsa Indonesia, yang sekaligus akan dapat menyembauhkan adanya  
paranoide symtomatik yang diderita oleh bangsa ini. Jika penomena paranoide ini 
sudah dapat diklenyapkan,maka akan mempunyai dampak besar dalam menggalang 
persatuan bangsa Indonesia demi kokohnya NKRI, dan akan menuju pada kehidupan  
bangsa yang aman tentram dan damai, untuk selanjutnya bisa menegakkan suatu 
masyarakat yang adil dan makmur.  Pekerjaan semacam ini sebenarnya adalah 
sepenuhnya tanggung jawab dari pemegang kekuasaan  negara, jadi jika pemegang 
kekuasaan negara ini memang iklas dan jujur ingin melihat persatuan bangsa 
Indonesia dan keberadaan NKRI secara kakiki, maka pekerjaan teraphi seperti 
yang dimaksud diatas dalam tulisan ini harus dilaksanakan. Tapi sayangnya 
kesadaran semacam ini masih sangat asing bagi elite-elite bangsa
 Indonesia. Inilah penomena bangsa Indonesia.
     
   Roeslan.
     
     
---------------------------------
  
  Von: Mira Wijaya Kusuma [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
 Gesendet: Sonntag, 10. Juni 2007 02:13
 An: Perhimpunan Dokumentasi Indonesia; Perhimpunan Islam Sosialis
 Betreff: FILEM DOKUMEN G30S 1965/1966: MENYEMAI TERANG dALAM KELAM 
   
    
     
     Menyemai terang dalam kelam 
   
    56 min - 8 jun. 2007
   
    ... dokumentasi tentang pelurusan sejarah dan pengembalian hak-hak  sipil 
kewarganegaraan tehadap orang-orang yang dituduh terlibat peristiwa g30s-pki. 
... 
   
  
 Kliq: http://video.google.nl/videosearch?q=Menyemai+Terang+dalam+kelam
 ATAU
 
http://video.google.nl/videoplay?docid=6795269810893768745&q=menyemai+terang+dalam+kelam
 
 
 Pengantar: 
 
 MENYEMAI TERANG dALAM  KELAM 
 
 Tragedi  Kemanusiaan 1965-1966, menyisahkan tidak hanya luka bathin, tetapi 
juga kisah-kisah pergulatan untuk tetap menjadi manusia dibawah penindasan 
militerisme sebagai ujung tombak Orde Baru.
 
 Sketsa-sketsa percik terang orang yang ditahan, dikejar-kejar, dan mereka yang 
ditinggalkan oleh orang tuanya, suaminya, istrinya, karena dipenjarakan atau 
dibunuh.  Seorang  penyair  mempertanyakan kepada jenderal-jenderal  tentang 
keabsahan sejarah yang mengandung fitnah. 
 Saksi mata bercerita tentang fitnah Tarian Harum Bunga dan Congkel mata di 
Lubang Buaya. Lukakah bathin seorang anak perempuan yang mencari bapaknya dari 
tempat tahanan ke tempat lainnya, lantas dipertontonkan dengan penyiksaan 
tahanan sampai  terkencing-kencing? 
 
 Kisah singkat seorang Ibu yang mengetahui suaminya sudah ditangkap dan ia 
sendiri termasuk daftar orang yang akan dibunuh, menggelandangkan diri dari 
satu kota ke kota lainnya agar tetap bisa hidup dan mengurus anaknya, kini 
telah menjadi manusia baru. 
 Seorang pekerja filem dalam rangka menghindarkan diri dari penangkapan 
terpaksa menjadi gelandangan agar dapat bertahan hidup sampai sekarang ini. 
Seorang intelektual telah bergulat hidup selama suaminya dipenjarakan  dan 
berhasil eksis. 
 Pengakuan salah seorang anak D.N. Aidit yang bertemu dengan Letjen Sarwo Edhi 
Wibowo, juga diungkapkan dalam filem ini. Masih banyak kisah-kisah lainnya 
seperti paparan seorang sejarahwan dan praktisi hukum. 
 
 Produksi:
 Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan
 Atas dukungan para Sahabat, YSIK, dan Ralawan Pekerja Filem dari Institut Kese


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






       
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke