Bos, maksud gw ke jaman Orba itu soal kebenaran adalah monopoli/dominasi
penguasa.. Klo soal mistik, paha & dada, emangnya di sini sekarang gak
marak? :-p
Alhamdulillah, berkat pintu reformasi kita nikmati pintu 'kebebasan'
informasi, yang
tidak seketat dulu.. cuma emang ada juga yang 'numpang lewat'.. ya itu
tadi..
mistik, paha & dada.. halah.. kaya' yang gak doyan aja.. :-P

Inilah pentingnya sikap kritis terhadap info di media massa.. seperti yang
sering
Bang Farid sampaikan di milis lain.. soal verifikasi pihak media massa.. :-)
Kalau istilah saya, kita perlu jeli melihat suatu 'info'.. apakah itu yang
sebenarnya,
atau cuma 'Klaim & seolah-olah' saja..

Darimana bisa tahunya itu? Mungkin feeling (yang terbiasa/terlatih) bisa
sebagai
awal.. plus info dari orang" yang tahu kondisi lapangan.. dengan kata lain,
para jurnalis,
bahkan mungkin dari kalangan 'orang dalam' juga.. :-) Open mind mungkin
salah satu
pintu/jawabannya melihat sisi lain suatu 'info' yang dicitrakan sebagai
fakta..
tapi bukan ekstrim free/closed mind juga..

Sorry kalau omongannya banyak ngaco.. Hehehe..
CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 6/25/07, Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> justeru di zaman orba media massa sulit menulis berita yang benar,
> jadi salah sendiri kalau percaya media saat itu.
>
> para awak redaksi menulis dengan ketakutan karena ancaman
> sensor pemerintah.
>
> banyak berita tak bisa dimuat karena ancaman itu.
>
> media massa kita di zaman orde baru seperti media massa di
> singapura dan malaysia sekarang. isinya berita tentang
> negara lain, mistik/tahayul dan sekitar paha dan dada.
>
>
> At 03:05 PM 6/25/2007, you wrote:
>
> >Ya deh yang lebih paham soal begituan.. :-)
> >Ini sekedar kutipan dari milis lain..
> >
> >Apa iya, yang boleh kasih komentar cuma (mantan) pelaku (mis: Umar Abduh)
> >atau pengamat intel(ijen) yang disorot siaran tv saja?
> >
> >Publik (harus) percaya mentah" apa yang disampaikan di media massa?
> >Kita mau dibalikkin lagi ke jaman ORBA, apa?
> >CMIIW..
> >
> >Wassalam,
> >
> >Irwan.K
> >
> >"..
> >izinkan saya memberi informasi (bukan menjawab mbak siska--gak berani
> ilmune
> >sek cetek)
> >tentang fase yang sangat menentukan dalam mengubah JI, apakah fatwa osama
> >atau intelijen.
> >Informasi saya: Ketika bom Bali meledak, polisi melakukan pekerjaannya di
> >TKP.
> >(Saat itu banyak isu, misalnya Hendropriyono sedang ada di Bali dls).
> Ketika
> >polisi bekerja,
> >saya bersama Badan Intelijen Negara (BIN) melakukan perburuan teroris
> >(bersama Sukma,
> >Tempo). Intinya bukan pada perburuan dan hasilnya. Tetapi, dalam daftar
> BIN,
> >nama-nama
> >'teroris' yang kita kenal sekarang ini sudah saya dapatkan pada saat itu,
> >kecuali Amrozi
> >(paling tidak orang-orang topnya)... penafsiran saya: daftar panjang
> teroris
> >itu telah ada.
> >juga organnya, sistem komandonya, cara kerjanya, wilayahnya, dan
> tujuannya
> >(motif, kata
> >mas farid).
> >
> >mengapa polisi harus dari TKP? Polisi dan TNI telah berpisah. Polisi dan
> TNI
> >(BIN) kemudian
> >sama-sama mencari nama, pengaruh, jaringan politik, dan 'power.' pendapat
> >saya: waktu itu,
> >sedang terjadi perlombaan antara BIN, TNI, dan Polisi dalam 'mengungkap'
> >aksi teror.
> >suplai informasi BIN ke polisi kadang dipakai, tapi banyak gak
> >dipakainya---ketika investigasi
> >kasus bom Bali dipegang Mangku Pastika. tetapi, Mangku tidak bisa
> berkutik
> >ketika disodori
> >bukti jaringan, sistem organ, dll. Sederhananya: Mangku memang berangkat
> >dari TKP.
> >Tetapi, BIN telah memberikan "Benang Merahnya."
> >
> >Dari mana BIN memegang benang merah itu?Ingat, HP bekas komandan pasukan
> >Garuda Hitam
> >di Lampung. Peristiwa Lampung, komando jihad, pembajakan pesawat garuda
> >(Umar Abduh dkk),
> >dll merupakan 'akar sejarah' yang tidak bisa dipisahkan dari buku hitam
> BIN
> >(BIA, BAKIN, ORBA
> >plus bagaimana ORBA meradikalisasi organ-organ itu untuk menghanjurkan
> organ
> >lainnya atau
> >menciptakan organ baru dengan tender-tender
> baru--politik-kekuasaan-materi).
> >
> >Ibaratnya begini: Jika ada ledakan bom, tinggal buka buku saja: siapa
> >melakukan apa dan
> >jaringannya siapa, lalu kapan dijemput. Sejak Mangku menyelesaikan
> tugasnya
> >di bom Bali I,
> >kerja polisi (Densus 88) lebih ditentukan oleh buku biru BIN. mengapa?
> >Garisnya jelas, yang diubek-ubek ya jelas, ya itu-itu saja. Namun, Densus
> >juga tidak bodoh.
> >Dia juga punya informasi lapangan yang mungkin tidak dipunyai BIN. Ini
> hanya
> >soal variasi
> >orang atau plus-minuslah. Intinya tetap: benang merahnya ada kok tinggal
> >dijemput bila ada
> >order.
> >
> >maaf bila salah
> >
> >sekian
> >terima kasih
> >.."
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke