salam,

dari awal tulisan luthfi hingga akhir tulisannya, saya tak menemukan 
ide-idenya yang cemerleng untuk membasmi tindakan terorisme. yang 
ada adalah kecaman luthfi thdp sikap org-org yang menaruh simpati 
pada tindakan osama bin laden cs, yang kemudian bagi lufthi dianggap 
teroris. saya kira sikap lufhti sama saja dengan sikap org-org yg 
mengirimkan email di beberapa milis islam tsb dimana mereka mengecam 
kebrutalan polisi saat menangkap abu dujana. lutfhi kayaknya terlalu 
percaya bahwa islam yang benar menurut gusdur adalah yang sepenuhnya 
benar dan islam yang salah menurut gusdur adalah islam yang 
sepenuhnya salah pula, padahal, bagi saya belum tentu apa yang 
dibilang benar oleh gusdur itu adalah 100% benar. gusdur juga 
mungkin untuk keliru dalam mengartikan islam, dan tak ada jaminan 
apa yang dikatakan gusdur itu adalah benar semuanya.

saya berpendapat bahwa benar osama cs adalah teroris bagi amerika 
dan sekutu-sekutunya, sebaliknya, saya juga percaya bahwa amerika 
dan sekutu-kutunya adalah teroris bagi islam. karena itu, sesama 
teroris dilarang menteror. bila kubu osama cs dan amerika tidak 
saling menteror, maka dengan izin Allah, hidup kita di dunia ini 
akan aman, bisa hidup saling bergandengan tangan.

mbak listy, mbak ida, ustadzah iin, atau bu henny ada komentar lain? 
silakan....

wassalam,

izam -
yang sdg merindui kiriman ikan sardin.


--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Membaca artikel Luthfi dari alinea atas sampai paling bawah kok 
saya tidak menemukan kata "BODOH" ya, atau berkesimpulan seperti 
itu. Walau mungkin kata itu tak tersurat, kata "salah" tak musti 
dimaknai dengan "bodoh", sebaliknya kata "benar" tak musti dimaknai 
dengan "pandai" atau "pintar". Banyak orang yang diakui pintar di 
satu bidang atau lebih tapi kerap melakukan kesalahan. Contohnya, 
begitu banyak orang yang bergelar sarjana bahkan menyandang gelar 
doktor bin jendral, tapi rajin melakukan KKN. Juga Azahari yang 
bergelar doktor tapi jadi teroris karena ingin masuk surga ditemani 
32 bidadari. Bukankah itu berarti orang pintar yang melakukan 
tindakan yang salah? 
>    
>   Sebaliknya, banyak pula orang yang dicap  bodoh - tak berilmu 
dan tak pernah makan sekolah - tapi bisa saja ia meniti di jalan 
yang benar.  Contohnya mungkin orang Badui dan Tengger, walau mereka 
mungkin buta huruf tapi berperilaku jujur. Mereka begitu mencintai 
alam dimana mereka tinggal, tak hidup sembarangan seperti orang-
orang berpendidikan formal yang menebang hutan seenaknya sehingga 
malah menciptakan bencana demi bencana. Secara umum, banyak orang 
bisa menilai bahwa mereka orang yang benar. 
> 
>   Memang, kita tak bisa 100% mempercayai polisi. Di tubuh 
kepolisian pun - ada good cop dan ada bad cop - seperti kerap 
ditayangkan di film-film Hollywood dan Bollywood. Tak hanya di 
POLRI, di lembaga-lembaga lain milik Pemerintah pun banyak kotornya. 
Itu karena ulah para birokrat yang mempermainkan sistem tata kelola, 
yang dibiarkan oleh rezim Soeharto selama berpuluh-puluh tahun 
lamanya. Untuk merombak total memang harus dengan revolusi damai 
(tanpa tetesan darah), tapi bukan dengan jihad Islam baik yang 
terang-terangan maupun terselubung (baca: merangkak), karena akan 
membuat negeri ini jadi kian kacau balau. Tapi kalau ada sebagian 
orang membenarkan jihad  demi tegaknya Syariat Islam, ya monggo. 
Kalau NKRI pecah  menjadi beberapa negara kecil, kita juga bakalan 
tak dapat apa-apa toh? 
>    
>    
>   
> Farid Gaban <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Salam,
> 
> Di bawah ini saya posting tulisan Luthfi Assyaukanie (peneliti 
Freedom
> Institute dan aktivis Jaringan Islam Liberal) berkaitan dengan
> penangkapan Abu Dujana.
> 
> Tulisan Luthfi ini ingin mengatakan bahwa orang yang tidak mengikut
> polisi, tidak percaya polisi, adalah mereka yang "bersimpati pada
> teroris".
> 
> Muslim yang mempertanyakan tindakan dan klaim polisi, mengikuti 
logika
> Luthfi, adalah Muslim yang BODOH karena tidak bisa membedakan 
antara
> Islam yang benar dari Islam yang salah.
> 
> Saya merasa bersyukur menjadi Muslim yang bodoh dalam definisi 
Luthfi
> ini. Alhamdulillah....
> 
> Farid Gaban
> (Tulsian Luthfi ada di bawah ini)
> 
> Koran Tempo | Selasa, 26 Juni 2007
> 
> Islam Benar Versus Islam Salah
> 
> Oleh Luthfi Assyaukanie
> (Peneliti Freedom Institute, Jakarta)
> 
> Pada akhir 2005, mantan presiden Abdurrahman Wahid menulis sebuah
> artikel di Wall Street Journal dengan judul seperti di atas ("Right
> Islam Versus Wrong Islam"). 

Kirim email ke