Yang dimaksud Ronggowarsito dengan zaman edan itu adalah zaman yang dialami
oleh Ronggowarsito sendiri.
Pada zaman itu, korupsi sudah mulai ada di kalangan para pejabat kraton.
Jadi itu bukan ramalan.
Hanya saja, zaman edan sekarang ini lebih gila daripada zaman edannya
Ronggowarsito dahulu.
Harry Adinegara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Puji ke Ronggowarsito, sampeyan telah menyelamatkan aku si ikan kecil ini
dari malapetaka.
Kenapa tidak........? Beberapa tahun lalu aku diajak ber-mitra oleh konco-ku
untuk membangun perkebunan, rencananya perkebunan segala macam buah2an di
Indonesia. Sudah di diskusikan tempat2 mana yang dengan mudah bisa akses dengan
mempertimbangkan jarak tempat tinggal dan perkebunan.
Tapi sekarang membaca adanya ramalan Ronggowarsito yang bilang kalau
sebenarnya Indonesia saat ini sudah memasuki era-nya negara yang di-urus dan di
huni oleh orang2 edan.Maka tak berlebihanlah kalau aku bilang betapa
untungnya aku tidak ikut2an ber-mitra edan2nan di Indonesia.
Rupanya kalau aku bilang kalau negara kita sudah dalam keadaan deldel duwel
itu rupanya masih ringan ketimbang Ronggowarsito yang bilang negara Indonesia
negaranya orang edan.
Apa bisa sembuh ya kalau orang sudah edan selama 62 tahun-nan lebih ?
Sekarang dua golongan orang edan sedang ber-silaturahmi. Tujuannya untuk
memenangkan pemilu orang2 edan di tahun 2009. Gawat bener nih. Bila sampai
kesampaian tujuan ini, kedua golongan besar orang edan berkuasa maka sudah
tamatlah negara ini. Dua golongan yang sudah berstatus sebagai golongan edan
tingkat gawat bermitra mengurus negara deldel duwel.
Terima kasih Ronggowarsito, puji2ku kepadanya!
Harry Adinegara
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html
Tandatanda Ramalan Ronggowarsito
Oleh
Benny Susetyo PR
Melihat fenomena sosial akhir-akhir ini bisa dikatakan saat ini kita berada di
zaman yang tidak normal (abnormal). Kalau mengikuti ungkapan Ronggowarsito,
akan
datang satu zaman yang disebut sebagai zaman edan, benarkah saat ini kita sudah
berada di zaman itu? Di zaman edan siapa yang tidak edan tidak kebagian.
Orang waras dianggap tidak waras, tapi penjahat negara dianggap sebagai
pahlawan. Walaupun begitu, menurut Ronggowarsito, sebaik-baik orang di zaman
edan adalah mereka yang ingat dan waspada (eling lan waspadha).
Di zaman abnormal, semua akan berkebalikan dengan yang normal. Jika normalnya
di negeri tani sesubur Indonesia, masyarakatnya tidak antre beras dan minyak
goreng, maka di zaman tidak normal bahkan masyarakat tani pun antre beras.
Di zaman tidak normal, semua serba tidak jelas ukuran kemajuannya. Ukuran yang
dipakai adalah ukuran dari dirinya sendiri. Perilaku tidak obyektif karena
tergantung dari selera pasar. Kalau pasar sedang berselera hidup antikorupsi,
maka semua orang akan berbicara antikorupsi meskipun perilakunya sendiri
sungguh-sungguh korup.
Tanda-tanda zaman seperti ini sudah mulai
menjadi wajar. Ikatan kesejatian tidak lagi menjadi bagian hidup dalam
menciptakan kebersamaan. Kesejatian hidup meluntur seiring dengan menguatnya
hasrat orang untuk berjuang demi dirinya sendiri.
Egoisme manusia mengalahkan semua perasaan senasib dan seperjuangan. Kita
dididik dalam situasi di mana aku mengalahkan maka aku ada. Siapa kalah siapa
menang. Siapa kamu siapa aku. Sapa sira sapa ingsun. Solidaritas yang terbentuk
merupakan solidaritas semu, karena terbentuk bukan sikap saling menghargai
sesama (kemanusiaan) melainkan aspek kepentingan praktis.
Kecenderungan yang terjadi dalam perekonomian bangsa ini juga merupakan
kesemuan belaka. Pertumbuhan ekonomi katanya meningkat, anehnya tidak mampu
mengurangi pengangguran terus meningkat, dan daya beli dan hidup rakyat yang
semakin lemah. Katanya angka kemiskinan berkurang, nyatanya kehidupan rakyat
semakin sengsara akibat ketahanan hidup yang makin melemah.
Tidak Jelas
Modus kriminalitas yang
semakin bervariasi akhir-akhir ini, lihatlah, sering disebabkan oleh
masalah-masalah harga diri sepele. Anak membunuh orang tua, orang tua
membunuh anak, sesama saudara sekandung saling berbunuhan. Semakin ngeri
melihat fenomena sosial seperti ini. Jika demikian, sudah tepatlah ramalan
Ronggowarsito tentang zaman edan itu.
Pertumbuhan ekonomi semakin menaik tetapi tak mampu menetes ke bawah untuk
orang miskin. Orang miskin semakin tak berdaya menghadapi beban hidup yang
terus meningkat. Semua kegemilangan itu seolah-olah hanya menjadi hak tidak
lebih dari 2 persen penduduk, dan yang 98 persen itu hidup dalam himpitan
krisis yang begitu dahsyat.
Logika akal sehat kita sudah tidak bisa memahani mengapa hal ini dianggap
wajar. Logika keadilan kita runtuh. Semangat hidup bersama dalam suasana
keadilan tidak lagi menjadi bagian dari cara berpikir, bertindak dan bernalar.
Semua serba dibuat tidak jelas aturan mainnya. Semua dipermainkan oleh logika
politik yang hanya
mengejar setoran. Seolah-olah ada namun tiada dan sebaliknya.
Politik berada di bawah bayang-bayang kekuasaan para pemodal hitam. Mereka
bekerja begitu licin sampai tidak terungkap gerak-geriknya, walau semua orang
merasakan kekuatannya. Publik mampu mencium bau tidak sedap di mana orang-orang
dalam kekuasaan bermain dengan jurus lobi-lobi. Semua tidak terlihat, tapi
nyata ada.
Pemberantasan korupsi katanya menjadi inti reformasi, nyatanya di era
reformasi orang berkorupsi justru makin banyak dan makin canggih cara-caranya.
Hal-hal seperti inilah yang membuat orang yang normal menjadi stress. Mereka
selalu bertanya mengapa harus terjadi seperti ini.
Mereka berpikir bahwa seharusnya hukum, politik, pendidikan, ekonomi, budaya,
media dan lainnya seperti ini, nyatanya seperti itu. Paradoks-paradoks seperti
inilah yang terjadi di zaman abnormal, atau mungkin zaman edan seperti kata
Ronggowarsito.
Berharap pada Institusi
Ujian nasional yang jelas-jelas
melanggar undang-undang
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html
Tandatanda Ramalan Ronggowarsito
Oleh
Benny Susetyo PR
Melihat fenomena sosial akhir-akhir ini bisa dikatakan saat ini kita berada di
zaman yang tidak normal (abnormal). Kalau mengikuti ungkapan Ronggowarsito,
akan
datang satu zaman yang disebut sebagai zaman edan, benarkah saat ini kita sudah
berada di zaman itu? Di zaman edan siapa yang tidak edan tidak kebagian.
Orang waras dianggap tidak waras, tapi penjahat negara dianggap sebagai
pahlawan. Walaupun begitu, menurut Ronggowarsito, sebaik-baik orang di zaman
edan adalah mereka yang ingat dan waspada (eling lan waspadha).
Di zaman abnormal, semua akan berkebalikan dengan yang normal. Jika normalnya
di negeri tani sesubur Indonesia, masyarakatnya tidak antre beras dan minyak
goreng, maka di zaman tidak normal bahkan masyarakat tani pun antre beras.
Di zaman tidak normal, semua serba tidak jelas ukuran kemajuannya. Ukuran yang
dipakai adalah ukuran dari dirinya sendiri. Perilaku tidak obyektif karena
tergantung dari selera pasar. Kalau pasar sedang berselera hidup antikorupsi,
maka semua orang akan berbicara antikorupsi meskipun perilakunya sendiri
sungguh-sungguh korup.
Tanda-tanda zaman seperti ini sudah mulai
menjadi wajar. Ikatan kesejatian tidak lagi menjadi bagian hidup dalam
menciptakan kebersamaan. Kesejatian hidup meluntur seiring dengan menguatnya
hasrat orang untuk berjuang demi dirinya sendiri.
Egoisme manusia mengalahkan semua perasaan senasib dan seperjuangan. Kita
dididik dalam situasi di mana aku mengalahkan maka aku ada. Siapa kalah siapa
menang. Siapa kamu siapa aku. Sapa sira sapa ingsun. Solidaritas yang terbentuk
merupakan solidaritas semu, karena terbentuk bukan sikap saling menghargai
sesama (kemanusiaan) melainkan aspek kepentingan praktis.
Kecenderungan yang terjadi dalam perekonomian bangsa ini juga merupakan
kesemuan belaka. Pertumbuhan ekonomi katanya meningkat, anehnya tidak mampu
mengurangi pengangguran terus meningkat, dan daya beli dan hidup rakyat yang
semakin lemah. Katanya angka kemiskinan berkurang, nyatanya kehidupan rakyat
semakin sengsara akibat ketahanan hidup yang makin melemah.
Tidak Jelas
Modus kriminalitas yang
semakin bervariasi akhir-akhir ini, lihatlah, sering disebabkan oleh
masalah-masalah harga diri sepele. Anak membunuh orang tua, orang tua
membunuh anak, sesama saudara sekandung saling berbunuhan. Semakin ngeri
melihat fenomena sosial seperti ini. Jika demikian, sudah tepatlah ramalan
Ronggowarsito tentang zaman edan itu.
Pertumbuhan ekonomi semakin menaik tetapi tak mampu menetes ke bawah untuk
orang miskin. Orang miskin semakin tak berdaya menghadapi beban hidup yang
terus meningkat. Semua kegemilangan itu seolah-olah hanya menjadi hak tidak
lebih dari 2 persen penduduk, dan yang 98 persen itu hidup dalam himpitan
krisis yang begitu dahsyat.
Logika akal sehat kita sudah tidak bisa memahani mengapa hal ini dianggap
wajar. Logika keadilan kita runtuh. Semangat hidup bersama dalam suasana
keadilan tidak lagi menjadi bagian dari cara berpikir, bertindak dan bernalar.
Semua serba dibuat tidak jelas aturan mainnya. Semua dipermainkan oleh logika
politik yang hanya
mengejar setoran. Seolah-olah ada namun tiada dan sebaliknya.
Politik berada di bawah bayang-bayang kekuasaan para pemodal hitam. Mereka
bekerja begitu licin sampai tidak terungkap gerak-geriknya, walau semua orang
merasakan kekuatannya. Publik mampu mencium bau tidak sedap di mana orang-orang
dalam kekuasaan bermain dengan jurus lobi-lobi. Semua tidak terlihat, tapi
nyata ada.
Pemberantasan korupsi katanya menjadi inti reformasi, nyatanya di era
reformasi orang berkorupsi justru makin banyak dan makin canggih cara-caranya.
Hal-hal seperti inilah yang membuat orang yang normal menjadi stress. Mereka
selalu bertanya mengapa harus terjadi seperti ini.
Mereka berpikir bahwa seharusnya hukum, politik, pendidikan, ekonomi, budaya,
media dan lainnya seperti ini, nyatanya seperti itu. Paradoks-paradoks seperti
inilah yang terjadi di zaman abnormal, atau mungkin zaman edan seperti kata
Ronggowarsito.
Berharap pada Institusi
Ujian nasional yang jelas-jelas
pendidikan (yang dahulu dibela mati-matian) justru dilakukan. Amendemen
konstitusi tidak
elit politik. Tetapi mereka tidak memiliki telinga untuk mendengar jeritan itu.
Telinga mereka tersumbat oleh aliran modal. Mulut mereka tidak lagi bisa
menyuarakan hati nurani karena sudah tergadai oleh kepentingan uang.
Inilah yang membuat korupsi bertumbuh subur. Korupsi di Republik ini
seolah-olah dijamin oleh hukum. Tentu hukum yang tidak normal. Orang yang
normal berteriak-teriak, Tegakkan hukum!, dan yang mau ditegakkan tidak mau
menegakkan dirinya sendiri. Kita berada dalam hidup yang penuh dengan
kebuntuan. Kita buntu berpikir mengenai kesejatian hidup.
Kini yang ada hanya harapan yang penuh kepalsuan. Ini zaman yang tidak normal
di mana yang normal dianggap tidak normal, dan yang tidak normal dianggap
sebagai normal. Kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita hidup di zaman yang
tidak normal, tetapi terus-menerus berpikir seperti orang normal.
Penulis adalah pendiri Setara Institute dan Sekretaris Komisi HAK KWI.
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages
---------------------------------
Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on
all webmail accounts. Find out more.
---------------------------------
Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on all
webmail accounts. Find out more.
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo!
FareChase.
[Non-text portions of this message have been removed]