> > >Jumat, 29 Juni 2007 >Kebangsaan >Muslim di Indonesia Ramah dan Menyenangkan >Jakarta, Kompas - Kalangan muda Muslim Australia menilai kehidupan >Muslim Indonesia ramah dan menyenangkan. Kesan itu diperoleh setelah >mereka datang ke Jakarta dan bertemu dengan sejumlah intelektual >Muslim Indonesia. Sebelumnya, Muslim Australia mempunyai pemahaman >bahwa Muslim Indonesia sama dengan Muslim di Timur Tengah. >Hal ini disampaikan Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan di >Jakarta, Kamis (28/6), usai bertemu enam pemimpin muda Muslim Australia. >Anies menjelaskan, hubungan antara Barat dan Islam harus dilihat >dalam dua lokus penilaian. Pertama, hubungan antara dunia Barat dan >masyarakat Muslim dari Maroko sampai Maluku. Hubungannya selalu jadi >perhatian dunia. "Potret hubungannya masih belum menyenangkan karena >ada unsur kepentingan politik luar negeri dari negara Barat terhadap >negara berpenduduk mayoritas Muslim," ujarnya. >Namun, menurut Anies, dunia Barat sering melupakan lokus kedua, >yaitu komunitas Muslim yang ada di dalam dunia Barat itu sendiri. >"Potretnya secara umum mungkin lebih baik karena mereka bisa hidup >dalam lingkungan yang menghargai hak asasi manusia, dan perhatian >utama HAM pada kaum minoritas," ujarnya. >Pada kesempatan berbeda, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia >Saiful Mujani saat meluncurkan bukunya yang berjudul Muslim Demokrat >mengatakan, Muslim Indonesia lebih mampu menerima demokrasi sebagai >sistem berbangsa dan bernegara dibandingkan masyarakat Islam di >negara lain. Sejarah kehadiran Islam di Nusantara yang akomodatif >terhadap keragaman suku, budaya, membuat demokrasi dapat diterima >Muslim Indonesia dengan segala kekurangan dan kelebihan. (mzw/mam) > >
[Non-text portions of this message have been removed]

