Saya sendiri tidak tahu persis kenapa perbedaan/pembedaan itu terjadi. Saya sih ikutan semuanya. Mulai dari IMSA (Indonesian Moslem Student Association), Kuli Dollar, pengajian Philly, dan lainnya. Tapi memang nuansa yang saya rasakan di dalamnya berbeda. Mungkin pembedaan itu terjadi karena status utama mereka di AS. Karena kalau student, misalnya, kan hanya boleh kerja resmi maksimal 20 jam. Itupun perlu ijin rumit. Yang jelas, kalau ikut IMSA harus direkomendasikan oleh paling sedikit 2 anggota dan setelah 6 bulan keanggotaan baru boleh merekomendasikan orang lain. Diskusi di IMSA pun lebih serius, kadang tegang saking seriusnya kalau para doktor sudah bicara. Tapi Kuli dollar dan lainnya lebih cair, karena bukan organisasi resmi dan berbadan hukum seperti IMSA. Diskusi di Kuli biasanya soal pekerjaan, piknik bersama, aksi sosial, dll.
Bisa juga kelompok2 itu terjadi karena faktor kenyamanan saja. Orang Banyuwangi misalnya punya pengajian sendiri pakai bahasa Banyuwangi. Orang sunda juga punya sendiri. Saya pribadi sih selalu ikut kalau diajak/diundang. Dan saya merasa nyaman ikut semua kelompok itu (meski kadang nggak ngerti percakapan mereka). Tapi beberapa teman saya merasa tak nyaman, dan saya bisa mengerti alasan mereka. Oiya, ada juga perkumpulan lintas agama seperti Phila peduli atau Indo Phila dan saya ikutan juga, dan merasa nyaman juga. Jadi mungkin tergantung pribadi masing-masing. Salam, Indah Riza Satria <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Setuju sama Pak Ikhsan.. Saya sebagai student juga kerja.. pernah jadi cleaning service, penjaga malam, dari bersih2 kantor sampai kakus.. hehehhe.. sekarang Alhamdulillah agak santai sedikit, menjadi tutor bahasa inggris.. FYI di Korea Selatan (dimana saya melanjutkan study sekarang), since jumlah Masjid sangat sedikit, dan jumlah pelajar jauh lebih kecil dari pada jumlah TKI, disini sudah sangat lama terjalin hubungan yang sangat erat.. Jangankan Pengajian, biasanya kalau saya ada kesulitan, saya banyak berkonsultasi dengan para TKI disini yang sudah banyak makan asam garam.. rata2 pengajian disini diadakan tiap minggu di setiap mesjid.. Kalau di UK, ada yang namanya KIBAR (Keluarga muslim Britania raya) yang terdiri dari Pelajar, TKI (kerennya ekspatriat) dan Indonesian yang menikah dengan locals.. KIBAR memiliki chapter2 disetiap kota yang menyelenggarakan pengajian dwi mingguan.. dan tiap tahunnya, menyelenggarakan gathering untuk seluruh keluarga kibar setidaknya 2 kali.. gathering tidak hanya diisi pengajian, tapi juga pesantren anak, workshop dan sebagainya.. Jadi sebenarnya saya pribadi belum pernah merasakan ada perbedaan kelas diantara orang Indonesia di luar negeri.. Semoga infonya bermanfaat.. Salam hangat, Riza Masan, KR On 29/06/07, Mohamad Ikhsan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Emang ada bedanya? Apa bukannya student biasanya juga jadi TKW/I di LN? > > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, indah > nuritasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Mas Muchtarom, > > > > di Philly pengajian "antar kelas" seperti ini bukan hal baru lagi. > Begitu juga di DC dan sekitarnya. Malah ada perkumpulan namanya Kuli > Dollar yang rajin membuat pengajian, dan kadang gabung dengan pihak > Konjen New York City. Memang sih ada beberapa student yang sikap dan > gayanya "agak tinggi" tapi ya kalau ketinggian kan repot sendiri. > Lagipula yang kuli itu bukan berarti economic statusnya lebih rendah > lho, malah sering mereka ber-dollar lebih banyak dari yang student > atau profesional. Tanya saja sama Bung Ikra kalau tidak percaya. > > > > salam, > > > > Indah > [Non-text portions of this message have been removed] test'; "> --------------------------------- Sucker-punch spam with award-winning protection. Try the free Yahoo! Mail Beta. [Non-text portions of this message have been removed]

