http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=5792&c_id=21&g_id=25

Senin, Jul 02, 2007 12:24
Pasca pengibaran bendera RMS
Setelah Benang Raja, ada Bintang Kejora
- Redaksi Berpolitik.com
           
            Yusak Pakage HRW 
     
Berpolitik.com:: Setelah pengibaran bendera Republik Maluku Selatan (RMS) yang 
membuat kepanikan, pada Minggu (01/07) siang, bendera Bintang Kejora berkibar 
di tanah Papua.

Menurut sumber Berpolitik.com di Papua, pengibaran bendera terjadi sekitar 
pukul 13.45 WIT, di lapangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura, Papua. 
Berawal dari gagalnya rencana jumpa pers antara para tahanan politik penghuni 
LP Abepura dengan sejumlah wartawan, dalam rangka syukuran 1 Juli. 

Tanpa alasan jelas, dengan serta-merta pihak lembaga pemasyarakatan melarang 
jumpa pers tersebut. ''Bahkan pihak LP memerintahkan para wartawan keluar dari 
LP Abepura,'' kata sumber tadi kepada Berpolitik.com. Melihat perlakuan para 
aparat LP, Ketiga tahanan politik (tapol), Yusak Pakage, Simson Wenda dan 
Cosmos Yual (kasus 16 Maret), kemudian melakukan aksi dengan naik ke atas LP. 
Bendera Bintang Kejora pun berkibar selama lima menit.

Petugas LP kemudian segera menurunkn bendera tersebut, untuk kemudian 
menahannya sebagai barang bukti. Hingga saat ini masih belum diketahui dari 
mana bendera Bintang Kejora berasal. Namun sumber Berpolitik menyatakan bahwa 
di Papua, hampir sebagian besar warganya memiliki dan menyimpan bendera 
kebanggan mereka. Juga masih belum diperoleh keterangan, apakah para pelaku 
ditahan atau dimintai keterangan oleh petugas LP.

Yang pasti, Yusak Pakage adalah tahanan politik (tapol) yang ditangkap aparat 
keamanan sejak 2 Desember 2004, bersama rekannya Filep Karma, seorang pegawai 
negeri sipil berusia 45 tahun. Pada saat ditahan, Pakage masih berstatus 
mahasiswa berusia 26 tahun. Di Papua, keduanya adalah tapol yang paling 
terkenal saat ini.

Aktivis politik

Cerita berawal saat Karma dan Pakage didakwa melakukan makar dan dianggap 
memberontak, sehari setelah ratusan mahasiwa berkumpul di Universitas 
Cendrawasih di Jalan Sentani, Abepura Jayapura, Papua. Ratusan mahasiswa 
kemudian melakukan long march sambil meneriakkan kata-kata 'Papua' dan 
'kemerdekaan!'. Teriakan-teriakan mereka juga mengajak untuk menolak 
Undang-Undang Otonomi Khusus, dan meminta 'pemisahan Papua dari Indonesia'.

puncak perayaan perayaan tersebut digelar di Lapangan Trikora di Abepura, 
disertai berbagai pidato politik dari sejumlah tokoh masyarakat dan mahasiswa, 
doa-doa, serta atraksi tarian tradisional. Dalam perjalanannya, beberapa orang 
dalam kerumunan mengibarkan bendera Bintang Kejora.

Oleh beberapa saksi, seperti dilansir Human Rights Watch, mencatat bahwa selama 
pidato-pidato berlangsung, suasana masih tenang. Namun pada saat bendera 
Bintang Kejora dikibarkan, kekerasan mulai terjadi. Sejumlah saksi yang 
tertuang dalam surat dakwaan terhadap Karma menyatakan bahwa pengibaran bendera 
tersebut bersifat spontan dan bukan merupakan tindakan terorganisir.

Ketika polisi berusaha menurunkan bendera secara paksa, bentrokan tak 
terelakkan. Kerumunan massa kemudian menyerang polisi dengan kayu, batu, dan 
botol. Polisi menanggapi dengan menembaki ke arah kerumunan massa. Seperti 
diberitakan Cenderawasih Pos, dalam bentrokan tersebut, lima warga sipil 
mengalami luka-luka. Beberapa diantaranya mengalami luka tembak. Sedang dari 
pihak kepolisian, delapan anggotanya mengalami luka-luka. 

''Saat bendera Bintang Kejora dikibarkan, saya sedang berdiri dengan memegang 
megaphone dan berkoordinasi dengan polisi setempat. Saya tidak tahu siapa yang 
membawa bendera tersebut atau mengibarkannya. Saya berdiri di antara polisi dan 
massa, sementara polisi sedang menembaki ke arah kerumunan. Dan kerumunan massa 
sendiri sedang melemparkan batu ke arah polisi. Saya berusaha mengendalikan 
situasi agar kedua belah pihak tetap berhati dingin. Namun tiba-tiba megaphone 
yang saya pegang hancur terkena peluru,'' kata Pakage ketika menggambarkan apa 
yang terjadi pada perayaan tersebut beberapa tahun silam.


Di luar perkiraan

Sementara itu, terkait dengan pengibaran bendera RMS pada peringatan Hari 
Keluarga Nasional ke-14 di Lapangan Merdeka, Ambon yang dihadiri Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu, Kapuspen TNI Marsekal Muda Sagom 
Tamboen menyebutkan sebagai peristiwa yang terjadi di luar perkiraan. Pasukan 
Pengamanan Presiden (Paspampres) yang didukung unsur TNI dan Polri, saat itu 
lebih memperhatikan pengamanan fisik. 

Artinya, insiden pembentangan bendera RMS oleh pemuda yang melakukan tarian 
Cakalele (tarian perang) untuk membentangkan bendera RMS adalah sungguh di luar 
dugaan. Sedangkan pengamanan fisik dimaksud, berkait dengan kemungkinan adanya 
masyarakat yang membawa senjata tajam dan benda- benda berbahaya lainnya.

Kapuspen berharap, insiden pembentangan bendera RMS tidak ditarik ke wilayah 
politik, karena misi pendukung RMS akan berhasil jika insiden itu bergerak ke 
wilayah politik. "Belajar dari kasus itu, kita akan lebih cermat lagi di masa 
mendatang," katanya. 

Pastinya, sejauh ini pemerintah belum memberikan klarifikasi resmi berkait 
dengan pengibaran bendera RMS di Lapangan Merdeka, Ambon. (*) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke