Hehehehe,
Teroris memiliki dua supit untuk mencapai tujuannya: 'rule others by fears'

   1. Aksi teror ('hard ware') ini merupakan metode yang paling mendasar,
   biasanya dengan bom, pembunuhan, atau kekerasan lainnya
   2. Aksi opini-pembenaran ('soft ware') ini merupakan metode yang
   merupakan alih-alih untuk membuat orang mengalihkan opininya ke hal-hal yang
   dimauinya, dasarnya macam-macam, mulai dari agama hingg ketidakadilan sosial

Nah, teroris akan menang bila kita sudah pada tahap 'accepting-fears'
sehingga menjadi phobia. Tahap ini terjadi biasanya karena dikompori, baik
yang bersifat mendukung maupun yang kontra.
Untuk yang kontra, bila tidak tepat jawabannya justru menjadi bensin
pengobar api bagi pendukungnya. Salah satunya adalah tulisan yang disadur
Oom Don ini. ketika Si ABB menjadikan dalilnya agama, seharusnya si Novri
menjawabnya pun dengan akar utama agama, sehingga kesannya akan jauh lebih
pas. Karena kalau membaca tulisan si Novri ini cenderung emosional dan
menjadi seolah-olah sentimen pribadi, sehingga kalau dibaca oleh orang yang
berpikiran yang searus dengan ABB, malah kontraproduktif.
Ya nggak?
DG


On 7/8/07, RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Terorisme atau Kontraterorisme?
> Oleh Novriantoni
> 02/07/2007
>
> Karena itu, jika opini Baasyir selalu kita perhitungkan, upaya
> pemberantasan terorisme mungkin saja akan terhambat. Dan, bukan
> mustahil aksi-aksi terorisme berikutnya akan kembali meledak karena
> terus mendapat pembenaran, baik secara teologis-ideologis maupun
> taktis-strategis. Pelaku terornya memang sedikit orang, tapi sugesti
> dan dukungan banyak orang yang sealur pikiran telah membesarkan hati
> dan kekuatan mereka.
> Upaya Tim Pembela Muslim (TPM) untuk mempraperadilkan kasus
> penembakan Abu Dujana yang berlangsung di depan mata anaknya
> merupakan langkah hukum yang patut dihargai. Sangat boleh jadi,
> satuan Datasemen Khusus 88 Anti-Teror telah bertindak kurang
> proporsional. Mungkin juga mereka sedikit gagah-gagahan karena sedang
> menangkap sosok yang dianggap sangat berbahaya. Kita belum tahu apa
> yang sungguh terjadi. Kejelasan kasus ini masih perlu penyelidikan
> lebih mendalam.
>
> Namun pernyataan Abu Bakar Baasyir bahwa apa yang dilakukan Abu
> Dujana cs bukan aksi terorisme melainkan kontraterorisme sangat perlu
> dikritisi. Apalagi dalam konferensi pers di gedung Dewan Dakwah
> Islamiyah Indonesia (DDII), Selasa (26/7) lalu, Baasyir juga menuntut
> dibubarkannya Densus 88 yang selama ini bertugas menangkap para
> tersangka terorisme.
>
> Pernyataan itu memang retorika yang tipikal dari orang-orang yang
> mengingkari fakta terorisme di Indonesia. Kita tidak tahu, dengan
> bukti macam apa mereka akan berhenti mengelabui opini publik. Kita
> pun hanya mampu meraba-raba ikatan batin antara Baasyir dengan para
> pelaku teror itu. Yang kita tahu pasti, aksi-aksi terorisme telah
> memakan banyak korban. Dan, sudah tiba saatnya untuk berseru lantang:
> cukup!
>
> Karena itu, jika opini Baasyir selalu kita perhitungkan, upaya
> pemberantasan terorisme mungkin saja akan terhambat. Dan, bukan
> mustahil aksi-aksi terorisme berikutnya akan kembali meledak karena
> terus mendapat pembenaran, baik secara teologis-ideologis maupun
> taktis-strategis. Pelaku terornya memang sedikit orang, tapi sugesti
> dan dukungan banyak orang yang sealur pikiran telah membesarkan hati
> dan kekuatan mereka.
>
> Sejauh ini, ungkapan pembenaran itulah yang selalu muncul dari
> pernyataan-pernyataan Baasyir. Selain pembenaran teologis-ideologis,
> para pelaku teror itu juga terbantu oleh pembenaran taktis-strategis.
> Oleh sementara orang, tindakan mereka dinilai sebagai aksi heroik
> demi membalas teror yang lebih besar, baik yang dilakukan Amerika di
> Irak maupun Afganistan sana. Bagi mereka, aksi mereka tidak lebih
> brutal dari apa yang dilakukan musuh jauh mereka: mesin-mesin perang
> George W Bush.
>
> Karena musuh besar tak dapat mereka rengkuh, maka tak mengapa
> bertindak sekenanya terhadap musuh yang mudah dijangkau. Dengan alur
> pikir seperti ini, para pembenar ideologi terorisme telah ikut andil
> dalam memberi sugesti dan memalingkan isu dari persoalan sebenarnya.
> Pelaku teror dalam negeri tidak dipandang sebagai teroris, melainkan
> kontraterorisme. Jatuhnya korban-korban tak bersalah pun tak membuat
> mereka jatuh iba. Dengan entengnya, mereka dianggap berada di tempat
> yang salah.
>
> Padahal, tanpa kritik Baasyir pun, rezim Bush yang dianggap sebagai
> the real terrorist, telah banyak menuai kritik dari publik dalam
> negerinya. Sosok yang mungkin dibenci Baasyir, Geoge Soros, dalam
> buku Zaman Kenisbian: Konsekuensi Perang Terhadap Teror, termasuk
> orang paling keras menentang pendekatan Bush dalam perang melawan
> terorisme. Soros menggelontorkan uang jutaan dolar untuk menghambat
> terpilihnya kembali Bush meski ia gagal. Baginya, Amerika di bawah
> rezim Bush bak raksasa mabuk yang memberangus musuhnya secara
> serampangan.
>
> Karena itu, pembedaan teroris-kontrateroris Baasyir tidak menggenapi
> apa-apa. Wujudnya teroris yang lebih besar tidak harus membuat
> absahnya teroris yang lebih kecil untuk bertindak semau-maunya.
> Itulah alur logika yang benar meski mungkin tak disepakati Baasyir.
> Sebab, logika Baasyir tampak berjalan ke arah sebaliknya: karena ada
> teroris yang lebih besar, maka teroris kecil-kecilan absah belaka
> adanya. Jika demikian logika Baasyir, itu tentu sudah berbeda dengan
> logika kebanyakan orang sehat Indonesia lainnya.
>
> Implikasinya, pekerjaan rumah kita untuk memberantas terorisme
> menjadi ganda. Tidak hanya memerangi terorisme, kita juga diharuskan
> menyingkap alur pikir orang-orang yang selalu siap sedia melakukan
> pembenaran terhadap tindak teror itu sendiri. Tugas pertama sejauh
> ini sudah dilakoni dengan baik oleh kepolisian, sementara tugas kedua
> sepenuhnya berada di pundak siapa saja yang cinta iklim kedamaian,
> baik bagi Indonesia maupun dunia.
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke