*http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0707/10/111442.htm
Cek Asal-Usul Lewat Tes DNA* Belakangan ramai diberitakan, Keluarga Cendana meminta Mayangsari melakukan tes DNA untuk memastikan "keaslian" anak hasil hubungannya dengan Bambang Trihatmojo. Sebetulnya, apa itu tes DNA? Apa manfaatnya, dan bagaimana prosedurnya? Apa yang dimaksud DNA? Menurut dr. Herawati Sudoyo, PhD, Principal Investigator sekaligus Manager Eksekutif Lembaga Biologi Molekul Eijkman, DNA merupakan materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan. Setiap orang memiliki DNA yang unik. Cek Asal-Usul Dalam sel manusia, DNA dapat ditemukan di inti sel dan mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk suatu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap anak akan menerima setengah pasang kromoson dari ayah dan setengah pasang kromosom dari ibu sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari ibu maupun ayah. Dalam hal ini ada dua tes, yaitu : - Tes paternitas Tes ini untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk memeriksa bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan biologis. - Tes maternitas Tes DNA ini untuk menentukan apakah seorang perempuan adalah ibu biologis seorang anak. Tes ini bisa dilakukan untuk kasus dugaan bayi tertukar, bayi tabung, dan anak angkat. Selain di dalam inti sel, DNA juga bisa ditemukan di dalam mitokondria, yaitu bagian dari sel yang menghasilkan energi. Berkat mitokondria, kita bisa bernapas dan sel bisa memperbaiki diri. Tanpa mitokondria, sel akan mati. DNA mitokondria hanya diturunkan dari ibu. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA ini dapat digunakan sebagai penanda untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal/garis ibu. Misalnya, pada kasus pesawat jatuh dan di situ ada keluarga, yaitu bapak, ibu, dan tiga anak perempuan. "Kita akan menemukan DNA mitokondria yang sama, yaitu ibu dan tiga anak. Tetapi kita tidak bisa menentukan mana si ibu, anak pertama, kedua, dan ketiga. Karena semuanya sama. Kita bisa tahu mereka berkerabat tetapi siapa mereka, harus dapat setengah dari bapak dan setengah ibu. Karena itu harus pakai DNA inti. Jadi, kita lihat kasusnya seperti apa. Kalau kasus paternitas biasa, pakai DNA inti," urai Hera. RAHASIA TERJAMIN Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang tes paternitas dan maternitas. * Siapa yang diperiksa? Untuk tes paternitas yang diperiksa adalah ibu, anak, dan terduga ayah. "Bisa saja hanya ayah dan anak yang diperiksa, jika ibu biologis tidak bersedia ikut tes. Partisipasi ibu pada tes paternitas dapat membantu separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi dapat dibandingkan dengan DNA terduga ayah." Jika terduga ayah berada di kota lain, dengan surat pengantar dari dokter, terduga ayah dapat diambil darahnya di kota domisili dan mengisi formulir surat pernyataan persetujuan untuk melakukan tes paternitas serta menandatanganinya di atas materai. * Apa yang diperiksa? Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA. Mulai dari buccal swab (sel mukosa di pipi bagian dalam, diambil dengan alat khusus seperti cotton buds yang ujungnya dilengkapi dengan sisir kecil dari karet), darah, kuku, sampai rambut. Untuk bayi, jaringan bisa diambil dengan buccal swab atau jarum suntik kecil. Menurut Hera, yang paling efektif adalah darah karena bisa dapat banyak DNA. Namun, kini teknik pengambilan DNA makin lama makin sensitif, dalam arti bisa dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan, seperti sidik jari yang menempel di suatu benda dan bekas lipstik. * Adakah batasan usia? Tak ada batasan usia. Bahkan pada janin dan orang yang sudah meninggal. Pada tes paternitas sebelum anak dilahirkan (prenatal), tes DNA dapat dilakukan dengan sampel dari jaringan janin, umumnya pada usia kehamilan 10-13 minggu atau dengan cara amniosentesis (tes prenatal) pada usia kehamilan 14-24 minggu. Untuk pengambilan jaringan janin ini harus dilakukan oleh ahli kebidanan/kandungan. Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus berkonsultasi dengan ahli kebidanan kandungan. * Bagaimana prosedurnya? Ingin tes DNA? Pengguna jasa atau klien dapat meminta dan menjadwal tes paternitas atau maternitas secara langsung sesuai keinginan ke lembaga yang menyediakan jasa tes DNA, semisal Lembaga Eijkman, Jakarta. Prosesnya, pertama-tama klien datang untuk konsultasi. "Saat konsultasi, kami menerangkan apa yang sebenarnya kami lakukan dalam tes ini. Lalu kami menanyakan pada kedua belah pihak karena ini adalah suatu kejadian yang sangat sensitif. Kalau keduanya setuju, tidak apa-apa. Jadi, kami memberikan konsultasi bahwa apapun hasilnya, ada konsekuensi," jelas Hera. Setelah ditanya alasan dan latar belakangnya, klien harus menandatangani persetujuan tes paternitas atau tes DNA lainnya di atas materai. Klien juga harus menyerahkan identitas diri (KTP atau paspor) dan foto. Setelah itu baru diambil darahnya dengan dihadiri saksi. Apabila anak belum dewasa, diperlukan fotokopi surat kelahiran atau surat perwalian anak yang menyatakan terduga ayah atau wali anak memiliki hal untuk membawa anak itu melakukan tes paternitas. * Seberapa akurat? Tes DNA adalah 100 persen akurat jika dikerjakan dengan benar. Tes DNA ini memberikan hasil lebih dari 99,99 persen probabilitas paternitas jika DNA terduga ayah dan DNA anak, cocok (matched). Apabila DNA terduga ayah dan anak tidak cocok (mismatched) maka terduga ayah yang dites, 100 persen bukanlah merupakan ayah biologis anak itu. Dulu, konfirmasi dilakukan dengan mengulang tes terhadap terduga ayah. Kini, begitu ada tes, dilakukan dua kali dengan dua orang pemeriksa (researcher) "Jika hasil dari dua orang itu berbeda, pasti ada kesalahan. Lalu kami cek lagi. Semua researcher sudah diperiksa DNA-nya. Sehingga jika ada yang tidak match, jangan-jangan ada kontaminasi. Mungkin terkena DNA si researcher," ungkap Hera. * Bagaimana prosesnya? Begini proses yang paling sederhana: setelah mengambil jaringan atau darah, (dalam darah ada plasma, serum, sel-sel darah merah, sel-sel darah putih), dengan suatu detergen, "dipecahkan" membran sel darah putih. Apapun yang ada di dalamnya akan keluar, termasuk DNA. Sekarang ada teknologi yang bisa menggandakan sampai jutaan kali fragmen suatu DNA yang akan diperiksa. "Jadi, kita tidak perlu mengambil banyak jaringan. Karena bercak sperma, rambut, dan bercak darah bisa diisolasi DNA-nya dan bisa diperbanyak jutaan kali dan kemudian bisa diperiksa untuk identifikasi." * Berapa lama? Hasil tes DNA selesai dalam waktu 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya sampel. Selain itu, seluruh informasi pasien, mengenai tes, dan hasil tes akan dijamin kerahasiaannya. Karena pertanyaan mengenai paternitas, sangat sensitif. Hasil tes DNA hanya akan diberikan kepada individu yang melakukan tes. Tidak Bisa Dipaksakan Tes DNA tidak bisa dilakukan karena paksaan dari pihak ketiga. "Jika ada keluarga yang datang lalu meminta supaya pasangan tertentu diperiksa, tidak bisa dilakukan jika mereka berdua (pasangan itu) tidak setuju," tandas Hera. Namun, untuk keperluan pengadilan, jaksa dan polisi bisa meminta. Hasil tes ini hanya dapat digunakan sebagai referensi pribadi, kecuali jika sampel yang diperiksa diambil melalui prosedur hukum (surat dari polisi atau jaksa), maka sampel tersebut memiliki kekuatan hukum. Biaya Pemeriksaan Lantas, berapa biaya untuk melakukan tes DNA? Di Lembaga Eijkman, biaya tes maternitas/paternitas yang dilakukan seorang anak dan seorang terduga ayah/ibu (dengan atau tanpa kehadiran ibu/ayah), sebesar Rp 7,5 juta per paket. Biaya ini sudah termasuk biaya konsultasi pemeriksaan identifikasi DNA. Jika akan memeriksakan lebih banyak orang (lebih dari satu terduga ayah/ibu, anak, saudara, dan lain-lain), mereka dapat dilibatkan dalam proses pemeriksaan dengan biaya tambahan Rp 2,5 juta per orang. Sumber: Nova [Non-text portions of this message have been removed]

