Menjamu Tamu

Sebagai makhluk sosial kita biasa saling mengunjungi, baik karena 
hubungan famili, hubungan persahabatan ataupn berkunjung karena 
semata-mata suatu urusan. Diantara tradisi masyarakat dalam kunjung 
mengunjungi adalah memberikan jamuan atau menjamu tamu. Agama Islam 
mem­berikan tuntunan bagaimana adabnya menjamu tamu, sebagai berikut :

1. Tuan rumah (yang menjamu) hendaknya me­nunjukkan wajah kegembiraan. 
Jika ketika itu tuan rumah sedang mempunyai masalah yang merisaukan 
hendaknya kerisauan itu tidak di­nampakkan kepada tamu. Jika kekesalan 
itu tertuju kepada orang yang datang bertamu, hendaknya usahakan 
tetap bisa bersikap ramah, karena berlaku tidak ramah kepada tamu, 
misalnya menampilkan wajah cemberut atau secara se­ngaja tidak 
berbicara atau berbicara sangat singkat, berlawanan dengan muru`ah 
(prestise) tuan rumah yang justru harus dijaga.

2. Diantara tatakrama yang simpatik dalam menjamu tamu ialah 
menyambut tamu dengan wajah ceria di awal kehadirannya, dan me­ngajak 
ngob­rol di saat makan. Imam Al Auza`i mengatakan bahwa memuliakan 
tamu itu adalah (sekurang-kurangnya) menunjukkan wajah ceria dan baik 
tutur kata. Tradisi masya­rakat beradab sejak dahulu dalam menjamu 
tamu  selalu ada unsur obrolan, luwes, sim­patik dan ramah tamah.

3. Di antara adab menerima tamu adalah mem­per­silahkan tamu seperti di 
rumah sendiri, sehingga tidak layak tuan rumah menyuruh tamu melayani 
dirinya, menyuruh itu dan melarang ini, apalagi memaksanya untuk 
bekerja.

4. Segera menyuguhkan minuman agar tamu segera merasakan sikap ramah 
dari tuan rumah.

5. Tidak terburu-buru mengangkat hidangan  dari meja tamu sebelum 
tamu benar-benar me­nyelesaikan makanannya dan membersihkan tangannya.

6. Tidak memaksa tamu memakan hidangan yang mungkin tidak disukainya, 
baik karena selera, atau karena terlalu banyak.

7. Jika anda sebagai tamu, hendaknya jangan berlama-lama, kecuali 
jika tuan rumah me­minta anda dengan sungguh-sungguh untuk tinggal 
lebih lama. Selanjutnya jangan lupa berpamitan kepada tuan rumah jika 
akan me­ninggalkan rumah.

8. Jika tamu berpamitan hendaknya tuan rumah mengantar sampai ke luar 
rumah.

9. Seorang tamu hendaknya jangan terlalu banyak bertanya kepada tuan 
rumah kecuali yang penting-penting saja, misalnya bertanya arah 
kiblat, kamar mandi dan sebagainya.


==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui 
http://agussyafii.blogspot.com dan sms 0888 176 48 72
==============================================


Kirim email ke