» OASE website Aceh Institute 170707 | HARAPAN
Oleh: Fajran Zain | Indiana, USA

MEMILIKI harapan adalah pengalaman emosi yang sangat
manusiawi. Lahir dari proses tak sadar disaat
menvisualisasikan tujuan, lalu dalam sepersekian detik
terbentuklah satu keinginan. Sebagai bagian dari
kategorisasi kognisi, perilaku berharap ini merupakan
proses “kali-kali” antara nilai dan potensi; kian
besar nilainya, dan kian tinggi peluangnya, maka kian
besar pengaruh positif yang ditimbulkan. Pada titik
ini 
harapan melahirkan motivasi. 

Lihatlah di masa-masa awal tsunami dulu, besarnya
nilai dan potensi, menjadi harapan baru yang terbukti
mampu menekan pengalaman pahit digerus ombak raksasa.
Rupiah berikat-ikat, dan pakar dari seluruh jagad
mampu menghadirkan satu gambaran yang lebih
menjanjikan. Walau belum tampak hasil nyata, para
korban sudah mampu tersenyum. Harapan menghidupkan
mereka kembali.

Namun, harapan akan berubah menjadi rasa cemas, dan
membuat lemas, bila yang dijadikan tujuan bernilai
besar sementara potensi untuk mencapainya kecil.
Rencana besar, namun dari awal sudah bisa dipastikan
tak akan terpenuhi. Maka lambat laun siapapun akan
menarik diri, melepaskan semua yang semula sangat
diharapkannya.

Harapan juga bisa berwajahkan frustasi. Wajah ini
hadir dalam kegagalan berulang-ulang dalam mencapai
tujuan yang nilainya besar, sementara potensi untuk
mencapainya juga besar. Khawatirnya, rehabilitasi
tsunami akan banyak melahirkan orang-orang frustasi. 

Betapa tidak, kegagalan pembangunan dalam masa konflik
memiliki excuse yang masuk akal, namun kegagalan di
dalam suasana yang damai, dan bertaburnya angka serta
konsep brilian, membuat kita tak habis fikir.

Wajah frustasi itu kemudian bisa berubah menjadi
geram, bila kegagalan memenuhi harapan dibumbui oleh
persepsi kesengajaan; produk akal-akalan. Hadir di
dalam benak mereka usaha menggagalkan harapan yang
dilakukan secara terencana oleh otoritas tertentu.
Muaranya adalah agresivitas, yang seringkali karena
tak mampu, lalu ditujukan tidak kepada penyebab asal,
tetapi dikanalisasikan pada target-target yang lemah.
Ingatkah kita pada cerita reka ulang adegan mesum di
pantai Lhok Nga? Bukan menuding ini-itu, tetapi
musibah ini bisa ditarik benang merahnya dari bentuk
kekecewaan atas lemahnya penegakan hukum dan (juga)
lambannya proses rehabilitasi.

Cita-cita rehabilitasi memang sudah berbaik arah.
Rehabilitasi beyond physical, yang mencakup intervensi
nilai-nilai kemanusiaan, tinggal sebatas konsep dan
idealisme saja. Kelambanan bersikap menghantar kita
pada proses de-rehabilitasi, yang membuat kondisi
masyarakat yang sakit, kian kronis.

Itulah sulitnya berharap. Berharap tak sesederhana
kontrol atas perilaku diri tetapi juga butuh kesamaan
persepsi. Kita boleh berencana, menginvestasikan
fikiran dan strategi, namun catatan di benak orang
lain tak akan persis sama. Hingga titik ini, political
will sang empu berperan penting. Namun tak jarang kita
temui bahwa kebaikan hati itu berdiri paralel dengan
arogansi dan hasrat penundukan. Mudah sekali kita
temukan mereka yang bermain-main dengan nasip dan hak
orang lain. 

Ibarat mashocis, gambaran kesengsaraan hidup orang
lain menjadi tontonan yang menggelorakan birahi
kekuasaan. Ibarat lintingan ganja, menghisapnya begitu
menikmatkan, hingga terus menarik-ulur seraya membuat
terjemahan-terjemahan diatas kertas.

Mungkin, untuk bangkit Aceh harus miskin. Timbunan
rupiah tak mampu membuat para korban tersantuni,
selain pertikaian dan sentimen, serta pamer kerakusan
antara para pekerja kemanusiaan, lalu kehilangan akal
sehat. 
Karena menderita rabun jauh (myopia) kita tak mampu
melompat ke depan, disibukkan dengan pemenuhan
pundi-pundi sendiri, sementara apa yang menjadi
cita-cita kemanusiaan pun terlantar, pembangunan SDM
terbengkalai, dan proses transisi tidak terkondisikan.
Seperti Nigeria dan beberapa negara Islam OPEC
lainnya, Aceh akan bernasip sama, collapse dalam harta
karun yang tak mampu dikelola dengan baik. Sebentar
lagi semua akan angkat kaki, namun kita terus
menggantung diri.

Syukurlah masih banyak yang memelihara harapan, walau
potensi merealisasikannya hanya 5%, misalnya.  Sikap
ini adalah pilihan taktis terutama untuk membangun dan
pempertahankan motivasi diri. Maka, rawatlah harapan
yang ada, sebab harapan memberi energi positif dan
hasrat untuk terus “hidup”. Hidup terasa memiliki
target, lalu setiap penggalan pengalaman adalah
tahapan menuju kepada tujuan akhir itu. Aturlah cara
berharap, karena harapan yang berlebihan hanya akan
meninggalkan jejak frustasi, membangun sensitivitas
yang tidak  rasional, lalu melemahkan motivasi. 

Berdoalah untuk kemajuan Aceh, untuk penyadaran dan
pencerahan. Konon lagi syariat juga mengajarkan kita
untuk tidak berputus harap. Bila dengan segala doa
tersebut  tetap juga tak tercerahkan,  mungkin kita
perlu mengharap peristiwa yang sama sebagai
stimulus-nya. Kalau sudah begini, kitapun menjadi
harap-harap cemas; glie-glie mangat.(FZ)

© Copyrights by The Aceh Institute - 2007 |
www.acehinstitute.org
Original source/URL:
http://www.acehinstitute.org/oase_fajran_zain_170707_harapan.htm

 




       
____________________________________________________________________________________
Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the 
tools to get online.
http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting 

Kirim email ke