* kalau saya ingat-ingat lagi, banyak isi pilem Wild-wild 
  West tahun 1970 an yang sebetulnya 'kurang mendidik' ato
  'misleading', kalo lagi menggambarkan konflik "koboi lawan
  indian", selalu yang jadi "lakon" ( the good guys ) yang
  akhirnya menang adalah koboi-nya. Indian nya biasanya
  digambarkan serba primitif, serba brutal, ...

  ke"brutalan" Indian di atas bukan hanya ada di cerita
  film. Dalam sejarah Amerika memang direkam kebiasaan
  orang Indian yang menyerbu orang kulit putih, termasuk
  kebiasaan mereka mengambil "scalp" (kulit kepala) musuh
  yang di bunuhnya.

  tapi kalau kita mau bersikap "dewasa" sedikit, seharusnya
  kita bisa mengerti bahwa ke"brutalan" sebagian orang-2
  Indian itu memang ada sebabnya: lahan mereka di ambil
  orang kulit putih, dan secara sistematis didesak dan
  di kepinggirkan ke daerah-2 reservation. Dengan kata
  lain, benar bahwa orang-2 Indian itu melakukan
  "kebrutalan taktis", tetapi itu sebenarnya merupakan
  reaksi dari "kebrutalan strategis" orang-2 kulit putih
  yang telah secara sistematis meminggirkan mereka.

  ( ini persis tidak ada bedanya dengan kasus-2 serangan Satwa
    Liar, misalnya gajah ato harimau sumatera ke perkampungan
    penduduk, yang kalo di-telaah benar-2, disebabkan karena
    lahan mereka yang secara sistematis di georogoti ).

*  Pola umum di atas, yaitu "kebrutalan taktis" melawan
   "kebrutalan strategis" itu yang saya amati juga terjadi
   di Palestina dan Lebanon. Jika kadang-2 gerilyawan
   Palestina menyerang penduduk sipil Israel, itu tidak
   ada bedanya dengan kasus orang Indian menyerang orang
   kulit putih di cerita-2 Wild-West. 

                          --- oOo ---

Bahkan dalam kasus-2 Perang Dunia, Perang Dunia I dan II,
pola semacam itu dalam batas-batas tertentu juga terjadi,
meskipun tidak 100% bisa disamakan, karena negara-negara
yang dituduh sebagai "penjahat" dalam PD-II, seperti Jerman
dan Jepang adalah entitas yang cukup kuat, tidak bisa
disamakan dengan "indian" ato "palestina" ato "harimau
sumatera" di atas.

yang ingin saya katakan hanyalah, orang perlu juga berusaha
seimbang di dalam mempelajari sejarah. Di dalam suatu konflik
biasanya kedua belah pihak menyumbang kesalahan, bukan hanya
salah satu pihak saja. Tinggal masalahnya mencoba menimbang
bobot kesalahan tersebut.

tetapi dari tinjauan aksi-reaksi, dalam kasus Perang Dunia
II ( ditambah PD-I untuk kasus Jerman ) saya berpendapat,
tidak 100% adil untuk menyalahkan Jerman ato Jepang sebagai
satu-satunya pihak yang menjadi penyebab pecahnya perang
-perang besar tersebut.

                         --- oOo ---

Kalau bacaan kita hanya sebatas buku sejarah tingkat SMP
mapun SMA, dan ditambah informasi dari film-2 Hollywood,
mungkin yang terlintas dibenak kita, Penyebab pecahnya
Perang Dunia II di wilayah Pasifik adalah karena Jepang
secara "ujug-ujug" menyerbu Pangkalan AL Amerika di
Pearl Harbour.

Tetapi apakah pernah terfikir oleh kita, mengapa Jepang
menyerbu Pearl Harbour? jawaban dari strategi militer:
untuk melumpuhkan Armada AL AS di Pasifik. Supaya apa?
supaya Jepang leluasa menduduki kawasan Asia Tenggara.
Mengapa Jepang merasa "harus" menduduki kawasan Asia
Tenggara?

Ternyata, yang tidak banyak diperhatikan orang, karena
Jepang di"paksa" atau di"desak" untuk melakukan itu
karena pada waktu itu mereka di embargo secara ramai-2
oleh negara-2 Barat (AS, Inggris, Belanda), sehingga
kesulitan mendapatkan bahan-2 baku yang sangat dibutuhkan
oleh industrinya, misalnya seperti minyak, bijih besi
dan karet yang waktu itu tersedia di Asia Tenggara
( mis. Malaysia, Indonesia, Philipina ) secara melimpah.

Salah satu motivasi negara-2 barat "mencekik" suplai
bahan baku ke Jepang memang untuk mencegah jangan
sampai negara ini tumbuh terlalu kuat, terutama industri
militernya.

Ini antara lain dapat di baca pada artikel di bawah ini.
Seperti disebutkan pada alinea terakhir, Jepang diembargo
habis-habisan pada bulan Juli 1941. Oleh karena itu
Jepang memutuskan untuk melakukan invasi ke Asia Tenggara,
dan agar itu aman, mereka harus menjinakkan kekuatan
armada Amerika di Pasifik. Oleh karena itulah 6 bulan
kemudian pada tangga 7 Desember 1941 mereka menyerang
Pearl Harbour.

** It retained its top position until 1940 (iron shipments 
** from Malaya were discontinued in July 1941 as the US, UK 
** and Netherlands froze Japanese assets in their territories).

perlu di catat bahwa saya dengan tulisan ini sama sekali
tidak bermaksud mengatakan bahwa "kebrutalan taktis"
seperti di atas bisa dibenarkan ( kebrutalan taktis Jepang
ini juga yang kemudian menjadi boomerang, yang menyebabkan
Jepang kemudian juga di benci oleh bangsa-2 di Asia Tenggara
pada waktu itu ). Yang saya hanya ingin kataka adalah kita
paling tidak perlu "mengerti" mengapa suatu pihak melakukan
kebrutalan taktis - yaitu sebagai reaksi terhadap "kebrutalan
strategis" yang dilakukan oleh pihak lain, yang kadang
dilakukan secara halus, sehingga tidak terlihat di mata
pubik.

---------( IM )-------------------------------------


<http://d-arch.ide.go.jp/je_archive/english/society/wp_je_unu33.html>


MALAY IRON ORE, ITS IMPORTANCE TO THE JAPANESE STEEL 
INDUSTRY, AND ITS PHYSICAL FEATURES

To clarify the reasons for limiting the scope of my study 
to the development of Malay iron ore resources by Ishihara 
Sangyo Kaisha, I will first outline the relationship between 
Malay iron ore mines and the Japanese steel industry (above 
all the Imperial [Yawata] Steel Works) and the physical 
features of Malay iron ore.

The heavy dependence of steel-making in Japan on imported iron 
ore is extremely apparent, as is illustrated by the figures, 
displayed in Table 1. From the 1920s through the 1930s, imports
accounted for 70 to 90 per cent of the nation's total iron ore 
needs (or 90 to 95 per cent, if imports from the overseas Japanese
territories are also counted). The two biggest sources of Japan's 
iron ore imports were China and British Malaya, which were 
responsible for around 90 per cent, in some years almost 100 
per cent, of total annual imports. China had been virtually 
the sole import source until 1920. Malaya emerged in 1921 as a new
exporter to Japan, quickly expanded its importance as an iron ore
supply source during the second half of the 1920s, and surpassed 
China in 1929. 

It retained its top position until 1940 (iron shipments from 
Malaya were discontinued in July 1941 as the US, UK and 
Netherlands froze Japanese assets in their territories).




Kirim email ke