*http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0707/23/184602.htm



Inovasi Melalui Riset dan Pengembangan

JAKARTA, KOMPA**S*--Inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) di Indonesia sangat jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara di
Asia seperti China dan Jepang. Hal ini disebabkan kurangnya pengembangan
riset dan pengembangan. Karena itu, strategi kerja sama antara dunia
akademis, bisnis dan pemerintah perlu diterapkan secara berkesinambungan dan
terencana.

Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie,
Senin (23/7), dalam seminar bertema "Challenges, Opportunitues and
Innovation Through R and D in the Pharmaceutical Industries", di Gedung
Widya Graha, LIPI, Jakarta.

Selama ini problem dasar pengembangan riset adalah tidak adanya yang
menjembatani antara kepentingan para ilmuwan dengan industri. Banyak
hasil-hasil riset yang tidak bisa diaplikasikan lantaran dinilai kurang
memberikan keuntungan dan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. "Pengembangan
riset terbentur kendala dana, kurangnya fasilitas dan kurangnya penghargaan
pada peneliti," ujarnya.

Ir Arief Budi Witarto, peneliti dari LIPI, menyatakan, pengembangan riset
selama ini sangat lamban lantaran kekurangan dana, tidak memiliki fasilitas
yang lengkap dan minimnya renumerasi bagi para peneliti. "Dibandingkan
dengan beberapa negara berkembang lain seperti India dan Kuba, fasilitas
penelitian di Indonesia masih kalah lengkap. Ini menghambat aktivitas
penelitian," tuturnya.

Untuk itu, Umar Anggara menyatakan kemitraan model triple helix harus
diperkuat melalui kerjasama antara dunia akademi, industri dan pemerintah.
Model kemitraan ini akan membuka kesempatan untuk memperkuat kerjasama dalam
bidang riset dan aplikasi hasil riset yang lebih baik bagi masyarakat secara
umum, dan khususnya bagi pengembangan nasional.

Komisaris PT Kalbe Boenyamin Setiawan menambahkan, dunia akademi harus lebih
membuka diri dan bekerja sama lebih erat dengan dunia industri. Universitas
tetap harus melakukan penelitian dasar sebesar 60 persen, dan aplikasi riset
serta pengembangan 40 persen. Sedangkan dunia industri harus menyediakan
dana dan proyek penelitian yang dapat dikerjakan mahasiswa S1, S2 maupun S3,

Selain itu, pemerintah harus menciptakan lingkungan yang kondusif untuk
melakukan R and D sehingga sumber daya alam yang berlimpah dan menghasilkan
nilai tambah. "Jumlah entrepreneur di dunia akademis, pemerintah dan
industri harus ditingkatkan, sehingga riset-riset yang dilakukan bisa
dimanfaatkan untuk kepentingan industri sebagaimana terjadi di beberapa
negara," ujarnya. (EVY)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke