Islam dan Yahudi
Oleh Abd Moqsith Ghazali
16/07/2007

Fakta-fakta kesejarahan seperti ini penting diungkap ke publik, agar 
umat Islam tahu bahwa selalu ada kelompok-kelompok di kalangan 
Yahudi yang berfikir obyektif dan bertindak adil dalam menata 
hubungan dengan umat Islam. Mereka tidak seburuk dibayangkan umat 
Islam. 

Relasi Islam dan Yahudi selalu digambarkan buruk. Di kalangan umat 
Islam, Yahudi dikenal sebagai sekelompok orang yang culas, keras, 
bahkan jahat. Pandangan ini didasarkan pada fakta orang-orang Yahudi 
Madinah yang melanggar sebuah traktat politik yang disepakati 
bersama, Piagam Madinah. Tak terelakkan, konflik antara orang Islam 
dan Yahudi pada akhirnya meletus. Kelompok Yahudi Banil Mushthaliq 
pernah berencana membunuh Nabi di bawah komando al-Harits bin Abi 
Dlirar. Informasi ini terdengar oleh Nabi dan terjadilah peperangan. 
Sampai sekarang, kawasan Palestina bukan zona aman bagi penduduk 
negeri itu. Di Palestina, orang Yahudi dan Islam saling 
menghancurkan.

Dengan bukti-bukti itu, sebagian umat Islam segera menarik 
kesimpulan dan garis generalisasi perihal orang-orang Yahudi. Bahwa 
orang Yahudi memang tak bisa dipercaya. Untuk memperkuat pandangan 
itu, dibacakan sebuah ayat al-Qur`an, "tidak akan rela orang-orang 
Yahudi dan Nashrani hingga kalian (umat Islam) mengikuti agama 
mereka" (QS, al-Baqarah [2]: 120). Ayat lain menyebutkan, "banyak 
dari Ahli Kitab yang menginginkan agar mereka dapat mengembalikan 
kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang 
timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka 
kebenaran" (QS, al-Baqarah [2]: 109). Ayat ini sebenarnya merupakan 
respons khusus terhadap perilaku orang-orang Yahudi seperti Ka`ab 
ibn al-Asyraf, Hayy ibn Akhthab, Abu Yasir ibn Akhthab, Syas ibn 
Qais al-Yahudi yang hendak me-yahudi-kan orang-orang Islam. 
Sayangnya, ayat yang sebenarnya bersifat sosial-politik ini 
dinaikkan statusnya menjadi ayat teologis. Sehingga, semua orang 
Yahudi dipukul rata.

Kaum terpelajar tahu, generalisasi adalah simplifikasi. Sejarah 
membuktikan, tak seluruh orang Yahudi berperilaku buruk terhadap 
umat Islam. Pertama, ketika berusia dua belas tahun, tahun 582 M., 
Muhammad menyertai pamannya (Abu Thalib) dalam kafilah dagang menuju 
Syam. Sesampainya di Boshra, mereka bertemu dengan Buhaira (disebut 
juga Jirjis atau Sirjin), seorang pendeta Yahudi. Pendeta ini 
menegaskan, ada tiga manusia utama, yaitu Buhaira, Rubab al-Syana, 
dan satu orang yang sedang ditunggu. Orang itu, menurutnya, adalah 
anak muda yang sedang berada di sisinya, Muhammad. Ketika Muhammad 
bersama Maysarah pergi yang kedua kali ke Syam untuk menjalankan 
bisnis Khadijah (sebelum menjadi isterinya), Nestor (pendeta Yahudi) 
memberi kesaksian tentang kenabian Muhammad. Nestor berkata, dia 
seorang nabi. Ini berarti, pengakuan terhadap kenabian Muhammad 
justru pertama kali diberikan orang Yahudi, Buhaira dan Nestor.

Kedua, Mukhayrîq, seorang Yahudi Bani Tsa`labah yang pintar dan kaya 
raya (menguasai ladang dan kebun-kebun kurma di Madinah) adalah 
salah seorang korban perang Uhud. Di pagi hari, saat mendengar 
informasi akan berlangsungnya peperangan antara Musyrik Mekah 
melawan umat Islam, Mukhairiq memerintahkan pengikutnya untuk tunduk 
pada Piagam Madinah. Sebagaimana dalam Piagam Madinah, membela umat 
Islam dari serangan luar adalah benar. Ketika diprotes karena 
peperangan bertepatan dengan hari Sabat, Mukhayrîq menjawab: 
membantu Muhammad tak menodai hari Sabat. Ia menegaskan, Muhammad 
adalah ahli warisnya. "Jika gugur dalam peperangan nanti, semua 
hartaku kuserahkan kepada Muhammad untuk suatu keperluan yang akan 
Tuhan tunjukkan kepadanya", tandas Mukhayrîq. Ia menyiapkan pedang, 
berangkat menuju bukit Uhud dan turut berjuang hingga akhirnya 
meninggal dunia. Mukhairiq adalah prototipe Yahudi yang taat asas 
dan kuat memegang kesepakatan.

Ketiga, orang-orang Yahudi pernah membantu umat Islam dalam 
penaklukan kota Andalus. Pada zaman Daulah Abbasiyah, orang-orang 
Yahudi--di samping orang Nashrani dan Shabi'ah--banyak membantu 
berjalannya roda pemerintahan. Saat itu, orang-orang Yahudi terlibat 
dalam proses penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. 
Fakta-fakta kesejarahan seperti ini penting diungkap ke publik, agar 
umat Islam tahu bahwa selalu ada kelompok-kelompok di kalangan 
Yahudi yang berfikir obyektif dan bertindak adil dalam menata 
hubungan dengan umat Islam. Mereka tidak seburuk dibayangkan umat 
Islam. 




Kirim email ke