TIPS MENCARI SEKOLAH IDEAL
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&dn=20070730133045

Oleh : Imam Subkhan 

30-Jul-2007, 14:20:05 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - 
Setiap menjelang tahun ajaran baru, hampir semua orangtua bingung 
mencari sekolah yang tepat untuk anak-anaknya. Sebagai orangtua, 
tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun yang 
ada, Anda justru pusing dibebani segudang pertanyaan. Seperti apa 
bentuk sekolah yang baik dan ideal? Apakah harga menjamin kualitas 
yang diberikan? Dan lain sebagainya. "Ideal" menurut kamus bahasa 
Indonesia artinya "sesuai dengan yang diharapkan". 

Tentunya orang tua berharap sekolah yang dipilih akan mampu menjadi 
tempat mengembangkan kemampuan anak secara optimal. Berikut ini, 
penulis mencoba memberikan tips bagaimana mencari sekolah yang ideal 
atau tepat bagi anak-anak.

Libatkan anak ketika memilih sekolah. 
Seharusnya selalu disadari dan dipahami oleh orang tua, bahwa yang 
nantinya sekolah adalah anak, bukan mereka. Maka, melibatkan anak 
dalam memilih sekolah merupakan langkah penting, meskipun usia 
prasekolah. Orang tua jangan menganggap remeh kemampuan anak, karena 
pada saat usia pra sekolah anak mengalami perkembangan fisik dan 
mental yang sangat pesat. 

Dalam buku "Magic Trees of Mind", Marianne Diamond menggambarkan, 
perkembangan kemampuan matematika dan intelegensia ruang pada anak 
diperkirakan dimulai pada usia satu tahun. Kemampuan bahasa anak 
malah sudah dimulai sejak masih dalam kandungan. Ini berarti, daya 
nalar dan logika anak pada saat akan memasuki sekolah dasar (6 
tahun) sudah berkembang baik. 

Tinggal bagaimana orang tua merangsang kemampuan anaknya. Kondisikan 
agar proses mencari sekolah dasar tidak menjadi beban berat bagi si 
anak melainkan menjadi proses belajar yang menyenangkan. Bagaimana 
jika ternyata pilihan anak jatuh pada sekolah yang menurut orangtua 
kurang sesuai? Di sinilah peran orang tua diperlukan. 

Pada saat orang tua telah membuat pilihan sekolah mana yang akan 
dimasuki anak nanti, buatlah kesepakatan sukarela dengan anak bahwa 
sekolah yang akan dimasuki adalah murni pilihan anak. Dengan 
demikian anak akan merasa bangga karena diberi kesempatan melakukan 
hal yang penting. Di sisi lain anak akan lebih bertanggung jawab 
karena merasa sekolah yang dimasukinya adalah pilihannya sendiri.

Ketahuilah visi dan misinya. 
Banyak ahli yang mengingatkan tentang pentingnya aspek visi dan misi 
pendidikan yang disandang suatu sekolah. Sekolah yang memiliki 
kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur 
dan realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi sekolah yang 
diinginkan, dapat dilihat di buku profil, brosur, papan nama atau 
media publikasi yang digunakan oleh sekolah tersebut. Dari visi dan 
misi yang dipaparkan dapat terlihat bagaimana orientasi tujuan dan 
profil output yang akan dihasilkan. 

Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dari beberapa aspek, 
antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan 
hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Seperti yang sudah terungkap 
di muka, orang tua saat ini masih memandang aspek akademis menjadi 
pertimbangan pertama dalam memilih sekolah. Maka, tidak heran jika 
banyak orang tua yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan 
sekolah dengan prestasi akademik tinggi. 

Pihak sekolah pun akan melakukan seleksi ketat terhadap calon 
siswanya. Hanya siswa yang memiliki IQ tinggi yang dapat diterima di 
sekolah yang bersangkutan. Dari kasus ini, Penulis jadi tergelitik, 
sebenarnya yang unggul sekolah atau siswanya. Sangat masuk logika, 
jika sekolah yang hanya menerima input baik-baik saja, kemudian out 
putnya juga baik. 

Oleh sebab itu, orang tua seharusnya tidak lagi terjebak pada 
istilah-istilah sekolah favourit, unggulan, plus dan lain-lain. 
Padahal yang dikembangkan hanya pada aspek kognitif saja atau 
academic minded. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu 
menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh potensi (baca: 
kecerdasan majemuk) peserta didiknya.

Porsi Pendidikan Agama. 
Di era sekarang ini, dimana banyak kasus yang menimpa generasi 
penerus kita termasuk dalam hal ini para pelajar, mulai dari kasus 
tawuran, narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan menuyimpang 
lainnya, maka peran pendidikan agama menjadi sangat signifikan 
terutama dalam membentuk kharakter dan perilaku siswa. 

Penulis berpendapat bahwa, pendidikan moral tertinggi terletak di 
dalam doktrin-doktrin agama yang diyakini seseorang. Melalui 
pendidikan agama yang cukup, diharapkan para peserta didik akan 
muncul kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai tugas, peran dan 
tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan, anak, siswa dan anggota 
masyarakat. Sebagai implementasinya, anak mampu menghargai orang 
lain dengan segala perbedaan serta mampu memilah dan memilih 
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan tidak. 

Oleh karena itu, porsi pendidikan agama yang diterapkan oleh suatu 
sekolah hendaknuya menjadi bahan pertimbangan penting orang tua dan 
anak dalam memilih sekolah. Barangkali, jika kita ingin mendapatkan 
pendidikan agama yang lebih di sekolah negeri, nampaknya sulit 
diwujudkan. Pasalnya, sesuai aturan yang berlaku, sekolah-sekolah 
negeri hanya menerapkan 2 (dua) jam pelajaran agama dalam sepekan, 
kecuali inisiatif pihak sekolah untuk mengadakan jam tambahan. 

Mungkin dari sini, sekolah-sekolah swasta yang berbasiskan agama 
dapat menjadi solusinya. Sekolah ini jelas-jelas memberikan porsi 
lebih banyak untuk pendidikan agama, bahkan sudah dipadukan dengan 
mata pelajaran lain, sehingga terdapat internalisasi nilai-nilai 
agama di setiap bahan ajar. Apalagi di jenjang pendidikan dasar, 
ibaratnya sebagai momentum peletakan pondasi bangunan kepribadian 
dan pengoptimalan seluruh potensi siswa. Maka, agama menjadi 
komponen paling penting dalam membentuk dan membangun kharakter 
siswa.

Kurikulum pembelajaran. 
Kurikulum bisa dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Dikarenakan 
di dalamnya berisi tentang perencanaan pembelajaran yang menyangkut 
semua kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik dalam 
perkembangan, baik formal maupun informal guna mencapai tujuan 
pendidikan. Walaupun penerapan kurikulum ini sudah diatur dan 
diseragamkan dari pusat, tetapi pihak penyelenggara pendidikan dapat 
melakukan modifikasi-modifikasi disesuaikan dengan kondisi sekolah, 
lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. 

Dalam kebijakan kurikulum terbaru, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan 
Pendidikan (KTSP) sangat memberikan keleluasaan kepada pihak sekolah 
(negeri maupun swasta) untuk berkreasi dan berinovasi selama masih 
mengacu kepada standar kompetensi yang ditentukan. 

Maka, sangat dimungkinkan akan terjadi kompetisi di antara sekolah-
sekolah, tentang bagaimana menampilkan profil sekolah dan keunggulan-
keunggulannya dalam hal muatan materi pembelajaran dan kegiatan 
sekolah. Oleh karena itu, orang tua dan calon siswa harus benar-
benar jeli dan teliti dalam memilih sekolah terutama pertimbangan 
dari sisi kurikulum yang diterapkan sekolah tersebut. 

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah juga 
perlu dicermati, apakah dimungkinkan dapat mengoptimalkan bakat dan 
potensi peserta didik.

Profil Pendidik. 
Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan tidak dapat 
dilepaskan dari andil guru. Boleh dikatakan guru sebagai ujung 
tombak pendidikan untuk mencetak dan mengkader generasi penerus yang 
didambakan. Apalah artinya kurikulum yang ideal jika tidak didukung 
oleh pelaksananya, yaitu sumber daya manusia yang cakap. 

Maka tidak heran, jika pemerintah terus-menerus berusaha 
meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai program, mulai dari 
penataran-penataran, beasiswa pendidikan dan sertifikasi guru. 

Raka Joni (1980) mengemukakan adanya tiga dimensi umum yang menjadi 
kompetensi tenaga kependidikan, antara lain: 

(1) Kompetensi personal atau pribadi, maksudnya seorang guru harus 
memiliki kepribadian yang mantap yang patut diteladani. Dengan 
demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang 
menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, 
tut wuri handayani. 

(2) kompetensi profesional, maksudnya seorang guru harus memiliki 
pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang studi yang diajarkannya, 
memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses 
belajar mengajar yang diselenggarakannya. 

(3) Kompetensi kemasyarakatan, artinya seorang guru harus mampu 
berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat 
luas. Mungkin secara sederhana, ketika kita mengamati profil guru 
sebuah sekolah, bisa dilihat dari riwayat pendidikan, pengalaman 
mengajar, prestasi, penampilan, sikap dan gaya mengajar apabila 
dimungkinkan.

Gedung dan fasilitas. 
Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan 
prasarana yang mendukung. Mulai dari bangunan fisik, ruang kelas, 
taman, perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan kesenian, 
arena bermain, kantin, perlengkapan kelas, sampai dengan alat peraga 
edukasi yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan 
teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah sekolah memiliki 
fasilitas akses jaringan internet dan website sendiri, dimana setiap 
stake holders dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya. 

Hal ini, akan sangat membantu bagi orang tua untuk memantau 
perkembangan putra-putrinya secara cepat tanpa harus secara fisik 
datang ke sekolah. Dengan didukung sarana dan prasarana yang baik, 
diharapkan semua peserta didik dapat belajar secara enjoy, nyaman, 
dan betah. Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak, 
sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan 
siswa. Hal yang perlu diperhatikan juga mengenai rasio jumlah siswa 
dengan luas ruangan kelas serta fasilitas pembelajaran yang lain.

Lokasi sekolah dan lingkungan. 
Lokasi yang dimaksud dapat dipandang dari jarak sekolah ke rumah, 
lingkungan sekitar dan sarana transportasinya. Bisa dibayangkan 
seorang anak harus bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya 
jauh. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena jarak yang 
ditempuhnya memakan waktu yang lama. Belum lagi jika terjadi 
kemacetan lalu lintas, bisa dimungkinkan sering terlambat pulang 
maupun masuk sekolahnya. 

Lalu kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman? Bagaimana ia bisa 
mengembangkan interaksi dengan anggota keluarga lain di rumahnya? 
Maka, faktor lokasi dan lingkungan ini hendaknya diperhatikan oleh 
orang tua dan anak itu sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya. 
Perlu dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di pusat 
perkotaan atau keramaian dan yang berada di pinggiran atau lebih 
dekat dengan suasana alam, semua memiliki plus-minus-nya.

Biaya pendidikan. 
Barangkali bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini menjadi 
pertimbangan paling utama dalam memutuskan sekolah yang dipilih, 
terutama bagi masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah ke 
bawah. Biaya pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum 
terdiri iuran SPP, bantuan pembangunan/gedung, seragam, buku, 
praktikum dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah yang 
dianggap favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan memasang 
biaya pendidikan yang tidak murah. 

Hal ini berkaitan dengan fasilitas pembelajaran dan program-program 
unggulan yang ditawarkan. Namun yang perlu diingat bahwa, tingginya 
biaya pendidikan yang diterapkan pihak sekolah hendaknya diikuti 
juga dengan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, 
sebelum menentukan pilihan sekolah, orang tua diharapkan sudah mampu 
mengukur kemampuan secara ekonomi tentang biaya pendidikan yang 
harus dikeluarkan termasuk anggaran lain di luar program sekolah, 
seperti uang saku, transportasi, perlengkapan sekolah dan lain-lain.

Ketertiban dan kebersihan sekolah. 
Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib dan lingkungan 
yang bersih tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran. 
Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh, 
penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan 
yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu 
dan kurang optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah harus 
merasa senang dan betah seperti ketika berada di rumahnya sendiri 
(feels like second home).

Lihat prestasi dan keberhasilan alumninya. 
Kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih sekolah yang 
ideal adalah prestasi dan profil output-nya. Sekolah yang baik, 
selain unggul di dalam proses, juga unggul pada hasilnya. Seperti 
telah diurakaikan di muka, yang disebut prestasi tidak hanya secara 
akademik, tetapi juga non akademik baik siswa, guru maupun 
institusinya. 

Bagaimana perkembangan bakat dan potensinya, sikap, perilaku, 
kemandirian, keterampilan dan keahlian lain yang mendukung. 
Sedangkan Keberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah 
dapat diterima di sekolah lanjutan yang kualitasnya baik serta 
memiliki life skill yang cukup untuk mampu eksis di tengah 
masyarakat.

Dari paparan di atas, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi 
orang tua dan anak di tengah euforia kebingungan mencari sekolah 
yang ideal. Terlebih-lebih dengan diterapkannya sistem penerimaan 
siswa baru (PSB) on line yang masih mengedepankan nilai akademik 
(ujian nasional) di dalam proses seleksinya. Hal ini, tentu saja 
membuat keresahan dan kepanikan tersendiri terutama bagi yang 
nilainya di bawah atau pas-pasan. 

Penulis berharap, kedepan sistem seleksi penerimaan siswa baru yang 
sekarang ini berlaku perlu dikaji secara mendalam, bukan komponen IT-
nya (sistem on line), tetapi kriteria yang dijadikan alat 
penerimaan, yaitu hanya nilai ujian nasional. Oleh karenanya, pihak 
sekolah sendiri secara otonom yang dapat menentukan kriteria 
penerimaan siswa baru di tempatnya, semoga!

Blog:    http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Email:  [EMAIL PROTECTED]
Big News Today..!!! Let's see here:
www.kabarindonesia.com 




Kirim email ke