Hadiri Diskusi Publik Aceh Institute Hari/Tanggal:Jumat 3 Agustus 2007 | Pukul:16.45-18.15 WIB | Tempat: Kantor Aceh Institute | Tema: Kesalehan versus Kekerasan; Meneropong Peluang Tumbuhnya Budaya Kekerasan Baru di Aceh | Pembicara: 1.Anton Widyanto (Akademisi IAIN Ar-Raniry) 2. Yunidar Z.A.(Partnership)
TOR: Kesalehan Versus Kekerasan; Meneropong Peluang Tumbuhnya Budaya Kekerasan Baru di Aceh Spirit religi selalu mengajarkan bahwa agama adalah ajaran yang membawa kedamaian dan penunjuk arah kebenaran. Agama tentu saja menjadi pedoman hidup bagi setiap kehidupan manusia di dunia ini. Namun demikian, yang namanya manusia tetap saja ada yang baik dan ada yang buruk. Ada yang mengunakan cara-cara elegan dan ada yang radikal. Upaya-upaya penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur agama yang dilakukan oleh pemeluknya bukan tidak terjadi bahkan bisa menjadi budaya (kebiasaan) sehari-hari. Hal ini bisa dilihat dengan adanya bentuk kekerasan yang dilakukan mengatasnamakan agama, baik secara fisik maupun psikis. Tapi yang celakanya, aktivitas kekerasan yang mengusung romantisisme agama ditafsirkan sebagai bentuk kesalehan dan itu benar. Padahal sesungguhnya, kekerasan dan kesalehan adalah dua kutub yang sangat jauh berbeda dan bahkan bertolak belakang. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan atas nama agama. Diantaranya kesalahan dalam memahami ajaran agama kaffah dan faktor eksternal yang mendorong lahirnya kekerasan tersebut. Kekerasan bisa dalam bentuk atas nama ketidakpuasan dimana akarnya adalah rendahnya kepercayaan terhadap penyelenggaran pemerintahan. Fenomena keagamaan di Aceh akhir-akhir ini juga menyiratkan kondisi kearah kekerasan. Dimana sekelompok masyarakat--dengan atas nama agama--melakukan penertiban tempat hiburan, rekreasi, bahkan ajaran yang dianggap sesat dengan cara-cara kekerasan. Lucunya, motif penertiban ini juga atas nama agama. Aktifitas ini diakui sebagai bentuk dari membisunya pemerintah dalam upaya penegakan kebenaran, sehingga ada anggapan kalau ada sekelompok yang melakukan amal makruf nahi mungkar adalah sebuah kewajaran. Aksi sekolompok masyarakat ini tentu mendapatkan respon dari berbagai pihak. Bahkan sampai Wakil Gubernur mengeluarkan pernyataan penting; bahwa tidak boleh ada pemikiran radikal yang tumbuh di Aceh. Dinamika sosial ini tentu menjadi sangat menarik ketika kita coba tinjau dalam wilayah yang lebih luas; budaya, serta tidak melulu agama an sich, maka akan banyak perspektif yang melatarbelakangi kekerasan yang muncul. Salah satunya warisan budaya kekerasan dari konflik masa lalu. Selain itu juga yang penting dilihat adalah relasi yang lama antara budaya dan agama di Aceh. Bahwa secara kultur, Islam menjadi orientasi kebudayaan masyarakat Aceh sedari awal. Relasi ini--antara agama dan budaya-- dan bahkan integrasi agama dalam budaya, menjadi catatan-catatan penting dalam melihat secara kritis persoalan kekerasan yang terjadi dewasa ini.*(HELB & ALKAF) MEKANISME PELAKSANAAN Diskusi ini akan berjalan dengan menghadirkan dua pembicara, sebagai pengantar untuk tema yang didiskusikan. Selanjutnya diskusi akan mengalir dengan lontaran-lontaran gagasan dari peserta. ACEH INSTITUTE - Jl Sultan Iskandar Muda No.SK III/12 Punge Blang Cut Banda Aceh 23234 Phone/Fax +62-651-41682, Phone2:+62-651-7400185 Email: [EMAIL PROTECTED] web: http://www.acehinstitute.org ____________________________________________________________________________________ Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. http://travel.yahoo.com/

