Beruntunglah Kita Tidak Tahu
  Oleh : Mochammad Moealliem
   
  Pernahkah anda dituding oleh orang lain? Atau bahkan dituduh tanpa bukti? 
Atau dilarang orang lain dalam kegiatan anda yang bertujuan baik, dan yang 
melarang anda hanyalah orang-orang yang sakit hati dan dia tak berbuat apapun 
demi kebaikan yang anda lakukan? Jawaban kita tentu mirip dan hampir sama 
"pernah" kecuali orang-orang yang tak berbuat apa-apa, mungkin dia tak pernah 
mengalami hal itu, karena wujuduhum ka adamihi, adanya seperti tidak ada.
   
  Terkadang kita jadi sadar dengan tudingan semacam itu, dan terkadang kita 
akan tenggelam dalam kemarahan, sudah menjadi kodrat manusia adalah tidak rela 
dengan kebahagiaan dan kemajuan orang lain, juga sifat iri dengan apa yang 
dicapai orang lain, sebagaimana pepatah arab, likulli dzi ni'matin mahsud, 
segala sesuatu yang bernilai nikmat ada orang yang iri.
   
  Sebagian orang menuduh orang lain ujub (bangga diri) dengan tuduhan yang 
jelas dan didepan khalayak ramai, bahwa orang yang sering muncul itu adalah 
orang-orang yang bangga diri dan berbagai macam tudingan yang lain yang 
tujuannya mendapatkan kejatuhan orang lain. Padahal si penuduh pun tak bisa 
apa-apa kecuali hanya menuduh itu saja.
   
  Padahal kalau memang punya tujuan baik untuk saling menolong, bukanlah 
mengumbar kesalahan orang lain didepan publik, namun memberitahukannya secara 
pribadi, kecuali memang diperlukan publik untuk tahu. Jika tidak, maka bisa 
dikatakan penuduh itu sedang hasud atau iri dengan kemajuan orang lain. Dan hal 
demikian sebagian besar manusia membudidayakannya.
   
  Ujub adalah ibarat virus bawaan orang-orang berhasil, dan hasud adalah virus 
orang-orang yang kurang berhasil. Semua itu adalah sama-sama virus yang tak 
akan mati dalam hati manusia, namun masih bisa dikendalikan. Sebab tanpa kita 
pupuk viru itu akan tumbuh subur dan mengusai diri kita.
   
  Ketika kita berhasil, entah menjadi orang tercerdas, orang terkaya, orang 
terkenal, orang tertinggi, dan berbagai keberhasilan, maka ingatlah bahwa 
diatas sesuatu masih ada sesuatu. Ingatlah Musa ketika bertanya pada Tuhannya, 
Tuhanku adakah manusia yang lebih pintar dari aku? Ada jawab Tuhannya. Kemudian 
Musa dengan penuh semangat ingin mengetahui dan menemui orang itu, dimana waktu 
itu tidak ada yang pintar melebihi Musa, dan ada rasa bangga pada dirinya 
karena merasa paling pintar.
   
  Pada Akhirnya Musa bertemu seorang hamba dari hamba-hamba-Nya, "Lalu mereka 
bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami 
berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya 
ilmu dari sisi Kami .QS:18:65.
   
  Dalam pertemuan itu mereka melihat seekor burung yang sedang minum air, lalu 
dikatakan pada Musa, pengetahuan kita dibanding pengetahuan Allah, hanyalah 
ibarat air yang di minum burung dengan air samudra yang luas itu, kau lebih 
pintar dari aku dengan apa yang diajarkan Allah kepadamu dan tidak kepadaku, 
dan aku lebih pintar darimu dengan apa yang diajarkan kepadaku tidak kepadamu.
   
  Lalu Musa minta izin pada hamba itu untuk mengikutinya, sebagai usaha 
menambah pengetahuannya, dan hamba itu memberi syarat agar tidak bertanya 
sebelum ia menjelaskannya sendiri apa yang terjadi. Dan terjadi kesepakatan 
dalam hal itu.
   
  Jika pembaca naik sebuah kapal, dan sahabat anda melubangi kapal itu yang 
mengakibatkan kapal itu tenggelam, apa yang anda katakan padanya??tentu lebih 
kasar dari kata-kata Musa pada Khidir "....Musa berkata: "Mengapa kamu 
melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya 
kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.QS:18:71.
   
  Pembaca bisa simak kisahnya secara lengkap pada surat al kahfi mulai ayat 60, 
disini penulis hanya mengambil bahwa pengetahuan manusia itu bervariasi, Nabi 
Musa berkata begitu karena secara dhohir hal demikian itu memang salah, dan 
Nabi Khidlir berbuat seperti itu secara hakikat adalah benar.
   
  Dalam ajaran Islam juga begitu, orang-orang yang berpegang teguh dengan 
syariat saja, maka akan bersikap seperti nabi Musa, dan akan memberi hukum 
terhadap hal-hal yang dlohir dan dekat, sedangkan yang berpegang teguh hanya 
pada hakikat saja maka akan seperti nabi Khidlir, yang memberi hukum terhadap 
hal-hal yang akan terjadi dan jauh. Maka sebaiknya bagi umat islam bisa memakai 
dua metode ini dengan bersamaan, Syariat dan hakikat secara imbang, Syariat 
tanpa hakikat adalah kosong dan kering, Hakikat tanpa syariat adalah bohong. 
Jasad tanpa Ruh adalah bangkai, Ruh tanpa jasad adalah hantu.
   
  Hukum-hukum syariat adalah mengatur aktifitas jasad, sedangkan hukum-hukum 
hakikat adalah pengaturan jiwa, jasad yang sehat jika jiwanya sakit maka akan 
berakibat korupsi merajalela, kebodohan dan dibodohi menjadi budaya, saling 
tuding saling tendang dan lain sebagainya. Begitupun jiwa sehat namun badan 
sakit juga tak mampu beramal yang banyak.
   
  Jika kita mengambil sari dari kisah Musa dan Khidlir maka akan kita dapatkan 
bahwa, secara syariat Musa benar, dan secara hakikat Khidlir benar. Secara 
hakikat Musa salah dan secara syariat Khidlr salah. Namun coba anda lihat 
penjelasan terakhirnya, lebih bagus mana hasil dari syariat dan hakikat?
   
  Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, 
dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang 
raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya 
adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua 
orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya 
Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya 
dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya . Adapun dinding rumah adalah 
kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda 
simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka 
Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan 
mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku 
melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan 
perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".QS:18
 :79-82
   
  Begitulah dua pandangan kita, ada yang memandang secara dekat dan ada yang 
memandang secara jauh, Nabi Musa tidak tahu kalau akan terjadi seperti itu, 
yang dipandang hanyalah pengrusakan terhadap kapal itu, berbeda dengan nabi 
Khidlr yang dipandang adalah bagaimana menyelamatkan perahu itu dari perampas.
   
  Kalau saja yang memutuskan nabi Musa tentu tidak akan dilubangi, dan itu 
secara dekat benar, namun perahu itu akan hilang dirampas orang nantinya, maka 
secara akibat Musa bersalah karena tidak menyelamatkan perahu orang miskin itu. 
Kalau saja nabi Khidlir tidak berbuat seperti itu maka dia bersalah, karena dia 
sudah diberitahu kalau akan ada perampas perahu, maka kalau dia berbuat seperti 
itu adalah benar.
   
  Apa kiranya pembaca bingung??jika memang pembaca bingung itu adalah isyarat 
akan mendapat kejelasan.
   
  Untuk yang kurang berhasil penyakit bawaan adalah iri, maka ingatlah ayat ini 
   
  "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada 
sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.  bagi orang laki-laki 
ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita  ada 
bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari 
karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”QS: 4:32
   
  Juga ingatlah surat al falaq, bahwa pendengki yang sedang melakukan dengki 
itu sejajar dengan kejahatan wanita-wanita penyihir, kajahatan malam, dan 
kejahatan makhluq yang ada, maka berlindunglah pada tuhan penguasa subuh.
   
   Beruntunglah kita tidak tahu, andai saja kita tahu mungkin kita tak akan 
mampu berbuat seperti nabi Khidlir, kita hanya mampu berbuat seperti nabi Musa, 
menghukumi sesuatu yang tampak jelas dan jangka pendek saja.
   
  Beruntunglah pembaca tidak tahu, kalau saja sudah tahu, apalah gunanya saya 
tulis ini, sebab sudah tahu apa yang akan saya tulis he he he, beruntung pula 
penulis tidak tahu, apakah pembaca ini akan selamanya hanya membaca atau juga 
akan menulis? Dan dengan itu aku bisa berharap pembaca juga bisa menulis.
   
  Alliem
  Senin, 06 Agustus 2007
  Seberuntungnya orang yang tidak tahu, masih beruntung orang yang tahu.


  
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  :: Mochammad Moealliem ::  http://www.muallimku.tk

           ::   Bergabunglah! di Komunitas Sahabat Lintas Batas, 
http://www.kangguru.tk/ ::



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke