Masyarakat Ibu Kota kini hiruk pikuk membincangkan pilkada - pemilihan gubernur 
DKI Jaya. Coblosan secara langsung yang pertama kalinya. Maklum, dulu gubernur 
DKI "wajib" dari kalangan militer dan ditunjuk langsung - alias tak dipilih 
oleh rakyat. 
   
  Media massa sibuk berburu berita soal pilkada dan gegap-gempita kampanye 
jalanan yang menyertai. Pilihan cuma ada dua: Adang atau Foke. Adang jelas 
digemari para pendukung PKS. Sedangkan Foke disukai orang-orang yang cinta 
kemajemukan yang warna-warni.
   
  Tanggal 8 Agustus buat sebagian orang membingungkan: libur, tidak libur, 
libur, tidak libur. Kemarin ada beberapa teman yang minta dikirimi arsip surat 
soal libur resmi dari pemerintah lewat email.
   
  Nah, apakah dengan pilkada ini berarti sistem demokrasi sudah diterapkan 
secara menyeluruh di wilayah Jakarta? Tidak! Pasalnya 5 penguasa wilayah 
kotamadya belum dipilih langsung oleh rakyat. Mereka adalah Walikota Jakarta 
Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara. Selama 
ini jabatan Walikota selalu ditunjuk langsung. Di masing-masing kotamadya 
tersebut juga tak memiliki DPRD Tingkat II. Semuanya menumpuk di DPRD Tingkat 
I. Bagaimana Jakarta akan berubah menuju yang lebih baik, kalau begitu? 
   
  Mari kita lihat ke provinsi lain: semua walikota dan bupati sudah dipilih 
langsung oleh rakyat, bukan cuma gubernurnya saja.
   
   
   
     


e-mail: [EMAIL PROTECTED]
  blog: http://mediacare.blogspot.com

       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke