>Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah
>
>"Where books are burned, human beings are destined to be burned too..." *
>-- Heinrich Heine
>
>Pada 20 Juli lalu, Kejaksaan Negeri Depok membakar 1.247 buku sejarah, bahan
>pelajaran sekolah menengah pertama dan atas, karya guru-guru sejarah.
>Pembakaran ini dilakukan Kepala Kejaksaan Negeri Bambang Bachtiar, Kepala
>Dinas Pendidikan Asep Roswanda dan Walikota Nurmahmudi Ismail.
>
>Penyitaan maupun pembakaran buku-buku sejarah ini juga terjadi di Bogor,
>Indramayu, Kendari, Kuningan, Kupang, Pontianak, Purwakarta dan kota-kota
>lain di Indonesia. Dasar hukumnya, menurut para jaksa, adalah keputusan
>Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh pada Maret 2007 dimana Kejaksaan Agung
>melarang buku-buku itu, yang dibuat dengan dasar kurikulum pendidikan tahun
>2004. Mereka dituduh tak mencantumkan kata ³PKI² dalam menerangkan Gerakan
>30 September 1965. Penelitian terhadap isi buku-buku sejarah itu dilakukan
>Kejaksaan Agung atas permintaan Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo.
>
>Kami prihatin menyaksikan peristiwa ini. Kami belum tentu setuju dengan isi
>dari buku-buku itu. Namun kami tidak setuju pembakaran. Pembakaran buku ini
>mengingatkan kami pada pembakaran buku-buku yang dilakukan di Berlin dan
>berbagai kota lain di Jerman pada Mei 1933. Ketika itu, sambil menyanyikan
>lagu-lagu Nazi, para pendukung Adolf Hitler tersebut menghanguskan buku-buku
>karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas Mann, Jack London, HG Wells
>serta berbagai penulis lain. Buku-buku itu dianggap musuh Nazisme.
>
>Kami menyayangkan peristiwa pelarangan dan pembakaran buku ini, yang bukan
>pertama kali terjadi di Indonesia. Membakar dan merusak buku, dengan dalih
>apapun, merupakan tindakan yang lebih berbahaya dan lebih biadab daripada
>sensor atau pelarangan. Sulit untuk tak menyamakan pembakaran buku-buku ini
>dengan apa yang telah dilakukan kaum Nazi. Sulit juga bagi kami untuk
>menyamakan tindakan pembakaran ini dengan semangat fasisme, yang anti
>demokrasi dan anti hak asasi manusia.
>
>Pembakaran buku menunjukkan bahwa pelaku pembakaran tak dapat menerima
>perbedaan pandangan, sesuatu yang niscaya dalam demokrasi. Lebih dari itu,
>pembakaran buku juga merupakan bentuk teror, tindakan menakut-nakuti bagi
>orang yang hendak menulis buku, dalam perspektif yang berbeda dengan
>penguasa.
>
>Membakar buku merupakan tindakan kaum fasis yang tak pernah toleran kepada
>pendapat lain. Benito Mussolini, tokoh Itali yang memperkenalkan fasisme,
>merangkan bahwa fasisme adalah segala sesuatu untuk memerangi sistem dan
>ideologi demokrasi, serta melawannya dalam aras teori maupun praktek. **
>
>Oleh karena itu, atas dasar akal sehat dan demokrasi, kami menyatakan:
>
>PERTAMA, menuntut permintaan maaf secara terbuka para pelaku pembakaran buku
>sejarah di Depok dan kota-kota lain, atas tindakan mereka yang bertentangan
>dengan sila kedua dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
>
>KEDUA, menuntut kepada pemerintah Indonesia di semua tingkatan, terutama
>jajaran kejaksaan, untuk tak lagi menyikapi perbedaan pendapat dengan teror
>dan tindakan menakut-nakuti atau membakar buku --melainkan dengan membuka
>dialog ataupun debat publik demi melindungi demokrasi.
>
>KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan apapun.
>Bila terdapat perbedaan pandangan, yang diwakili sebuah buku, hendaknya
>dijawab dengan menerbitkan buku baru, yang mencerminkan pandangan yang
>berbeda --bukan dengan larangan.
>
>Demikian pernyataan kami. Semoga demokrasi di negeri ini tetap abadi.
>
>LAWAN FASISME, REBUT DEMOKRASI!
>
>Jakarta, 7 Agustus 2007
>
>Masyarakat Pencinta Buku Dan Demokrasi***
>
>Abdul Malik (aktivis Garda Kemerdekaan)
>Abdullah Alamudi (Dewan Pers)
>Abdurrahman Wahid (mantan presiden Republik Indonesia)
>Aboeprijadi Santoso (wartawan, pensiunan Radio Nederland di Hilversum)
>Agus Suwage (pelukis, tinggal di Jogjakarta)
>Ahmad Taufik (wartawan majalah Tempo, seorang deklarator Aliansi Jurnalis
>Independen)
>Alex Asriyandi Mering (wartawan, Borneo Tribune di Pontianak)
>Amalia Pulungan (aktivis Institute Global Justice)
>Andreas Harsono (wartawan, ketua Yayasan Pantau)
>Andy Budiman (wartawan SCTV)
>Anick H.T. (Jaringan Islam Liberal)
>Anugerah Perkasa (wartawan, harian Bisnis Indonesia)
>Asiah (koordinator Kontras Aceh)
>Asvi Warman Adam (sejarawan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
>Ayu Utami (novelis ³Saman² dan ³Larung²)
>Bekti Nugroho (wartawan, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Dewan Pers)
>Bonnie Triyana (sejarawan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
>Budi Putra (sejarawan, wartawan, Asia Blogging)
>Budi Setiyono (sejarawan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
>Coen Husain Pontoh (penulis, aktivis, tinggal di New York)
>Daniel Dhakidae (penulis ³Cendekiawan dan Kekuasaan dalam negara Orde Baru²)
>Eko Endarmoko (penyusun ³Tesaurus Bahasa Indonesia²)
>Elias Tana Moning (Pendidikan Luar Sekolah, Outreach International)
>Eva Danayanti (direktur eksekutif Yayasan Pantau)
>Eva Sundari (anggota DPR, Fraksi PDI-Perjuangan)
>Fadjroel Rahman (kolumnis harian Kompas)
>Faisal Basri (ekonom tinggal di Jakarta)
>Frans Anggal (pemimpin redaksi harian Flores Pos di Ende)
>Franz Magnis Suseno (dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)
>Ganjar Pranowo (sekretaris Fraksi PDI-Perjuangan DPR)
>Garda Sembiring (People's Empowerment Consortium)
>Garin Nugroho (sutradara)
>Goenawan Mohamad (kolumnis ³Catatan Pinggir² majalah Tempo)
>Hairul Anwar (wartawan, Pantau Aceh)
>Hamid Basyaib (Freedom Institute)
>Hans Luther Gebze (penulis, aktivis Papua, kelahiran Merauke)
>Hasif Amini (editor jurnal kebudayaan Kalam)
>Hendra Fadli (aktivis hak asasi manusia, Kontras Aceh)
>Hilmar Farid (sejarawan, Jaringan Kerja Budaya)
>Ignas Kleden (Center for East Indonesian Affairs, Komunitas Indonesia untuk
>Demokrasi)
>Imam Syuja (anggota DPR dari Partai Amanat Nasional, Banda Aceh)
>Iqbal Farabi (Sekretaris Jendral Asosiasi Advokat Indonesia, Aceh)
>J.J. Riza (sejarawan, Komunitas Bambu, Jakarta)
>Jeni Putri Tanan (aktivis gereja, penulis buku ³Tangan Pernyertaan Tuhan²)
>Kaka Suminta (wartawan Harian Terbit, tinggal di Subang)
>Linda Christanty (penulis ³Kuda Terbang Maria Pinto², editor sindikasi
>Pantau Aceh)
>Longgena Ginting (aktivis lingkungan hidup, Amsterdam)
>Luthfi Assyaukanie (Universitas Paramadina)
>M. Chatib Basri (ekonom)
>M. Ridha Saleh (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia)
>Marco Kusumawijaya (ketua Dewan Kesenian Jakarta)
>Melani Budianta (dosen Universitas Indonesia)
>Mellyana Frederika Silalahi (penyiar radio, penulis, Bandung)
>Moeslim Abdurrahman (PP Muhammadiyah, Ma¹arif Institute for Culture and
>Humanity)
>Mohamad Guntur Romli
>(menulis buku ²Ustadz, Saya Sudah di Surga²)
>Muhlis Suhaeri (penulis, tinggal di Pontianak)
>Mulyani Hasan (Sekretaris Jendral Aliansi Jurnalis Independen, Bandung)
>Mustawalad (Redelong Institut, Aceh)
>Ninuk Kleden-Probonegoro (anthropolog, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
>Nirwan Dewanto (Teater Utan Kayu)
>Nong Darol Mahmada (Jaringan Islam Liberal)
>Nurani Soyomukti (aktivis Yayasan Komunitas Taman Katakata, Jakarta)
>Rebeka Harsono (direktur Lembaga Anti Diskriminasi Indonesia)
>Riri Riza (sutradara)
>Rizal Mallarangeng (Freedom Institute)
>Rosiana Silalahi (direktur pemberitaan SCTV)
>Saiful Haq (Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia)
>Saiful Mujani (Lembaga Survei Indonesia)
>Samiaji Bintang (wartawan, Pantau Aceh)
>Santoso (direktur Kantor Berita Radio 68H)
>Sapariah Saturi-Harsono (wartawan, Ikatan Perempuan Pelaku Media, Pontianak)
>Sari Safitri Mohan (penulis, tinggal di New York)
>Setia Darma Madjid (ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia)
>Siti Maemunah (Jaringan Advokasi Tambang)
>Siti Musdah Mulia (direktur Indonesian Conference on Religion and Peace)
>Siti Nurrofiqoh (ketua Serikat Buruh Bangkit Tangerang)
>Sonny Tulung (presenter televisi ³Famili 100²)
>Subro (aktivis Madura, Sekolah Mitra Masyarakat di Pontianak)
>Suciwati (Tifa Foundation, isteri almarhum Munir)
>Syamsudin Harris (peneliti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
>Teguh Santosa (wartawan, Rakyat Merdeka, mahasiswa University of Hawaii)
>Titarubi (perupa, tinggal di Jogjakarta)
>Todung Mulya Lubis (pengacara)
>Tony Prabowo (komposer)
>Ucu Agustin (novelis ³Being Ing² dan membuat dokumentasi Pramoedya Ananta
>Toer)
>Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal, mahasiswa Universitas Harvard,
>Cambridge)
>Wandy N. Tuturoong (Komunitas Utan Kayu)
>Winston Rondo (koordinator Perkumpulan Relawan CIS Timor, Kupang)
>Yeni Rosa Damayanti (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika)
>
>
>INFORMASI MEDIA:
>Wandy N. Tuturoong 
><<mailto:binyo%40mail.minihub.org>[EMAIL PROTECTED]> +815 86005815
>Mohamad Guntur Romli 
><<mailto:mgromli%40yahoo.com>[EMAIL PROTECTED]> +815 13191313
>Eva Danayanti <<mailto:eva%40pantau.or.id>[EMAIL PROTECTED]> +817 4811171
>
>
>Catatan Kaki:
>
>* ³Dimana buku dibakar, disana pula manusia akan dibakar в
>
>** Benito Mussolini (1932) menerangkan, ³... fascism combats the whole
>complex system of democratic ideology, and repudiates it, whether in its
>theoretical premises or in its practical application" (Modern History
>Sourcebook).
>
>*** Penandatanganan atas nama pribadi, keterangan hanya keperluan
>identifikasi




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke