http://www.acehinstitute.org » Kolom OASE Web Aceh Institute 240807 |
Baca Qur'an | Oleh: Saiful Mahdi, Koordinator Aceh Institute ADA romantisme tersendiri bagi orang Aceh yang sering ke luar Aceh, entah untuk dagang, studi atau keperluan lain. Konon, sejak dulu orang Aceh dianggap agamis dan lebih alim. Karena itu, kalau ada shalat berjamaah, dan ada orang dari Aceh di tengahnya, seringkali orang mendorong Tgk. Aceh itu jadi imam. Pedagang Aceh didaulat jadi imam shalat jamaah di pajak pagi atau surau pasar ikan di Medan saat mereka berbelanja untuk keperluan tokonya. Dalam perjalanan kapal penumpang Belawan-Tj. Periok, yang sempat populer sebelum era tiket pesawat terbang murah, orang Aceh juga sering didapuk jadi imam. Selama tiga hari dua malam perjalanan laut itu, pasti ada Tgk. Aceh yang jadi imam dadakan di kapal dengan ribuan penumpang itu. Pramuka asal Aceh sering diminta jadi muazin bahkan imam saat acara jambore. Pemuda dan birokrat asal Aceh menjadi pemimpin kegiatan agama Islam di acara-acara dan pertemuan nasional. Mahasiswa asal Aceh menghidupi mushala dan menjadi aktifis dakwah kampus di berbagai mesjid kampus yang menjadi almamaternya. Sekali mendengar, orang memuji bacaan shalat dan doa orang Aceh. Merdu, indah dan enak didengar dengan lafaz yang fasih. Adab dan tajwid terjaga. Adat merantau orang Aceh diwarnai dengan budaya perkauman di seputar meunasah. Konon, kemana saja orang Aceh pergi, yang pertama dicari adalah kaom dan mesjid atau mushalla dimana orang Aceh sering berkumpul. Orang Aceh membangun meunasah Aceh di Pasar Minggu, Jakarta, di Chow-Kit, Kuala Lumpur sampai ke Swedia. Imigran pendidikan, ekonomi dan politik Aceh di Amerika belakangan juga sedang berusaha mendirikan sebuah meunasah Aceh di Amerika. Pemuda dan mahasiswa Aceh tampil ke depan menawarkan diri untuk mengumandangkan azan di mesjid manapun yang disinggahinya. Mahasiswa, calon doktor dari Aceh menjadi imam dan khatib shalat Idul Fitri dan Adha di Jerman. Penerima beasiswa Fulbright menjadi muazin dengan suaranya yang indah di mesjid Fayetteville, Arkansas, AS. Itulah profil dan karakter orang Aceh yang dikenal orang di luar Aceh. Makanya ada panggilan Tgk. Aceh. Paling tidak sampai sebelum konflik memanas dan ada usaha membunuh karakter orang Aceh dengan stigma ganja, GPK dan pemberontak. Apakah itu tinggal romantisme masa lalu? Memang ada kekhawatiran bahwa generasi yang lebih muda saat ini tidak lagi menunjukkan profil Tgk. Aceh seperti di atas. Kalau sempat ke luar Aceh, apalagi ke kota yang lebih besar, kita lebih sibuk mencari mall dan pusat belanja lainnya ketimbang mencari dan merindui mesjid. Apatah lagi mencari kaom di tengah pasar yang penuh sesak yang belum tentu sekelas dengan kita. Padahal, pedagang Aceh terkenal sebagai pekerja keras, jujur, dan dekat dengan Islam, seperti halnya sejarah Islam dunia. Buntut dari kekhawatiran itu mungkin telah menjadi salah satu pemicu usaha mewajibkan kemampuan baca Al-Quran dalam kurikulum sekolah di Aceh. Setelah pemberlakuan Syariat Islam, kewajiban untuk anak sekolah ini kini merambah sampai ke penerimaan pegawai hingga pemilihan gubernur dan bupati. Sebagian mungkin dengan niat yang ikhlas dan cara-cara yang elegan, baik dan benar. Tapi kelindan kepentingan tampaknya dengan mudah dapat memlintir niat suci menjadi sekedar permainan politik. Dengan profil dan karakter Tgk. Aceh sedemikian rupa, sungguh mengherankan jika orang-orang muda dan pintar sekarang ini tak lulus tes baca Al-Quran. Seperti yang terakhir terjadi dalam seleksi balon bupati dan wakil bupati Aceh Selatan baru-baru ini. Apakah memang profil dan karakter orang Aceh yang telah berubah, atau politisasi agama, kali ini lewat tes baca Al-Quran, semakin semakin meruyak di Aceh? Aroma muatan politik terasa makin kencang ketika Gubernur Irwandi sampai turun tangan menanggapi keluhan para balon yang protes dan merasa dirugikan. Apapun argumentasinya, satu hal tak terbantahkan. Profil dan karakter Tgk. Aceh yang santun, alim, dan agamis yang ditunjukkan oleh generasi sebelumnya tidak dibangun di atas formalisasi Syariat Islam seperti yang berlaku di Aceh sekarang ini. Tak ada kewajiban formal baca Quran. Orang Aceh memang lahir dan hidup dalam lingkungan dan budaya seputar kaumnya yang agamis dengan pusat pusarannya adalah meunasah. Jangan-jangan, kita sibuk membangun hukum syariat tapi tidak punya dan lupa membangun meunasah?(Saiful Mahdi, Arkansas, USA) Semua Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2007 Silahkan mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan isi website ini dengan menyebutkan nama penulis asli dan "Aceh Institute" sebagai sumbernya dengan link www.acehinstitute.org Original Source/URL: http://www.acehinstitute.org/oase_saiful_mahdi_240807_baca_quran.htm ____________________________________________________________________________________ Luggage? GPS? Comic books? Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

