Serial Puisi-puisi Kritik Politik
  Oleh Andrinof A Chaniago
   
   
  Senjata
  (untuk Dek Pendi alias Effendi Gazali di Republik Mimpi)
   
   
  Semenjak ranah politik tidak lagi berbau mesiu
  rakyat memang tidak lagi perlu waspada pada desing peluru
  karena senjata tidak lagi leluasa membuat luka 
  ataupun menjemput nyawa
   
  Tetapi janganlah lekas puas 
  hanya karena politik telah bebas senjata logam
  Sebab, di tangan para pemburu harta dan kuasa ada senjata yang lebih tajam
  bunyinya tidak mendesing mebuat bulu kuduk merinding
  juga tidak meledak membuat telinga kita pekak
  bentuknya tidak runcing sehingga nyali bergeming
  Tetapi senjata itu tetap tajam tatkala menghujam
   
  Ranah politik memang sudah tidak lagi menumpahkan darah
  karena senjatanya kini tidak membuat luka atau mencabut nyawa
  tetapi ia membunuh nalar ajar
  yang telah dibangun lewat program wajib belajar
   
  Jangan cari senjata tajam itu di gudang peluru
  Atau di kendaraan prajuritmu
  Dia ada di genggamanmu
  Yang pernah kau buka, kau lihat dan kau baca
  Bentuknya adalah iklan setengah atau satu halaman
  Kadang-kadang berisi angka-angka ekonomiterika dan statiska
  Kadang-kadang berisi potret orang cerdas berkacamata
  Yang disertai kata-kata bergaya prosa
  Itulah dia senjata di ranah politik kita
   
  Senjata itu tidak menggores luka dan menumpahkan darah
  Juga tidak langsung mencabut nyawa berbilang jumlah
  Tetapi ia membuat kebodohan menjadi abadi
  Kemiskinan massal menjadi tersembunyi
  Politik hampa etika
  di balik slogan gagah efisiensi dan demokrasi
   
  Iklan setengah halaman atau satu halaman media massa
  Dengan angka-angka ekonometrika dan statistika 
  Atau foto orang pintar berkaca mata
  Itulah senjata para pemburu harta dan kuasa
   
  Dampak senjata itu nyata
  ketika harga BBM naik
  rakyat kecil tercekik
  ramalan pemilik senjata itu terbalik
  menjanjikan angka kemiskinan akan turun menukik
  ternyata malah melonjak naik
   
  Dampak senjata itu masih terasa
  ketika pilkada rampung
  suara rakyat selesai ditelikung
  sementara pemburu kuasa dan harta kembali berhitung
  untuk membagi untung
   
  Senjata itu adalah iklan dengan sedikit dusta
  anak kandung perselingkuhan modal dan tahta
  yang kini menular dalam spanduk-spanduk di ruang terbuka
  di bawah lindungan sistem demokrasi pura-pura
  ditemani sistem ekonomi pasar yang tidak sempurna
  yang melahirkan korban dalam jumlah berjuta 
  mereka yang tidak kelebihan harta dan tidak ikut berkuasa
   
   
  (Suatu pagi di jalan Kemangi, 24/08/07)
   
   
   
   
  Sang Birokrat
   
  Sang Birokrat
  berbaju cokelat
  sepatu sedikit mengkilat
  kerja dari rapat ke rapat
  berlomba mengejar naik pangkat
   
  Sang Birokrat
  jarang berkeringat
  merasakan nikmat 
  dari haus hormat
  dapat jaminan hidup sepanjang hayat
  tapi lupa daulat rakyat
   
   
                                                  Kampus UI, 24/08/2007.
   
  Puisi untuk Wakil Rakyat 
  Oleh Andrinof A Chaniago
   
   
  Di masa pemilu dahulu
  Kami lihat gerak bola matamu seperti radar angkatan perang
  Yang dapat melacak suara jangkrik di waktu siang
  Sehingga, kami sempat percaya bahwa Tuan-tuan tahu apa yang kami mau
  Kami pun sempat percaya bahwa Tuan-tuan akan menjadi pelindung kami
  dari orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri sendiri
  yang hanya ingin menjadikan kuasa dan harta sebagai senjata
   
  Lewat retorikamu di saat kampanye dulu
  Kami percaya Tuan-tuan akan akan bersiaga untuk kami sepanjang waktu
  Menunggu keluh kesah rakyatmu
  Menampung dan merundingkan aneka kehendak kami
  diantara sesama para politisi
   
  Tetapi setelah masa kampanye jauh berlalu
  Kursi berputar menyambut sibukmu
  Rumah rakyat yang sejuk mememelukmu
  Birokrasi menjadi penyaring tamu-tamumu
  Kita pun berjarak seperti tak pernah saling tahu
   
  Jauh di luar ruang kerjamu 
  ada pagar kekar berteralis baja
  Di sana kami berdiri berharap akan sapaanmu
  dan bersiap dengan pertanyaan:
  Mengapa diammu bukan lagi perenungan?
  Mengapa tidurmu bukan lagi jeda pengabdian?
  Mengapa retorikamu menjadi tanpa logika?
   
  Di kejauhan pun kami mendengar
  Suara tinggi mu menggelegar 
  menggertak usulan rakyatmu sendiri
  yang tengah berharap tegaknya demokrasi sejati
  lewat Pemilu dan Pilkada yang bisa menghasilkan pemimpin sejati
  (Kami pun bertanya, “Mengapa tuan-tuan tidak berkenan ketika ada orang ingin 
menjadi pemimpin sejati negeri ini?”)
  Dengan sigap tuan-tuan berujar, 
  “Calon perorangan merusak sistem!”
  “Calon perorangan harus didukung 15% suara sah!”
  Dan seterusnya.. dan seterusnya…
   
  Kami menjadi teringat ketika berjalan menuju ruangan kantormu 
  Di sana kami melintasi para penjaga berseragam bak bala tentara Kaisar Romawi
  Yang sigap menyuruh kami memarkir kendaraan jauh dari halaman parkirmu
  Sehingga kami harus berlari menghindari sengatan terik matahari
   
  Masih bisakah kami percayai janjimu 
  Ketika acungan telunjukmu bukan lagi tanda janji
  Tetapi pengawal ucapanmu 
  bahwa wakil rakyat adalah pemilik kekuasaan legislasi
   
  Kami pun mulai sadar 
  bahwa wakil rakyat di zaman kini 
  sudah membedakan antara penyalur aspirasi dan kekuasaan legislasi
  sudah membedakan antara kompetisi dan demokrasi
   
  Di media massa kami membaca
  Retorika-retorika barumu yang merobek makna
  dan jawaban-jawabanmu yang makin jauh dari logika
  mencampuradukkan energi sekumpulan partai dengan energi seorang manusia
  yang tidak ada contohnya di mancanegara
   
  Kini kami merasa seperti orang-orang yang ditinggal pergi
  Oleh Tuan-tuan yang dulu mengaku ingin menjadi wakil-wakil kami
  dan dulu pernah memberi janji 
  bahwa engkau akan menampung suara hati kami
  Tetapi ternyata waktu itu kami hanya bermimpi
   
  Retorika dan olah mimikmu tentu saja membuat banyak orang terpesona
  melumpuhkan niat orang-orang muda yang akan berdemonstrasi
  Bahkan membuat para lansia mengangguk-angkuk sambil tertawa
  Yang memberi pertanda bahwa akal sehat tidak lagi berdaya
   
  Karena logika menjadi tidak berguna
  Sementara politik dilanda krisis etika
  dan kebijakan-kebijakan tercerabut dari kedaulatan rakyat
  maka hari ini kami menyapamu dengan puisi
   
   
   
  Depok, 21 Agustus 2007
   
   

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke