" menuntut ilmu adalah wajib hukumnya" 

saya pernah belajar ilmu2 sekuler sejak Sekolah Dasar seperti : matematika, 
fisika, biologi, kimia, antropologi, sosiologi, geografi, perbintangan, dan 
lain-lain.
saya hingga saat ini belum bisa menemukan temuan temuan seperti halnya 
penemu-penemu orang yang ahli ilmu-ilmu tersebut seperti thomas alfa edison, 
alexander graham belt, newton dll dikarenakan saya kurang mendalami betul ilmu2 
tersebut.
saya juga belajar ilmu agama tentang : akhidah, syariat, akhlak, tharekat, 
serta hakekat dan insyallah saya "MUSLIM".

Mudatsir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               Syariah dan 
Khilafah demi Indonesia
 Muhammad Ismail Yusanto, JURU BICARA HIZBUT TAHRIR INDONESIA
 
 Meski dihadang berbagai rintangan, Konferensi Khifalah Internasional (KKI) 
 yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 12 Agustus, 
 yang bertepatan dengan 28 Rajab lalu, berlangsung dengan sangat sukses. 
 Lebih dari 100 ribu peserta dari seluruh pelosok Indonesia dengan beragam 
 latar belakang, bahkan dari sejumlah negara, hadir memenuhi setiap kursi 
 yang tersedia di Gelora Bung Karno, Jakarta. Seluruh rangkaian acara 
 mengalir lancar.
 
 Tiga pembicara dari luar negeri: Profesor Dr Hassan Ko Nakata (guru besar 
 Doshisha University, Kyoto/Presiden Asosiasi Muslim Jepang), Dr Salim Atcha 
 (Hizbut Tahrir Inggris), dan Syekh Usman Abu Khalil (Hizbut Tahrir Sudan), 
 menyampaikan materi dalam konferensi, dilengkapi oleh lima pembicara dari 
 dalam negeri, yakni Profesor Dr Din Syamsuddin (Ketua Umum PP 
 Muhammadiyah/Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia), Aa Gym (PP Daarut 
 Tauhid, Bandung), KH Amrullah Ahmad (Ketua Umum Syarikat Islam), dan Tuan 
 Guru Turmudzi (Syuriah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat) serta KH Tohlon 
 (MUI Sumatera Selatan).Kekhawatiran sejumlah pihak bahwa konferensi akan 
 berubah menjadi gerakan politik yang akan memicu anarkisme massa tidaklah 
 terbukti, karena acara itu memang tidak dimaksudkan untuk hal itu. Dari awal 
 hingga akhir, semua peserta mengikuti acara dengan tertib. Dalam sambutan 
 selamat datang, saya sebagai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia menegaskan 
 bahwa KKI dilaksanakan semata sebagai medium untuk meneguhkan komitmen umat 
 Islam terhadap perjuangan penegakan syariah dan khilafah, bukan sebagai 
 ajang deklarasi partai, apalagi deklarasi khilafah. Juga bukan sebagai aksi 
 unjuk kekuatan atau kebesaran.Khilafah adalah sistem politik Islam untuk 
 menerapkan syariat Islam dan menyatukan umat Islam seluruh dunia. Dalam 
 sejarahnya yang membentang lebih dari 1.400 tahun, khilafah atau sultan atau 
 imam (tiga istilah yang mengandung pengertian yang sama) dengan segala 
 dinamikanya, termasuk dengan kelemahan dan kekurangannya, secara praktis 
 telah berhasil menyatukan umat Islam seluruh dunia dan menerapkan syariah 
 Islam sedemikian sehingga kerahmatan Islam yang dijanjikan benar-benar dapat 
 diwujudkan.
 
 Dr Ali Muhammad al-Shalabi dalam kitab Al-Daulah al-Utsmaniyah, 'Awamilu 
 al-Nuhud wa Asbabu al-Suqut menggambarkan dengan sangat jelas peran 
 kekhilafahan ini dalam melanjutkan kegemilangan peradaban Islam yang telah 
 dibangun oleh para khulafa sebelumnya. Tak aneh bila Paul Kennedy dalam The 
 Rise and Fall of the Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 
 1500 to 2000, menulis: Empirium Utsmani, dia lebih dari sekadar mesin 
 militer, dia telah menjadi penakluk elite yang telah mampu membentuk satu 
 kesatuan iman, budaya, dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas daripada 
 yang dimiliki oleh Empirium Romawi serta untuk jumlah penduduk yang lebih 
 besar. Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, dunia Islam telah jauh 
 melampaui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian 
 luas, terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya 
 memiliki universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid yang 
 indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan, dan aspek-aspek lain 
 dari sains dan industri, kaum muslimin selalu berada di depan.
 Maka tepat sekali bila Imam Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fi al-I'tiqad 
 menggambarkan eratnya hubungan antara syariah dan khilafah bagaikan dua sisi 
 dari satu mata uang dengan menyatakan, "Al dinu ussun wa al-shultanu 
 harisun-agama adalah tiang dan kekuasaan adalah penjaga". "Wa ma la ussa 
 lahu fa mahdumun wa ma la harisa lahu fa dha'i-apa saja yang tidak ada 
 asasnya akan roboh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan hilang".
 
 Tapi, pada 28 Rajab 86 tahun lalu, sejarah khilafah berakhir. Kemal Pasha, 
 politikus keturunan Yahudi dengan dukungan pemerintah Inggris, secara resmi 
 meng-abolish (menghapuskan) kekhilafahan, yang waktu itu berpusat di Turki. 
 Dengan hancurnya payung dunia Islam itu, umat Islam hidup bagaikan anak ayam 
 kehilangan induk, tak punya rumah pula. Maka tak berlebihan kiranya bila 
 para ulama menyebut hancurnya khilafah sebagai ummul jaraaim (induk dari 
 segala kejahatan), karena memang semenjak itu dunia Islam terus didera 
 berbagai krisis. Umat Islam mengalami kemunduran luar biasa di segala bidang 
 kehidupan, baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, politik 
 maupun sains dan teknologi. Yang tampak kini hanyalah sisa-sisa kejayaan 
 Islam di masa lalu.
 Secara fisik, setelah runtuhnya kekhilafahan, wilayah Islam yang dulu 
 terbentang sangat luas, mencakup seluruh Jazirah Arab, Afrika bagian utara, 
 sebagian Eropa, Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Selatan, terpecah-pecah 
 menjadi negara kecil-kecil. Secara intelektual, umat Islam mengalami 
 peracunan Barat. Aneka paham yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti 
 sekularisme, liberalisme, dan pluralisme agama, menyebar bagai virus yang 
 mematikan, yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak umat.
 Setelah itu, bertubi-tubi umat Islam didera berbagai persoalan. Di pentas 
 dunia, umat Islam di Palestina masih harus terus hidup dalam penderitaan 
 akibat penjajahan Israel. Begitu juga di Irak, Afganistan, dan di tempat 
 lain. Sementara itu, di dalam negeri, kondisi umat Islam Indonesia juga 
 tidak kalah memprihatinkan. Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, lebih 
 dari 100 juta penduduk jatuh ke jurang kemiskinan, puluhan juta menganggur, 
 jutaan anak-anak harus putus sekolah, dan jutaan lainnya mengalami 
 malnutrisi. Adapun kriminalitas meningkat di mana-mana. Ditambah dengan 
 berbagai kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat, membuat hidup terasa 
 sangat menyesakkan. Tentu, bagian terbesar dari mereka yang saat ini tengah 
 menderita adalah juga umat Islam.
 Kenyataan di atas makin menegaskan bahwa umat Islam memang amat mundur. 
 Keadaannya kurang-lebih sama dengan sinyalemen Rasulullah 14 abad yang lalu 
 dalam hadis riwayat Imam Ahmad: umat yang jumlahnya lebih dari 1,5 miliar 
 jiwa dicabik-cabik bagai makanan oleh orang-orang rakus tanpa rasa takut 
 dari berbagai arah.
 Reaksi pro dan kontra memang mengiringi acara konferensi ini, baik sebelum 
 maupun sesudahnya. Yang pro mengatakan bahwa khilafah, di samping memang 
 adalah ajaran Islam dan pernah terwujud dalam kurun waktu yang sangat 
 panjang di masa lalu, diperlukan untuk menerapkan syariah Islam dan 
 menyatukan umat Islam sedunia yang kini terpecah belah. Lagi pula khilafah 
 bukanlah barang baru untuk Indonesia. Sejarah dakwah Islam di Indonesia 
 adalah sejarah peran khilafah dalam menyebarkan Islam di negeri ini, baik 
 melalui para sultan maupun para pendakwah. Sebagian walisongo adalah utusan 
 langsung para khalifah. Sementara itu, yang kontra mengatakan bahwa ide 
 khilafah bertentangan dengan pluralitas dan tidak sejalan dengan nilai-nilai 
 kebangsaan.
 Dakwah HTI, termasuk penyelenggaraan KKI, dilakukan demi Indonesia di masa 
 mendatang yang lebih baik. Dalam pandangan HTI, problem rakyat, bangsa dan 
 negara ini khususnya, serta umat Islam di seluruh dunia pada umumnya, dipicu 
 oleh sistem sekularistik dan terpecahbelahnya umat Islam. Indonesia diyakini 
 akan bisa meraih kemuliaan bila kepadanya diterapkan syariah sebagai ganti 
 dari sekularisme yang telah terbukti gagal membawa Indonesia ke arah yang 
 lebih baik, dan umat bersatu kembali di bawah kepemimpinan seorang khalifah. 
 Inilah dua substansi penting dari ide khilafah, yakni untuk tegaknya syariah 
 dan terwujudnya ukhuwah. Bila hancurnya khilafah disebut sebagai ummul 
 jaraaim, diyakini bahwa tegaknya kembali syariah dan khilafah akan menjadi 
 pangkal segala kebaikan, kerahmatan, dan kemaslahatan, termasuk bagi 
 Indonesia.
 Dalam konteks Indonesia, ide khilafah sesungguhnya merupakan bentuk 
 perlawanan terhadap penjajahan baru (neokolonialisme), yang nyata-nyata 
 sekarang tengah mencengkeram negeri ini, yang dilakukan oleh negara besar. 
 Hanya melalui kekuatan global, penjajahan global bisa dihadapi secara 
 sepadan. Karena itu pula, konferensi ini bisa dibaca sebagai bentuk 
 kepedulian yang amat nyata dari HTI dalam berusaha mewujudkan kemerdekaan 
 hakiki negeri ini atas berbagai bentuk penjajahan yang ada.
 Mengenai nilai-nilai kebangsaan, bila yang dimaksud adalah komitmen terhadap 
 keutuhan wilayah, HTI berulang menegaskan penentangannya terhadap gerakan 
 separatisme dan segala upaya yang akan memecah belah wilayah Indonesia. Bila 
 nilai kebangsaan artinya adalah pembelaan terhadap kepentingan rakyat dan 
 bangsa Indonesia, HTI berulang juga dengan lantang menentang sejumlah 
 kebijakan yang jelas-jelas bakal merugikan rakyat Indonesia, seperti protes 
 terhadap pengelolaan sumber daya alam yang lebih banyak dilakukan oleh 
 perusahaan asing atau penolakan terhadap sejumlah undang-undang, seperti UU 
 Migas, UU Sumber Daya Air, dan UU Penanaman Modal, yang sarat dengan 
 kepentingan pemilik modal. Karena itu, salah besar bila menuduh bahwa HTI 
 dengan KKI tidak peduli pada nilai-nilai kebangsaan. Tapi, bila nilai 
 kebangsaan artinya adalah kesetiaan terhadap sekularisme, dengan tegas HTI 
 menolak karena justru sekularisme inilah yang telah terbukti membuat 
 Indonesia terpuruk seperti sekarang ini. Maka benar sekali fatwa MUI pada 
 2005 yang mengharamkan sekularisme.
 Sumber : [2] http://www.korantempo.com (Opini, Rabu, 22 Agustus 2007) 
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke