40 tahun lebih saya lewati, sampai sekarang dalam massarakat 
sekuler, dimana justru kebebasan beraga sangat terasa. Kalau sekuler 
disalahkan oleh yusanto dan kawanan sebagai penyebab kemiskinan dan 
kehancuran seperti di Indonesia, maka ini TIDAK terbukti di negara 
negara makmur tertata rapi yang semua SEKULER: Swiss, Austria, 
Jerman, Norway, Swedia, Liechtenstein, Monacco, Luxemburg dann 
banyak negeri lainnya. 

Justru negara negara yang mayo Muslim, jadi yang menolak sekularisme 
SEMUA keteteran, terbelakang dan miskin.

Jutaan warga negara negara mayo Muslim lari sebagai migran gelap ke 
negara negara sekuler untuk mencari sesuap nasi. mana buktinya 
theori hti?

Salam multibudaya dan toleransi

Danardono


--- In [email protected], arie purnomo <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> " menuntut ilmu adalah wajib hukumnya" 
> 
> saya pernah belajar ilmu2 sekuler sejak Sekolah Dasar seperti : 
matematika, fisika, biologi, kimia, antropologi, sosiologi, 
geografi, perbintangan, dan lain-lain.
> saya hingga saat ini belum bisa menemukan temuan temuan seperti 
halnya penemu-penemu orang yang ahli ilmu-ilmu tersebut seperti 
thomas alfa edison, alexander graham belt, newton dll dikarenakan 
saya kurang mendalami betul ilmu2 tersebut.
> saya juga belajar ilmu agama tentang : akhidah, syariat, akhlak, 
tharekat, serta hakekat dan insyallah saya "MUSLIM".
> 
> Mudatsir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Syariah dan Khilafah demi Indonesia
>  Muhammad Ismail Yusanto, JURU BICARA HIZBUT TAHRIR INDONESIA
>  
>  Meski dihadang berbagai rintangan, Konferensi Khifalah 
Internasional (KKI) 
>  yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 12 
Agustus, 
>  yang bertepatan dengan 28 Rajab lalu, berlangsung dengan sangat 
sukses. 
>  Lebih dari 100 ribu peserta dari seluruh pelosok Indonesia dengan 
beragam 
>  latar belakang, bahkan dari sejumlah negara, hadir memenuhi 
setiap kursi 
>  yang tersedia di Gelora Bung Karno, Jakarta. Seluruh rangkaian 
acara 
>  mengalir lancar.
>  
>  Tiga pembicara dari luar negeri: Profesor Dr Hassan Ko Nakata 
(guru besar 
>  Doshisha University, Kyoto/Presiden Asosiasi Muslim Jepang), Dr 
Salim Atcha 
>  (Hizbut Tahrir Inggris), dan Syekh Usman Abu Khalil (Hizbut 
Tahrir Sudan), 
>  menyampaikan materi dalam konferensi, dilengkapi oleh lima 
pembicara dari 
>  dalam negeri, yakni Profesor Dr Din Syamsuddin (Ketua Umum PP 
>  Muhammadiyah/Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia), Aa Gym 
(PP Daarut 
>  Tauhid, Bandung), KH Amrullah Ahmad (Ketua Umum Syarikat Islam), 
dan Tuan 
>  Guru Turmudzi (Syuriah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat) serta 
KH Tohlon 
>  (MUI Sumatera Selatan).Kekhawatiran sejumlah pihak bahwa 
konferensi akan 
>  berubah menjadi gerakan politik yang akan memicu anarkisme massa 
tidaklah 
>  terbukti, karena acara itu memang tidak dimaksudkan untuk hal 
itu. Dari awal 
>  hingga akhir, semua peserta mengikuti acara dengan tertib. Dalam 
sambutan 
>  selamat datang, saya sebagai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia 
menegaskan 
>  bahwa KKI dilaksanakan semata sebagai medium untuk meneguhkan 
komitmen umat 
>  Islam terhadap perjuangan penegakan syariah dan khilafah, bukan 
sebagai 
>  ajang deklarasi partai, apalagi deklarasi khilafah. Juga bukan 
sebagai aksi 
>  unjuk kekuatan atau kebesaran.Khilafah adalah sistem politik 
Islam untuk 
>  menerapkan syariat Islam dan menyatukan umat Islam seluruh dunia. 
Dalam 
>  sejarahnya yang membentang lebih dari 1.400 tahun, khilafah atau 
sultan atau 
>  imam (tiga istilah yang mengandung pengertian yang sama) dengan 
segala 
>  dinamikanya, termasuk dengan kelemahan dan kekurangannya, secara 
praktis 
>  telah berhasil menyatukan umat Islam seluruh dunia dan menerapkan 
syariah 
>  Islam sedemikian sehingga kerahmatan Islam yang dijanjikan benar-
benar dapat 
>  diwujudkan.
>  
>  Dr Ali Muhammad al-Shalabi dalam kitab Al-Daulah al-
Utsmaniyah, 'Awamilu 
>  al-Nuhud wa Asbabu al-Suqut menggambarkan dengan sangat jelas 
peran 
>  kekhilafahan ini dalam melanjutkan kegemilangan peradaban Islam 
yang telah 
>  dibangun oleh para khulafa sebelumnya. Tak aneh bila Paul Kennedy 
dalam The 
>  Rise and Fall of the Great Powers: Economic Change an Military 
Conflict from 
>  1500 to 2000, menulis: Empirium Utsmani, dia lebih dari sekadar 
mesin 
>  militer, dia telah menjadi penakluk elite yang telah mampu 
membentuk satu 
>  kesatuan iman, budaya, dan bahasa pada sebuah area yang lebih 
luas daripada 
>  yang dimiliki oleh Empirium Romawi serta untuk jumlah penduduk 
yang lebih 
>  besar. Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, dunia Islam telah 
jauh 
>  melampaui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya 
demikian 
>  luas, terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di 
antaranya 
>  memiliki universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki 
masjid yang 
>  indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan, dan aspek-
aspek lain 
>  dari sains dan industri, kaum muslimin selalu berada di depan.
>  Maka tepat sekali bila Imam Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fi al-
I'tiqad 
>  menggambarkan eratnya hubungan antara syariah dan khilafah 
bagaikan dua sisi 
>  dari satu mata uang dengan menyatakan, "Al dinu ussun wa al-
shultanu 
>  harisun-agama adalah tiang dan kekuasaan adalah penjaga". "Wa ma 
la ussa 
>  lahu fa mahdumun wa ma la harisa lahu fa dha'i-apa saja yang 
tidak ada 
>  asasnya akan roboh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan 
hilang".
>  
>  Tapi, pada 28 Rajab 86 tahun lalu, sejarah khilafah berakhir. 
Kemal Pasha, 
>  politikus keturunan Yahudi dengan dukungan pemerintah Inggris, 
secara resmi 
>  meng-abolish (menghapuskan) kekhilafahan, yang waktu itu berpusat 
di Turki. 
>  Dengan hancurnya payung dunia Islam itu, umat Islam hidup 
bagaikan anak ayam 
>  kehilangan induk, tak punya rumah pula. Maka tak berlebihan 
kiranya bila 
>  para ulama menyebut hancurnya khilafah sebagai ummul jaraaim 
(induk dari 
>  segala kejahatan), karena memang semenjak itu dunia Islam terus 
didera 
>  berbagai krisis. Umat Islam mengalami kemunduran luar biasa di 
segala bidang 
>  kehidupan, baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, 
politik 
>  maupun sains dan teknologi. Yang tampak kini hanyalah sisa-sisa 
kejayaan 
>  Islam di masa lalu.
>  Secara fisik, setelah runtuhnya kekhilafahan, wilayah Islam yang 
dulu 
>  terbentang sangat luas, mencakup seluruh Jazirah Arab, Afrika 
bagian utara, 
>  sebagian Eropa, Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Selatan, 
terpecah-pecah 
>  menjadi negara kecil-kecil. Secara intelektual, umat Islam 
mengalami 
>  peracunan Barat. Aneka paham yang bertentangan dengan ajaran 
Islam, seperti 
>  sekularisme, liberalisme, dan pluralisme agama, menyebar bagai 
virus yang 
>  mematikan, yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak umat.
>  Setelah itu, bertubi-tubi umat Islam didera berbagai persoalan. 
Di pentas 
>  dunia, umat Islam di Palestina masih harus terus hidup dalam 
penderitaan 
>  akibat penjajahan Israel. Begitu juga di Irak, Afganistan, dan di 
tempat 
>  lain. Sementara itu, di dalam negeri, kondisi umat Islam 
Indonesia juga 
>  tidak kalah memprihatinkan. Akibat krisis ekonomi yang 
berkepanjangan, lebih 
>  dari 100 juta penduduk jatuh ke jurang kemiskinan, puluhan juta 
menganggur, 
>  jutaan anak-anak harus putus sekolah, dan jutaan lainnya 
mengalami 
>  malnutrisi. Adapun kriminalitas meningkat di mana-mana. Ditambah 
dengan 
>  berbagai kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat, membuat hidup 
terasa 
>  sangat menyesakkan. Tentu, bagian terbesar dari mereka yang saat 
ini tengah 
>  menderita adalah juga umat Islam.
>  Kenyataan di atas makin menegaskan bahwa umat Islam memang amat 
mundur. 
>  Keadaannya kurang-lebih sama dengan sinyalemen Rasulullah 14 abad 
yang lalu 
>  dalam hadis riwayat Imam Ahmad: umat yang jumlahnya lebih dari 
1,5 miliar 
>  jiwa dicabik-cabik bagai makanan oleh orang-orang rakus tanpa 
rasa takut 
>  dari berbagai arah.
>  Reaksi pro dan kontra memang mengiringi acara konferensi ini, 
baik sebelum 
>  maupun sesudahnya. Yang pro mengatakan bahwa khilafah, di samping 
memang 
>  adalah ajaran Islam dan pernah terwujud dalam kurun waktu yang 
sangat 
>  panjang di masa lalu, diperlukan untuk menerapkan syariah Islam 
dan 
>  menyatukan umat Islam sedunia yang kini terpecah belah. Lagi pula 
khilafah 
>  bukanlah barang baru untuk Indonesia. Sejarah dakwah Islam di 
Indonesia 
>  adalah sejarah peran khilafah dalam menyebarkan Islam di negeri 
ini, baik 
>  melalui para sultan maupun para pendakwah. Sebagian walisongo 
adalah utusan 
>  langsung para khalifah. Sementara itu, yang kontra mengatakan 
bahwa ide 
>  khilafah bertentangan dengan pluralitas dan tidak sejalan dengan 
nilai-nilai 
>  kebangsaan.
>  Dakwah HTI, termasuk penyelenggaraan KKI, dilakukan demi 
Indonesia di masa 
>  mendatang yang lebih baik. Dalam pandangan HTI, problem rakyat, 
bangsa dan 
>  negara ini khususnya, serta umat Islam di seluruh dunia pada 
umumnya, dipicu 
>  oleh sistem sekularistik dan terpecahbelahnya umat Islam. 
Indonesia diyakini 
>  akan bisa meraih kemuliaan bila kepadanya diterapkan syariah 
sebagai ganti 
>  dari sekularisme yang telah terbukti gagal membawa Indonesia ke 
arah yang 
>  lebih baik, dan umat bersatu kembali di bawah kepemimpinan 
seorang khalifah. 
>  Inilah dua substansi penting dari ide khilafah, yakni untuk 
tegaknya syariah 
>  dan terwujudnya ukhuwah. Bila hancurnya khilafah disebut sebagai 
ummul 
>  jaraaim, diyakini bahwa tegaknya kembali syariah dan khilafah 
akan menjadi 
>  pangkal segala kebaikan, kerahmatan, dan kemaslahatan, termasuk 
bagi 
>  Indonesia.
>  Dalam konteks Indonesia, ide khilafah sesungguhnya merupakan 
bentuk 
>  perlawanan terhadap penjajahan baru (neokolonialisme), yang nyata-
nyata 
>  sekarang tengah mencengkeram negeri ini, yang dilakukan oleh 
negara besar. 
>  Hanya melalui kekuatan global, penjajahan global bisa dihadapi 
secara 
>  sepadan. Karena itu pula, konferensi ini bisa dibaca sebagai 
bentuk 
>  kepedulian yang amat nyata dari HTI dalam berusaha mewujudkan 
kemerdekaan 
>  hakiki negeri ini atas berbagai bentuk penjajahan yang ada.
>  Mengenai nilai-nilai kebangsaan, bila yang dimaksud adalah 
komitmen terhadap 
>  keutuhan wilayah, HTI berulang menegaskan penentangannya terhadap 
gerakan 
>  separatisme dan segala upaya yang akan memecah belah wilayah 
Indonesia. Bila 
>  nilai kebangsaan artinya adalah pembelaan terhadap kepentingan 
rakyat dan 
>  bangsa Indonesia, HTI berulang juga dengan lantang menentang 
sejumlah 
>  kebijakan yang jelas-jelas bakal merugikan rakyat Indonesia, 
seperti protes 
>  terhadap pengelolaan sumber daya alam yang lebih banyak dilakukan 
oleh 
>  perusahaan asing atau penolakan terhadap sejumlah undang-undang, 
seperti UU 
>  Migas, UU Sumber Daya Air, dan UU Penanaman Modal, yang sarat 
dengan 
>  kepentingan pemilik modal. Karena itu, salah besar bila menuduh 
bahwa HTI 
>  dengan KKI tidak peduli pada nilai-nilai kebangsaan. Tapi, bila 
nilai 
>  kebangsaan artinya adalah kesetiaan terhadap sekularisme, dengan 
tegas HTI 
>  menolak karena justru sekularisme inilah yang telah terbukti 
membuat 
>  Indonesia terpuruk seperti sekarang ini. Maka benar sekali fatwa 
MUI pada 
>  2005 yang mengharamkan sekularisme.
>  Sumber : [2] http://www.korantempo.com (Opini, Rabu, 22 Agustus 
2007) 
>  
>  
>      
>                                
> 
>        
> ---------------------------------
> Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on 
Yahoo! TV. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke