Sajak-sajak Andrinof A Chaniago
   
   
  Jalan Tua
   
  Usianya cukup lama
  Ujungnya berjabat dengan jalan di ujung kota
  Malam hari tak cukup cahaya
  Siang membentang luka-luka menganga
  Debu-debu pun terbang tanpa malu
  Lalu menumpang di daun-daun pohon gersang
   
  Di puncak musim buruk
  sayur-mayur dan ikan bisa  membusuk
  telur-telur sering remuk
  kendaraan sering terpuruk
  sepeda terhuyung seperti orang mabuk
   
  Sekelompok petani dan pedagang berbincang
  topik rutin tentang laba atau hutang
  yang tidak dilirik oleh usaha bank
  tapi dijerat erat rentenir uang
   
  Jalan tua ini jauh dari patung-patung yang dijaga lampu terang
  seperti yang di tengah kota dan tak jauh dari rumah Pak Walikota
  Ia dekat dari tambak-tambak dan kandang ternak
  yang sumbangan pajaknya memang tidak banyak
  tetapi membuat orang-orang kaya bisa makan dan hidup enak
   
   
  Tepian Mahakam
   
  Suatu saat aku ingin kembali lagi padamu
  Membawa sebuah bingkisan bersisi sepotong selimut dan kelambu
  Karena aku tak rela kau dilanda sedih sepanjang waktu
  Karena ikan-ikan pesut yang makin menghilang
  Lumpur dan ampas hutan dilempar ke tubuhmu
  bersama keringat tanah air yang mengalir panjang dari hulu
   
  Aku tahu jembatanmu menunggu jodoh
  tetapi bersabarlah
  aku bertekad untuk datang
  menjadikan jembatanmu membentang sepasang
  karena di kepalaku selalu terbayang Golden Gate San Fransisco
  dan sepasang jembatan di Selat Troms O
   
  Aku tahu engkau letih mendengar keluh perih
  karena perut bumi terus dicincang
  pohon-pohon terus ditebang
  lalu ke tubuhmu segala ampas di buang
   
  Aku yakin engkau adalah harta negeri ini
  tapi terus dikeruk oleh orang-orang yang ingin memperkaya diri sendiri
  Maka jangan terkejut jika suatu ketika aku datang melamarmu
  dengan mas kawin sehelai selimut dan sepotong kerlambu
  yang akan kubentangkan di hulu
  agar kau tidak terus larut dalam pilu
  karena aku berharap engkau menggantikan Jakarta sebagai ibukotaku
   
                                                              Kemangi, 
26/08/2007
   
   
   
  Troms O Usai Musim Dingin
  (sepotong kenangan)
   
  Kulepas pandangan dari ujung ke ujung
  Tongkang-tongkang perkasa tampak terapung
  Kapal-kapal ikan sandar termenung
  Dermaga sedang bebas dari tugas
   
  Pelabuhan pun tidur nyenyak
  Selat sedang terhenyak oleh senyap
  Di pungung-punggung bukit tumpukan salju belum lenyap
  melepas kilap
   
  Kulepas pandangan ke angkasa
  Tampak matahari masih bersinar perkasa 
  menyatukan garis cakrawala dengan Kutup Utara
  dengan siraman cahaya
   
  Tuhan sedang menunjukkan bahwa Ia Maha Adil
  Setelah di puncak musim salju lalu bola lampu di jalan bersinar tanpa jeda
  Malam ini aparat kota membiarkan semua bola lampu itu berhenti bekerja
  karena Tuhan tidak mengijinkan matahari meninggalkan malam
  bahkan untuk 24 jam
   
                                                  Kemangi, 26/08/2007
   


Ekonomi Politik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Serial Puisi-puisi Kritik 
Politik
Oleh Andrinof A Chaniago


Senjata
(untuk Dek Pendi alias Effendi Gazali di Republik Mimpi)


Semenjak ranah politik tidak lagi berbau mesiu
rakyat memang tidak lagi perlu waspada pada desing peluru
karena senjata tidak lagi leluasa membuat luka 
ataupun menjemput nyawa

Tetapi janganlah lekas puas 
hanya karena politik telah bebas senjata logam
Sebab, di tangan para pemburu harta dan kuasa ada senjata yang lebih tajam
bunyinya tidak mendesing mebuat bulu kuduk merinding
juga tidak meledak membuat telinga kita pekak
bentuknya tidak runcing sehingga nyali bergeming
Tetapi senjata itu tetap tajam tatkala menghujam

Ranah politik memang sudah tidak lagi menumpahkan darah
karena senjatanya kini tidak membuat luka atau mencabut nyawa
tetapi ia membunuh nalar ajar
yang telah dibangun lewat program wajib belajar

Jangan cari senjata tajam itu di gudang peluru
Atau di kendaraan prajuritmu
Dia ada di genggamanmu
Yang pernah kau buka, kau lihat dan kau baca
Bentuknya adalah iklan setengah atau satu halaman
Kadang-kadang berisi angka-angka ekonomiterika dan statiska
Kadang-kadang berisi potret orang cerdas berkacamata
Yang disertai kata-kata bergaya prosa
Itulah dia senjata di ranah politik kita

Senjata itu tidak menggores luka dan menumpahkan darah
Juga tidak langsung mencabut nyawa berbilang jumlah
Tetapi ia membuat kebodohan menjadi abadi
Kemiskinan massal menjadi tersembunyi
Politik hampa etika
di balik slogan gagah efisiensi dan demokrasi

Iklan setengah halaman atau satu halaman media massa
Dengan angka-angka ekonometrika dan statistika 
Atau foto orang pintar berkaca mata
Itulah senjata para pemburu harta dan kuasa

Dampak senjata itu nyata
ketika harga BBM naik
rakyat kecil tercekik
ramalan pemilik senjata itu terbalik
menjanjikan angka kemiskinan akan turun menukik
ternyata malah melonjak naik

Dampak senjata itu masih terasa
ketika pilkada rampung
suara rakyat selesai ditelikung
sementara pemburu kuasa dan harta kembali berhitung
untuk membagi untung

Senjata itu adalah iklan dengan sedikit dusta
anak kandung perselingkuhan modal dan tahta
yang kini menular dalam spanduk-spanduk di ruang terbuka
di bawah lindungan sistem demokrasi pura-pura
ditemani sistem ekonomi pasar yang tidak sempurna
yang melahirkan korban dalam jumlah berjuta 
mereka yang tidak kelebihan harta dan tidak ikut berkuasa


(Suatu pagi di jalan Kemangi, 24/08/07)




Sang Birokrat

Sang Birokrat
berbaju cokelat
sepatu sedikit mengkilat
kerja dari rapat ke rapat
berlomba mengejar naik pangkat

Sang Birokrat
jarang berkeringat
merasakan nikmat 
dari haus hormat
dapat jaminan hidup sepanjang hayat
tapi lupa daulat rakyat


Kampus UI, 24/08/2007.

Puisi untuk Wakil Rakyat 
Oleh Andrinof A Chaniago


Di masa pemilu dahulu
Kami lihat gerak bola matamu seperti radar angkatan perang
Yang dapat melacak suara jangkrik di waktu siang
Sehingga, kami sempat percaya bahwa Tuan-tuan tahu apa yang kami mau
Kami pun sempat percaya bahwa Tuan-tuan akan menjadi pelindung kami
dari orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri sendiri
yang hanya ingin menjadikan kuasa dan harta sebagai senjata

Lewat retorikamu di saat kampanye dulu
Kami percaya Tuan-tuan akan akan bersiaga untuk kami sepanjang waktu
Menunggu keluh kesah rakyatmu
Menampung dan merundingkan aneka kehendak kami
diantara sesama para politisi

Tetapi setelah masa kampanye jauh berlalu
Kursi berputar menyambut sibukmu
Rumah rakyat yang sejuk mememelukmu
Birokrasi menjadi penyaring tamu-tamumu
Kita pun berjarak seperti tak pernah saling tahu

Jauh di luar ruang kerjamu 
ada pagar kekar berteralis baja
Di sana kami berdiri berharap akan sapaanmu
dan bersiap dengan pertanyaan:
Mengapa diammu bukan lagi perenungan?
Mengapa tidurmu bukan lagi jeda pengabdian?
Mengapa retorikamu menjadi tanpa logika?

Di kejauhan pun kami mendengar
Suara tinggi mu menggelegar 
menggertak usulan rakyatmu sendiri
yang tengah berharap tegaknya demokrasi sejati
lewat Pemilu dan Pilkada yang bisa menghasilkan pemimpin sejati
(Kami pun bertanya, “Mengapa tuan-tuan tidak berkenan ketika ada orang ingin 
menjadi pemimpin sejati negeri ini?”)
Dengan sigap tuan-tuan berujar, 
“Calon perorangan merusak sistem!”
“Calon perorangan harus didukung 15% suara sah!”
Dan seterusnya.. dan seterusnya…

Kami menjadi teringat ketika berjalan menuju ruangan kantormu 
Di sana kami melintasi para penjaga berseragam bak bala tentara Kaisar Romawi
Yang sigap menyuruh kami memarkir kendaraan jauh dari halaman parkirmu
Sehingga kami harus berlari menghindari sengatan terik matahari

Masih bisakah kami percayai janjimu 
Ketika acungan telunjukmu bukan lagi tanda janji
Tetapi pengawal ucapanmu 
bahwa wakil rakyat adalah pemilik kekuasaan legislasi

Kami pun mulai sadar 
bahwa wakil rakyat di zaman kini 
sudah membedakan antara penyalur aspirasi dan kekuasaan legislasi
sudah membedakan antara kompetisi dan demokrasi

Di media massa kami membaca
Retorika-retorika barumu yang merobek makna
dan jawaban-jawabanmu yang makin jauh dari logika
mencampuradukkan energi sekumpulan partai dengan energi seorang manusia
yang tidak ada contohnya di mancanegara

Kini kami merasa seperti orang-orang yang ditinggal pergi
Oleh Tuan-tuan yang dulu mengaku ingin menjadi wakil-wakil kami
dan dulu pernah memberi janji 
bahwa engkau akan menampung suara hati kami
Tetapi ternyata waktu itu kami hanya bermimpi

Retorika dan olah mimikmu tentu saja membuat banyak orang terpesona
melumpuhkan niat orang-orang muda yang akan berdemonstrasi
Bahkan membuat para lansia mengangguk-angkuk sambil tertawa
Yang memberi pertanda bahwa akal sehat tidak lagi berdaya

Karena logika menjadi tidak berguna
Sementara politik dilanda krisis etika
dan kebijakan-kebijakan tercerabut dari kedaulatan rakyat
maka hari ini kami menyapamu dengan puisi



Depok, 21 Agustus 2007



---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

[Non-text portions of this message have been removed]



                         

       
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally,  mobile search that gives answers, not web links. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke