Karena kebetulan pihak 'penindas' (baca: penculik Raisyah) hanya orang
biasa" saja..
coba kalau pihak penindasnya 'wong gede' (konglomerat, pejabat dsb)..
seperti kelangkaan minyak tanah, mahalnya minyak goreng, kenaikan harga
sembako
dll.. Termasuk soal lumpur lapindo dan penghisapan kekayaan alam Indonesia
untuk
kemakmuran perusahaan&negara lain..

Siapa bilang penegak hukum kita loyo/payah? Mereka hebat koq.. kalau yang
dihadapi
adalah orang" biasa saja.. pernah baca berita soal pembunuh Direktur
Asaba(?) yang
seorang (maaf) marinir.. dilindungi oleh 'kalangan mereka' sendiri.. bahkan
beberapa
kejadian menyebutkan 'rekayasa' (mis: penyiksaan dalam pembuatan BAP)..
minimal
uang (lebih) berkuasa.. 'berani bayar polisi berapa, kamu mau lawan saya?'..
mengutip
dari salah satu email di milis (FPK) ini.. Arogansi kekuasaan/jabatan dan
harta atas
mereka yang lemah..

Indonesia sudah merdeka? Sudah.. tapi hanya bagi yang banyak
berduit/harta/jabatan..
Di luar itu harus mati"an menjaga diri agar tidak apes.. :-(
Karena mereka (dan kebanyakan rakyat Indonesia) tidak punya apa" untuk
'membayar'
perhatian penguasa.. tidak seperti konglomerat dan pengusaha" yang kaya
itu..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 8/26/07, anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Giliran Isu Rasya yang menjadi opini ibu-ibu dan jabatan Bapaknya yang
> mungkin dulu dukung SBY, pake gelar konferensi pers, seakan menjadi
> urusan negara yang penting, Teater atribut kenegaraan menghajar
> ketakutan psikis penculik Rasya.
>
> Giliran di demo pengungsi Lapindo, malah ngumpet tuh SBY. Saya jadi
> inget kata-kata keji Stalin : Hilangnya nyawa satu manusia adalah
> tragedi, tapi hilangnya jutaan nyawa adalah Statistik.
>
> -Hilangnya Rasya adalah Tragedi, Hilangnya hak hidup normal pengungsi
> Lapindo adalah statistik -.
>
> ANTON
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke