http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=7957



*DEPHAN ALOKASIKAN 12 JUTA DOLAR AS UNTUK PENAMBAHAN RADAR*

*Departemen Pertahanan (Dephan)* mengalokasikan dana sekitar 10 hingga 12
juta dolar AS untuk menambah radar terutama operasi di wilayah Indonesia
Timur.

"Sementara ini, kami usahakan agar radar yang telah terpasang dapat
ditingkatkan kapasitasnya. Saat ini radar yang beroperasi di wilayah Timur
Indonesia hanya mampu beroperasi delapan jam," kata Menteri Pertahanan
(Menhan) Juwono Sudarsono, di Jakarta, Selasa.

Ditemui usai menerima kunjungan Menhan Selandia Baru Phiil Goff, ia
mengatakan rencana penambahan radar tersebut terus dibahas termasuk
memetakan kembali kebutuhan radar yang diperlukan masing-masing angkatan
darat, laut dan udara.

Indonesia kini tengah menjajaki radar dari tiga negara masing-masing Amerika
Serikat (AS), Italia dan Prancis untuk memperkuat pertahanan udara nasional.


"Dari beberapa pilihan yang ditawarkan Mabes TNI Angkatan Udara, hanya tiga
produsen dari AS, Italia dan Prancis yang layak untuk dikaji lebih lanjut,"
kata Dirjen Sarana Pertahanan (Ranahan) Departemen Pertahanan (Dephan)
Marsekal Muda Slamet Prihantino ketika dikonfirmasi ANTARA.

Ia mengatakan, berdasarkan kajian yang telah dilakukan, tiga jenis radar
yang dihasilkan tiga negara itu bisa diintegrasikan dengan sistem radar yang
selama ini digunakan di Indonesia yakni jenis Thomson (Inggris) dan Plesey
(Perancis).

"Itu persyaratan utama, jangan sampai kita beli radar baru tetapi tidak bisa
diintegrasikan dengan sistem radar yang selama ini digunakan di Indonesia,"
kata Slamet.

Dari tiga produsen radar masing-masing Northrop Grumman (AS), Thales
(Prancis) dan Italia hanya satu yang akan dibeli oleh Indonesia dan kini
tengah dibahas di Dephan, tambah Slamet.

Sementara itu, Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional
(Pangkosekhunas) IVB Biak Marsekal Pertama Djubaedi mengatakan, untuk
mencakup seluruh wilayah timur Indonesia diperlukan sembilan radar mengingat
sebagian besar di wilayah tersebut masih terdapat `trouble spot`.

Wilayah itu juga meliputi 12 pulau terdepan yang berbatasan dengan empat
negara yakni Malaysia, Filipina, Papua Nugini dan Australia.

"Sampai saat ini, untuk wilayah timur Indonesia baru di-`cover` oleh satuan
radar di Buraen (Nusa Tenggara Timur) dan Biak (Papua)," katanya.

Rencananya, tiga radar baru akan ditempatkan di Saumlaki (Maluku Tenggara),
Timika dan Merauke (Papua).

Sumber: ANTARA


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke