Morality Ethics in Media Performer Gambaran klise mengenai dunia terawangan “ deviant behaviour “ dalam media performer, dalam penuturan orang yang mengalaminya, berikut kisah-nya : [ Pada saat saya melakukan pedampingan ke tempat bordil, salah seorang wanita penjaja PSK mengisahkan dirinya terjebak dalam perdagangan images menjadi PSK karena alasan spiritual yang akan mempengaruhi kehidupannya kelak. Hingga, ia mau melayani pelanggan tetapnya dengan Cuma-Cuma. Spiritualnya mengatakan akan berbalik karma jika ia tidak mau melayaninya kembali. Dan semua itu dilakukan dengan cuma-cuma, hingga 5 orang anak lahir dalam hubungan gelap tersebut. Sampai, ia kemudian mendapatkan kembali wangsit spiritualnya agar menuntut sejumlah uang, karena jika tidak dilakukan kekayaan lelaki tadi pelan-pelan akan tergeronggoti. Namun, ia merasa kesulitan hubungan tersebut tidak pernah tertulis diatas kertas, sedangkan tanggungan 5 anak-anak emasnya tersebut selalu menjadi alasan dibalik semua hal yang dilakukannya. Secara etis, jika lelaki itu tidak memenuhinya karma akan berbalik arah padanya. ]
Saat dihadapkan dengan sejumlah fakta yang telah dilakukannya, kadangkala media performer cenderung berkilah dengan menyatakan berbagai persoalan termasuk upayanya untuk membujuk object dalam hal ini orang dalam penuturan kisah diatas dengan berbagai upaya implisit* pada mood situation (*: meatballs serving, camouflage movie, junk advertorial, burden of proscribed children etc without tolerance of ethics morality in almost four years). Setelah ditelusuri lebih lanjut media performer memiliki kecenderungan Fetishism, dalam kehidupan metro sexual “ extra ordinary dengan melajang “, kehidupan free sex menjadi santapan wajar seperti yang ditulis M.Emka dalam bukunya Jakarta Undercover, yang mengisahkan realitas kehidupan yang dijalani sebelum menjadi media performer, dan kini life style-nya berubah lebih idealism. Fetishism yang dijalani mendesaknya dalam berbagai hal hingga keadaan semakin chaos, intrik yang tidak sesuai dengan principle of thoughts-nya : Fetishism serves to alleviate feelings of sexual inadequacy, usually among males. The practice includes magic, often with many attendant ceremonies and minor rituals. The fetish is usually a figure modeled or carved from clay, stone, wood, glass, or other material in imitation of a deified animal or other object. In some cases the belief is so definitely crystallized about the object that the original connection with the tutelary is obscured, and the belief merges into idolatry. Adakalanya jika dihadapkan dengan persoalan ini, media performer cenderung akan klise menutupinya, antara pleasure of higher images with inadequacy attitude or perfectly performances. Pada akhirnya, perhitungan yang cukup rumit dengan no-relation again, dengan penuturan kisah diatas membeberkan banyak keburukan sikap dari balik media performer, git‘em argent in scheme of parenting after divorce. Jika kerugian moril perhitungannya tidak lebih dari sekedar duplicate of movie?!! Dimana Morality Ethics in Media Performer. Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

