Mbak Fau wrote:
Nah, kalo mas RB cemas dg etnis dan religion clash di Indonesia, ada
bbrp komentar orang Malay yang memandang sebaliknya. Katanya: "hey,
yang ditangkap itu namanya Donald, kristen, dan rakyat Indonesia yang
mayo muslim itu marah besar?? Lihat, mereka telah dewasa dalam
beragama. Tidak seperti Malaysia yang sangat tersekat2 oleh agama dan
etnis."

BB jawab:
Aku bukan ahli Malaysia, tapi pernah sekali, dua kali ditugaskan ke sana. 
Kelihatannya emang bener! Di Indonesia Islamnya lebih banyak yang nggenah.  
Bahkan kalau nontong di TV Malay, para politisi Cinanya kalau ngomong rada 
terlalu hati-hati. Sementara politisi Malay terkesan begitu agresif.  Tapi ya 
embuh maneh kalau itu hanya kebetulan saja.

Sakbenere hidup jadi cino di Jawa ya cukup enak. Apalagi di Solo, bisa makan 
sego liwet dan ketan, sedapppp...   Apalagi demonstrasi anti cinanya bisa kita 
prediksi dan antisipasi (kira-kira 15 tahun sekali... Nggak dadakan..  ha.ha.ha.

Tapi sak benere yang paling menyakitkan hati bukanlah itu semua, bahkan makian 
cino cino yg sering kita dengar, itu pun juga gak terlalu menyakitkan hati. Di 
mana-mana di seluruh dunia selalu ada orang-orang rasis.

Yang paling menyakitkan hatiku waktu itu adalah ketika ketemu teman SMP yang 
jowo asli. Dulu kita sering gaul, bahkan satu tim basket. Jubulane setelah 
besar ketemu kok dia jadi gak suka sama cino. Aduh mbak rasane gelo. Untunglah 
masih banyak temen-temen Jowo yang tetap gaul sama ogut.

Pengalamanku yang cukup indah dengan orang Jowo adalah sama ibu-ibu Jowo yg 
nggak aku kenal. Kebetulan waktu itu aku masih sd kelas 2 pernah minggat dari 
rumah. Terus sampai malem, nongkrong di pinggir jalan. Tiba-tiba ada Ibu Jowo 
yang sedang menggendong anaknya, menghampiri daku dan menanyakan di mana 
rumahku.  Rupanya ibu Jowo ini kasihan dan khawatir juga ada anak cino 
keleleran malam-malam di pinggir jalan.. ha..ha.ha.

Sak benere cino-cino Solo sama Jowo Solo itu ya sudah gaul bener loh..    Tapi 
kok ya sering ada demo anti cina...  aku juga heran...


Mbak Fau wrote:
Saran saya, segala urusan non-bisnis yang di Malaysia sebaiknya
dihindari. Jalan2? Mending di Indonesia (walau org Indonesia sendiri
ada juga yg rasis) atau ke negara lain yang "tidak" rasis. 
Kalo Malaysia kan memang pemerintahnya bikin kebijakan2 rasis yang
masih terus dipelihara sampai sekarang. 

Bobby jawab:
Lah kepripun toh.. jalan-jalan kok ke Malaysia, ke Singapur.. mboseni tenan...  
Jalan-jalan itu paling bagus ya ke Eropa, Turki, Yunani, Yordania, Amerika, 
Cina dll..  lah kalau ke Malaysia ya mendhing pulang kampung ke Solo aja  
he.he.he...  Nasi Lemak mana menang sama Nasi Liwet.. he.he.he.

Tapi temanku dulu pernah ke Jerman, kuliah bukan jalan-jalan, di tahun 90an 
awal, walaupun tidak ada rasisme dari pemerintahan dan UUnya, tapi sempat pula 
teman aku ini merasakan "nikmatnya" rasisme di sana, teman aku ini digebuki Neo 
Nazi, benjut dehhhhhh..   Teman aku sempat lapor ke polisi, tapi susah 
mendeskripsikan siapa yang gebuki dia, soale yang nggebuki pake Helm.. 
ha.ha.ha..  
Tapi kata temannya yg lebih lama di sana, dia masih untung (temannya temanku 
ini pasti orang Jawa..he.he. untung terus)..    Dia masih untung karena yg 
gebuki bukan Neo Nazi beneran, yg beneran gak pake helm, tapi gundul..  Dan 
kalau gebuki biasanya sampe matek...   Gila juga.

FAZIT: Di mana-mana ada rasisme. Rasisme oleh negara di Indonesia mulai hilang. 
Syukur Alhamdulilah. Sekarang yang penting kita semua harus makin gaul. Gak 
usah sok suci, sok Islam, sok Kristen, sok Buddha, sok Jowo, sok Cino..  hare 
gene..masih ndeso  gitu.. wis ta sobek sobek pisan..


Nice Day
Bobby B


       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke