http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/08/spa-oh-spa.html

Aku yakin aku hanyalah salah satu dari ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, atau 
bahkan jutaan penduduk Semarang.yang di awal mula ide SPA digulirkan merasa 
pesimis. Apanya yang bisa kita pamerkan ke dunia internasional dari kota 
kelahiranku ini untuk membuat orang memalingkan wajahnya dari Bali, maupun kota 
tetangga, Jogja? Penyebab utama tentu karena banjir yang senantiasa menjadi 
langganan Semarang, baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Penyebab 
lain, aku selalu berpikir bahwa tak satupun objek wisata di Semarang yang akan 
mampu menggaet turis manca negara, kecuali mereka yang di zaman baheula pernah 
menetap di sini (baca => bekas penjajah Belanda) “for old time’s sake”. 
Bandingkan saja dengan Jogja yang memiliki pantai berpasir putih (Parangtritis, 
Samas), Malioboro yang eksotis, Kebun Binatang Gembira Loka yang dikelola 
dengan baik ketimbang Tinjomoyo, Kraton, dll. 
Aku mulai berpikir bahwa mungkin saja membuat Semarang menjadi kota pesona Asia 
bukanlah hal yang muluk-muluk tatkala aku mulai membuat daftar tempat-tempat 
yang bisa kukunjungi bersama teman-teman milis seandainya mereka bertandang ke 
Semarang. (Well, harus kukatakan bahwa mereka mungkin berpikir untuk berkunjung 
ke Semarang bukan karena Semarang merupakan satu kota yang menarik bagi mereka, 
akan tetapi karena AKU tinggal di sini. Hal ini berarti AKU lah yang harus 
mampu meyakinkan teman-temanku bahwa di Semarang tidak hanya ada seorang NANA 
yang ingin mereka temui, namun memang Semarang is worth visiting.) Setelah 
mendapatkan daftar yang lumayan menarik (kunjungi saja postinganku di alamat 
berikut ini 

http://themysteryinlife.blogspot.com/search/label/SPA

aku mulai berpikir bahwa ide SPA bukanlah ide yang terlalu tinggi untuk 
dicapai. apalagi setelah mendapatkan respons yang menyenangkan dari teman-teman 
milis, maupun pengunjung blog (bisa dikunjungi di 

http://afemaleguest.blog.co.uk/2007/07/15/semarang_pesona_asia~2637365
http://afeministblog.blogspot.com/2007/07/semarang-pesona-asia.html
http://afemaleguest.multiply.com/photos/album/13/Semarang

, aku merasa ikut bersemangat untuk ikut serta mensukseskan SPA, meskipun tentu 
tidak banyak yang bisa kulakukan, selain promosi lewat blog dan milis. Selain 
itu, kepada siswa-siswaku yang masih saja berpikiran pesimis, aku menyuntikkan 
semangat kepada mereka, agar mereka pun ikut optimis bersamaku.
Namun apa yang terjadi?
Ucapan Wali Kota Semarang “Satu hal yang membanggakan dari pelaksanaan SPA 2007 
adalah diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” pantas 
dipertanyakan, “rakyat yang mana?” Seperti yang telah dicatat di beberapa koran 
lokal bahwa dalam acara pembukaan, rakyat biasa-biasa saja (baca => bukan 
undangan) tidak boleh mendekat ke panggung. Katanya untuk rakyat? Kok ga boleh? 
Tatkala ada festival jajan pasar, aku dan adikku yang ingin menghadirinya 
(rasanya sudah ngiler membayangkan akan menemukan jajan-jajan pasar sewaktu 
kita kecil, seperti klepon, onde-onde, gethuk, senthiling, tiwul, dll) namun 
karena ternyata dilaksanakan di salah satu hotel berbintang lima, wah ... ga 
terbayang berapa jajan-jajan pasar itu dihargai? Akankah rakyat kecil sepertiku 
ini mampu menjangkaunya? :( (Sebagai perbandingan, di fitness center tempatku 
menjadi member, aku membeli secangkir nescafe cukup dengan harga Rp. 2000,00, 
Dua tahun yang lalu aku diajak ngopi di hotel berbintang
 lima itu dengan salah satu siswa privatku, harga kopi satu cangkir Rp. 
20.000,00 itu belum termasuk PPN. Waduh ...)
Tatkala aku berkunjung ke salah satu toko buku yang terletak di Jalan 
Pandanaran, terlihat beberapa pernak-pernik berbau Semarang dijual, mulai dari 
gantungan kunci, miniatur Tugumuda, T-shirt bergambar Lawangsewu, Gereja 
Blenduk, aku ikut merasa senang merasakan ‘grengseng” SPA. Namun tatkala aku 
melihat-lihat buku “The Ancient Semarang Beyond Tomorrow” yang merupakan versi 
Bahasa Inggris dari “Meretas Masa Semarang Tempo Doeloe” terbitan TERANG 
Publishing, semakin terlihat ketidakseriusan Pemerintah Kota Semarang dalam 
mengemas ide spektakuler SPA. Aku yakin buku itu diterjemahkan ke dalam Bahasa 
Inggris bukan hanya untuk sok, namun untuk lebih promosi tentang Semarang 
kepada dunia internasional. Lha mbok yao menerjemahkannya ke dalam Bahasa 
Inggris itu menggunakan tenaga yang profesional di bidangnya sehingga tidak 
akan terjadi salah grammar maupun vocabulary yang malah justru memberikan arti 
yang berkebalikan.
Berikut contoh dua kalimat yang memberikan penjelasan gambar Lembaga 
Pemasyarakatan untuk Wanita yang terletak di Jalan Sugiyopranoto.
“The prison is not factually an ancient building, because the government has 
been renovated.”
“But if we have seen them deeply and explored truly, the building factually has 
historical story.”
Kesalahan penggunaan kalimat pasif atau aktif, kesalahan kata ganti plural 
untuk satu kata singular, kesalahan memilih diction, masihlah bisa dimaafkan 
jika itu terjadi dalam spoken English. Namun dalam bahasa tertulis? Apalagi 
dalam rangka mempromosikan satu daerah ke dunia internasional? Oh COME ON, 
MAN!!!
Dan masih banyak di lapisan masyarakat kita yang mencibir kepada orang-orang 
yang speak English in public dengan tuduhan tidak mencintai bahasa sendiri. 
Konon tahun depan pemerintah kota Semarang akan mengadakan SPA PART II. Jikalau 
pemerintah tidak dengan lapang dada menerika kritikan dari rakyat, maupun dari 
pihak-pihak lain, dan dengan jumawa mengatakan bahwa program SPA kemarin 
berhasil dengan gemilang, niscaya tahun depan untuk pelaksanaan SPA PART II, 
lagi-lagi pemerintah hanya akan menghambur-hamburkan uang rakyat yang sudah 
semakin menderita ini. Kritikan yang disampaikan rakyat itu tentu sifatnya 
membangun, agar pemerintah melakukan persiapan yang jauh lebih matang, 
benar-benar melibatkan rakyat, benar-benar dari, oleh, dan untuk rakyat, 
sehingga tak ada lagi rakyat kota Semarang khususnya tetap saja mencibirkan 
bibir, “SPA? Semarang Pesona Air kali?” dan ogah menjadi jubir maupun promotor 
kota tercintanya sendiri. 
PT56 23.07 300807


Minds are like parachutes, they only function when they are open. 
  (Sir James Dewar)
visit my blogs please, at the following sites
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com

THANK YOU
Best regards,
Nana


       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke