http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0708/30/100150.htm


*Lingkaran Setan Hipertensi dan Penyakit Ginjal*

Selama ini hipertensi lebih dikenal sebagai penyebab penyakit
kardiovaskular, padahal hipertensi juga memiliki saling keterkaitan yang
erat dengan kesehatan ginjal. Hipertensi merupakan faktor pemicu utama
terjadinya penyakit ginjal dan gagal ginjal, sebaliknya pula, saat fungsi
ginjal mengalami gangguan maka tekanan darah pun akan meningkat dan dapat
menimbulkan hipertensi.

Peningkatan tekanan darah yang tinggi sering dianggap sebagai the silent
killer menunjukkan insiden yang terus meningkat. Setiap tahunnya, kurang
lebih ada 10-30 persen penduduk dewasa di hampir semua negara menjadi
penderita baru hipertensi. Angka tersebut juga disumbang oleh penderita
gagal ginjal yang mencapai 200 juta orang per satu juta penduduk yang 30
persennya mengidap hipertensi.

Persoalan hipertensi menjadi penting karena ini bukan hanya berupa angka di
atas normal (140/90), melainkan karena tekanan darah yang tinggi bisa memicu
kerusakan-kerusakan di organ yang dilewati pembuluh darah, termasuk ginjal.

"Bila salah satu faktor pendukung kerja ginjal, misalnya aliran darah ke
ginjal, jaringan ginjal atau saluran pembuangan ginjal terganggu, maka jelas
fungsi ginjal akan terganggu, bahkan dapat berhenti sama sekali, yang
disebut juga gagal ginjal tahap akhir," kata dr.J.Pudji Rahadrjo, SpPD-KGH,
dokter spesialis penyakit dalam dari RS. Islam Cempaka Putih, pada seminar
yang diselenggarakan oleh PT.Pfizer Indonesia, Rabu (29/8), di Jakarta.

Sementara itu, kerusakan pada bagian ginjal tertentu, terutama bagian
korteks (lapisan luar), akan merangsang produksi hormon renin yang akan
menstimulasi terjadinya peningkatkan tekanan darah hingga terjadi
hipertensi. "Selain itu, saat ginjal rusak maka sekresi air dan garam akan
terganggu dan mengakibatkan isi rongga pembuluh darah meningkat, hingga
menyebabkan hipertensi," papar Pudji.

Meskipun hubungan sebab akibat antara hipertensi dan penyakit ginjal baru
terjadi pada kondisi hipertensi yang sudah menetap lama, namun penting untuk
mewaspadai hipertensi. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara
menjalankan gaya hidup sehat dengan cara rutin berolahraga, mengurangi
garam, menghindari produk tembakau dan alkohol, serta menjaga berat badan.
Selain itu periksakan tekanan darah secara berkala meskipun tidak ada
keluhan.

Sementara itu, pasien hipertensi seringkali membutuhkan obat-obatan untuk
mengendalikan tekanan darah yang digunakan seumur hidup. Saat ini sudah
terdapat banyak pilihan obat penurun tekanan darah, namun pemilihan harus
tetap disesuaikan dengan kondisi pasien, terutama jika hipertensi disertai
dengan komplikasi.

Pada pasien hipertensi dengan komplikasi ginjal, diperlukan obat-obatan yang
tidak menyisakan racun di ginjal. "Semua resido obat harus dikeluarkan dari
tubuh agar tidak menumpuk di ginjal dan membebani kerja ginjal," ujar Pudji.
Lebih lanjut Pudji menjelaskan, pada dasarnya tidak ada obat paling baik
untuk hipertensi. "Tidak ada obat hipertensi nomor satu, karena dibutuhkan
lebih dari satu jenis obat untuk mencapai target penyembuhan," demikian
Pudji.

Penulis: An


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke