http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0709/07/013010.htm


*Ikan Timpakul Menghilang dari Kalsel*

BANJARMASIN, KAMIS - Sejenis ikan yang sering disebut penduduk Kota
Banjarmasin sebagai "Timpakul" kini makin sulit dijumpai menyusul kerusakan
alam dan lingkungan yang kian parah di Kalimantan Selatan.

Beberapa penduduk di bilangan Sungai Lulut, di sela-sela acara panen raya
padi lokal yang dihadiri Walikota Banjarmasin, Haji Yudhi Wahyuni, Kamis
(6/9), menyatakan heran terhadap menghilangnya binatang tersebut.

Padahal menurut mereka, timpakul begitu banyak berlompatan di lumpur atau
tepian sungai, pada era 60 hingga 70-an. Namun kini hewan-hewan itu sulit
ditemui lagi di kawasan desa mereka.

Biasanya timpakul dicari warga untuk dijadikan umpan pancing ikan gabus,
atau ikan baung. Menangkap timpakul pun mudah, cukup turun sebentar ke
tepian sungai maka puluhan timpakul segera tertangkap.

Tetapi belakangan untuk mencari seekor timpakul saja sangat sulit, kalaupun
ada itu pun agak jauh ke hulu sungai yang tidak ada permukiman penduduk.

Timpakul adalah sebutan untuk ikan tembakul atau belacak dalam bahasa
Melayu, alias belodog atau blodog dalam bahasa Indonesia atau mudskipper
dalam bahasa Inggris. Mereka adalah sejenis ikan yang dapat hidup di
daratan, terutama di daerah berlumpur atau berair dangkal. Timpakul termasuk
dalam family Gobiidae, subfamily Oxudercinae, Ordo Perciformes (perch-likes)
dan Kelas Actinopterygii (ray-finned fishes). Saat ini telah teridentifikasi
sebanyak 35 spesies.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota (Bapeldalko) Banjarmasin,
Rusmin, ketika dikonfirmasikan memperkirakan hilangnya binatang itu menyusul
kerusakan alam lingkungan kota Banjarmasin yang belakangan sudah banyak
tercemar limbah rumah tangga dan industri.

"Bisa dilihat adakah lagi sungai dan anak-anak sungai di kota ini yang kian
hari kian baik, tetapi selalu saja kian rusak akibat pendangkalan, akibat
gulma, dan tercemar limbah rumah tangga dan industri," kata Rusmin.

Akibatnya, lingkungan sudah tidak nyaman lagi bagi kehidupan timpakul
sehingga populasinya terus turun dan menghilang. Apalagi di Kota Banjarmasin
terdapat beberapa industri yang berpotensi mencemari lingkungan seperti
pabrik kayu lapis, pabrik karet, industri rotan, hotel dan restoran, rumah
sakit, serta pasar serta permukiman. (Ant/wsn)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke