Buat rakyat sendiri: subsidi harus dihapuskan.. terapkan harga pasar.. Buat kepentingan asing/negara lain: berikan subsidi.. perkaya (perusahaan/ pemerintah) mereka..
Yang penting defisit APBN berkurang.. sesuai pesanan IMF dan konco"nya.. Mudah"an gak ada yang marah/tersinggung IMF disebut".. :-p CMIIW.. Wassalam, Irwan.K republika *Senin, 03 September 2007* * * *Subsidi untuk Cina *<http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=305507&kat_id=15> *Oleh : Iman Sugema *** *Tahun depan, subsidi BBM akan turun drastis. Tentu alasannya masih klise, yaitu kita lebih baik mengalokasikannya untuk keperluan lain. Untuk membangun infrastruktur, menyediakan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan untuk membiayai kenaikan gaji pegawai negeri. Alasan tersebut kelihatannya masuk akal, walau tidak sepenuhnya benar.* *Tahun depan juga kita akan mulai mensubsidi sebagian konsumsi gas di i Cina. Sementara subsidi untuk rakyat kita sendiri ditekan habis-habisan, pada saat yang sama kita justru bermurah hati mensubsidi rakyat di negeri tirai bambu. Lho kok bisa? Ceritanya begini.* *Mulai tahun depan, lapangan LNG Tangguh akan mulai beroperasi. Semua hasil eksploitasi LNG tersebut dikontrak jual kepada Cina dengan harga miring. Harga yang dipatok untuk setiap milion milion british termal unit (mmbtu) LNG adalah maksimum 3,25 dolar AS. Padahal kalau dengan patokan harga minyak seperti sekarang, harga gas mestinya adalah 10 dolar AS per mmbtu. Artinya, harga jual LNG ke Cina tersebut hanya sepertiga harga pasar. * *Itu juga berarti kita memberi subsidi sebesar dua pertiga harga untuk setiap kilogram LBG yang kita ekspor ke Cina. Sungguh sebuah kontrak yang tak masuk akal. Kalau kita hitung, total potensi kerugian akibat transaksi akal-akalan tersebut minimal akan mencapai Rp 3 triliun. Itu didapatkan dari pengalian antara selisih harga dengan total volume yang diekspor. Uang sebesar itu, kalau bisa kita selamatkan tentu akan memberi manfaat besar untuk masyarakat.* *Lebih gila lagi ternyata PLN membeli gas dari dalam negeri dengan harga yang lebih mahal, yaitu sekitar lima dolar AS per mmbtu. Entah siapa yang bodoh, kok untuk kepentingan negara sendiri malah dijual mahal. Bukankah mestinya kepentingan nasional yang harus lebih didahulukan? Selain itu, kita pun terpaksa menutup beberapa pabrik pupuk karena kekurangan pasokan gas. Petani pun harus rela membayar mahal pupuk yang dibutuhkannya untuk menggenjot produksi. Jelas ada yang tidak sinkron di antara para petinggi kita dalam mengelola negara ini.* *Kita tentunya tidak tega mengatakan bahwa para pejabat kita terlalu bodoh dalam menentukan harga yang tepat dalam transaksi gas tersebut. Menteri ESDM dan stafnya adalah orang-orang pintar dan sudah bertahan dalam tiga periode kepresidenan. Pejabat kita sudah banyak terbukti sangat pintar dalam membodohi rakyatnya.* *Hebatnya lagi, hal seperti ini tidak pernah terjamah oleh KPK atau aparat penegakan hukum lainnya. Padahal, kontrak seperti ini sangat berpotensi dijerat pasal korupsi dengan cara memperkaya pihak lain. Barangkali kita harus menunggu adanya penegakan hukum yang lebih berani. Sampai saat ini, pemerintah belum berhasil dalam menangkap koruptor di sektor migas. Padahal sektor inilah yang paling rawan kong kalikong.* *Tentu kita bertanya di manakah keadilan. Sementara ini, pemerintah mempunyai track record yang diingat rakyat sebagai sebuah pemerintahan yang paling berani dalam menaikan harga BBM. Pemerintahan sekarang adalah merupakan pemerintah yang paling banyak menciptakan kemiskinan. Akibat kenaikan harga BBM pada 2005 saja, jumlah orang miskin bertambah lebih dari empat juta orang. * *Rakyat juga sering terbebani dengan masalah kelangkaan energi. Setiap saat selalu terjadi pemadaman listrik secara bergilir mulai Aceh sampai Balikpapan dan kota-kota lainnya. Akibatnya, kegiatan usaha menjadi terpasung dan tidak bisa tumbuh dengan optimal. * *Ibu-ibu rumah tangga miskin harus mengeluarkan kocek lebih dalam karena minyak tanah tiba-tiba langka. Sementara, mereka tak mungkin beralih ke gas, karena pasokan kompor dan tabung gas tidak lancar. Konversi minyak tanah ke gas hanya bagus di atas kertas saja. Kenyataannya rakyat miskin tambah menderita. Keadilan tampaknya sangat susah untuk berpihak pada kaum yang lemah. * *Negara kita katanya adalah negara yang sangat kaya raya dengan sumberdaya alam. Di perut bumi kita terkandung cadangan gas dan batu bara yang tidak habis sampai akhir abad ini. Tanah kita juga subur yang bisa ditanami sawit, tebu, jagung, ubikayu dan ubi rambat yang bisa dijadikan bio fuel. Laut kita juga kaya dengan mikroorganisma yang siap dikonversi jadi energi menggantikan minyak tanah. * *Tapi kenapa rakyatnya selalu mengalami kelangkaan energi? Jawabanya satu, yaitu kekayaan alam itu tidak pernah dimanfaatkan bagi kepentingan rakyat seluas-luasnya. Pemerintah selalu mengabdi bagi kepentingan yang merugikan rakyat*. On 9/7/07, A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Wa'alaikum salam wr wb, > Sesungguhnya Allah memerintahkan ummat Islam membela > orang2 yang lemah yang dizalimi: > > 4. An Nisaa' > 75. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah > dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, > wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: > "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini > (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami > pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong > dari sisi Engkau!." > > Jadi agak aneh jika justru sastrawan atheist seperti > Pramudya yang melakukan pembelaan terhadap orang2 > miskin lewat karya sastranya. Harusnya sastrawan > Muslim lebih baik dari itu karena itu merupakan > kewajiban dari Allah: Berjihad dengan Pena. > > Mungkin sebagian ada yang betul-betul tidak peduli > sehingga menghasilkan karya sastra yang tidak ada > manfaatnya kecuali hanya sekedar hiasan/alat kosmetik. > > Tapi sebagian besar lainnya mungkin kurang paham > dengan situasi politik, ekonomi sehingga tidak mampu > melahirkan karya sastra yang berbobot yang membela > orang2 lemah yang dizalimi. Bagi yang seperti ini, > yang sudah paham masalah politik/ekonomi bisa > memberikan pencerahan kepada mereka. > > Kalau ingin tahu soal ekonomi, bisa gabung ke milis: > [EMAIL PROTECTED]<Ekonomi-nasional-subscribe%40yahoogroups.com> > > Antrinya rakyat membeli minyak tanah, naiknya harga > sembako seperti minyak goreng dari rp 7.000/kg menjadi > rp 12.000/kg dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan, > banyak orang bunuh diri/stress karena kemiskinan > adalah gejala yang bisa dilihat oleh sastrawan yang > peka. > > Di atas itu ada lagi yang namanya Neo Kolonialisme. > Penjajahan Gaya Baru. > > Saya pernah menghadiri diskusi di mana pesertanya > adalah ekonom Dr. Revrisond Baswir, Fadli Zon, pakar > minyak Kurtubi, dsb. > > Di sana mereka memberikan pencerahan bahwa saat ini > kita mengalami penjajahan gaya baru. > > Dulu yang berkuasa adalah perusahaan/company yang > bernama VOC (Verenigdee Oosch Indische Compagnie) dari > Belanda. Meski pemerintahan lokal dipegang oleh > pribumi. Sultan, raja, bupati, bahkan polisi hitam > pribumi, namun yang berkuasa adalah perusahaan VOC. > Tanah perkebunan dikuasai oleh VOC. Bangsa kita > bekerja sebagai kuli kontrak. > > Nah saat ini lebih parah. Presiden, gubernur, dan > bupati adalah pribumi. Namun kekayaan alam kita > seperti minyak, gas, emas, perak, dsb dikuasai oleh > perusahaan2 asing seperti Chevron, Exxon Mobil, > Standard Oil, Freeport, dsb. > > Kita punya minyak dan gas, tapi oleh perusahaan2 asing > tersebut rakyat Indonesia dipaksa beli dengan harga > internasional. Meski biaya pengambilan dan pengolahan > minyak hanya US$ 15/barrel, rakyat kita dipaksa beli > dengan harga US$ 70 lebih per barrel. Kalau kurang > dianggap pemerintah "mensubsidi" rakyatnya ratusan > trilyun. > > Perusahaan2 asing tsb mengekspor hasil minyak dan gas > kita ke Singapura, Jepang, dan Korea. Negara2 tsb > meski tak punya sumber minyak dan gas tak pernah > kekurangan dan antri minyak/gas. Sebaliknya rakyat > kita yang punya harus antri. > > Tanah-tanah yang ada di Indonesia dikuasai oleh > perusahaan2 asing. Ratusan juta hektar tanah dikuasai > perusahaan asing dalam bentuk HPH, konsesi tambang, > dsb. Rakyat kita tidak bisa menambang emas. Hanya > perusahaan asing yang boleh. Rakyat kita tidak bisa > berkebun/bertani karena tanah sudah dikuasai oleh > perusahaan asing. > > Pasar Uang dengan sistem mata uang mengambang yang ada > merupakan ajang judi/spekulasi pedagang forex. Rupiah > kita dihancurkan spekulan uang macam George Soros dgn > Quantum Fundnya sehingga turun dari rp 2.200/1 USD > menjadi rp 16.700/USD. Banyak rakyat jadi miskin > akibat sistem pasar uang yang bebas (bukan peg atau > patok zaman Soeharto dulu). Agar stabil, pemerintah > mensubsidi spekulan uang tsb dengan "intervensi" > membeli uang. Setiap tahun pemerintah mensubsidi > spekulan uang sekitar rp 60 trilyun lewat bunga SBI > yang nilainya berkisar 8,5-16,5% per tahun. > > Pasar saham juga merupakan ajang judi/spekulasi saham. > BUMN2/Perusahaan2 negara diobral lewat pasar saham > sehingga keuntungan BUMN sebesar puluhan trilyun > rupiah/tahun yang dulu masuk ke kas negara untuk > rakyat, sekarang masuk ke kantong segelintir pemilik > modal. > > Sistem pasar bebas memungkinkan pengusaha minyak > mengekspr minyak goreng ke luar negeri dan menjual di > dalam negeri dengan harga internasional. Akibatnya > harga minyak goreng melejit dari rp 7.000 jadi rp 12 > ribu/kg dalam tempo kurang dari 6 bulan. Sementara > gaji rakyat/UMR ditekan sehingga 1/20 dari UMR di AS. > > Itulah sistem ekonomi Neo Liberalisme yang > mengantarkan rakyat Indonesia ke dalam Neo > Kolonialisme. > > Mungkin suatu saat ekonom seperti Revrisond Baswir > perlu memberi pencerahan kepada para sastrawan yang > peduli rakyat sehingga para sastrawan ini bisa > mengkomunikasikan neokolonialisme dengan lebih > komunikatif kepada rakyat. Sebab bagaimana pun juga > bahasa akademis itu sering tidak nyambung dengan > rakyat banyak. > > Wassalam > > > -----Original Message----- > > From: [EMAIL PROTECTED]<Forum_LingkarPena%40yahoogroups.com> > > [mailto:[EMAIL PROTECTED]<Forum_LingkarPena%40yahoogroups.com>] > On Behalf > Of rexoholic > > Sent: Thursday, September 06, 2007 11 <javascript:void(0)>:45 PM > > To: [EMAIL PROTECTED]<Forum_LingkarPena%40yahoogroups.com> > > Subject: [FLP] kredo dari seorang Rex > > > > Ketika para sastrawan telah terbuai oleh > kapitalisme, maka > > karya sastra yang lahir dari penanya adalah karya > yang bisu > > akan realita, tuli akan derita, dan buta akan segala > ketidak > > adilan yang terjadi di hadapan sepasang matanya. > > > > Sebelumnya saya sempat menyatakan bahwa sastra > adalah sastra. > > Sastra bukanlah semacam kitab suci yang menghitamkan > sang > > putih dan memutihkan sang hitam. Sastra adalah > sastra, yang > > tidak diciptakan untuk dipertunggangi. Tetapi saya > sadar > > bahwa ternyata pernyataan saya itu keliru. Tidak ada > yang > > netral di bumi ini. Batu pun memiliki tari. Seorang > sastrawan > > pastilah memiliki keberpihakan terhadap apa yang > diyakininya. > > Itu sebabnya dengan penuh kesadaran saya akui bahwa > > pernyataan saya itu adalah keliru. Sastra pastilah > memiliki > > keberpihakan. > > > > Kapitalisme sudah semakin kurang ajar. Bumi kita > telah di > > perkosa habis2an oleh para pemilik modal. Pemerintah > kita pun > > sudah kehilangan taringnya jika sedang berada di > hadapan para > > pengusaha. > > Penjajahan Fisik masih dapat kita rasakan. Namun > Kapitalisme > > bukan hanya menjajah fisik, namun juga pemikiran. > Penjajahan > > pemikiran tentu saja sangat berbahaya. Sebab > penjajahan itu > > tidak dapat kita sadari sehingga kita tidak akan > pernah ada > > keinginan untuk melakukan perlawanan. Dampak dari > penjajahan > > pemikiran inilah, pada akhirnya pemikiran kita > tadinya di > > selimuti kebenaran (Islam) akan terdistorsi dengan > pemikiran > > materialisme. (Profit...Profit...Profit...) > > > > Duhai para sastrawan yang memiliki hati yang peka, > untuk apa > > kalian memburu kata-kata jika tidak digunakan untuk > membantu > > saudara kalian yang sedang mengantri minyak tanah? > > Duhai para mujahid pena, untuk apa kalian berhias > diri dengan > > bahasa yang kemilau jika tidak di gunakan untuk > menegakkan > > kebenaran-Nya? > > Duhai para perias cerita yang selalu berkontemplasi > di > > ruang-ruang sunyi, mengapa kalian masih berdiam diri > ketika > > menyaksikan saudara seiman kalian dihina oleh para > serdadu > > liberal keparat? > > > > kata terakhir dari saya, "Tempat yang cocok untuk > para > > sastrawan yang cuma memikirkan bahasa tanpa > memikirkan > > manusia, adalah: SELOKAN!" > > > > salam, > > > > Rex sang pencaci ulung > [Non-text portions of this message have been removed]

