Onghokham, Sejarahwan Imajinatif
(Versi semula disiarkan dalam rubrik `Ranah Pengetahuan', Radio
Nederland, 4 Sept. 2007)
Aboeprijadi Santoso
Suatu hari, di awal 1970an, sejumlah dosen Indonesia berada di kantin
K.I.T.L.V. Koninkelijke Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde,
waktu itu di seberang stasiun, Stationsplein, Leiden. Satu
diantaranya melenggang sendiri, datang memperkenalkan diri di
kalangan mahasiswa. Onghokham, waktu itu meneliti arsip Belanda suka
mencari kalangan baru dan terjun dalam diskusi. Sejak itu, saya
mengenalnya sebagai rekan diskusi di kantin KITLV, di café, bar, di
rumahnya di pinggir kade di Leiden, di seminar, di jalanan
menyelusuri kota Leiden, Amsterdam, di rumah rekannya, Heather
Sutherland (sekarang guru besar emeritus Vrije Universiteit,
Amsterdam), sampai di rumahnya, di Cipinang Muara, Jakarta Timur,
Juni yang baru silam. Kamarnya di Leiden, semacam gudang di lantai
teratas (zolder), selalu ambur adul. Buku bukunya, Pinguin Pockets
Perang Saudara Spanyol, Revolusi Cina, feodalisme Eropa dan kajian
keIndonesiaan, sampai buku-buku masak Jawa dan Eropa, berserakan.
Seorang akademikus yang bersahaja, Onghokham suka, mudah bergaul;
juga seorang cendekiawan yang nyentrik, berwawasan luas, analitis,
jeli, sering orisinal dan tajam. Ong bergulat dan merasuk ke dalam
sejarah, sekaligus menikmati dunia culinair (masak-memasak). Di kedua
dunia itu, dia nyaris pantang sendirian. Dia selalu melibatkan rekan,
mengajak teman bertukar pikiran dan makan makan. Di rumah sendiri,
dia memamerkan kepiawaiannya dalam hal memasak. Di rumah orang, dia
kasak kusuk di dapur, bertanya tentang masakan atau minta dimasakkan
sesuatu yang digemari, atau belum dikenalnya. Semua itu diselingi dan
diakhiri dengan minum bir, anggur atau kesukaannya, yakni jenever
Belanda dan keju Prancis Camember.
Dengan cara itu, dia memperluas wawasan, kerabat-pikiran, jejaring
teman dan publiknya, serta menikmati makanan, minuman dan kehidupan.
Pantas, pesta ulang tahunnya selalu sarat tokoh tokoh publik,
selebriti dan cendekia. Maka dia menjadi semacam cendekia-selebriti,
namun jauh dari gemerlap selebriti. Penampilannya unik, biasanya agak
kumal, kalau pun berdasi selalu miring, tapi ujung-ujungnya sering
membekali publiknya dengan inspirasi. Lewat seminar, kolom kolomnya,
terutama dalam Mingguan TEMPO dan wawancaranya di media asing, dia
menyumbang gagasan dan kritiknya. Dia menjadi `guru' tidak hanya di
ruang kuliah. Dengan gayanya itu, Onghokham adalah sejarahwan yang
mengabdikan ilmu dan pengetahuannya kepada masyarakat, lebih luas
dari pada sekadar bagi diri sendiri dan rekan rekannya.
Di masa itu, saat maraknya isu Perang Vietnam dan naik daunnya Kiri
Baru di Eropa, Ong mengakui analisis Marxis menarik dan tajam. Rekan
rekan (hampir) segenerasinya, Ben Anderson, Dan Lev, dll banyak
tergolong cendekia yang melawan perang Amerika di Asia Tenggara. Tapi
Ong, yang mantan wartawan, suka baca koran koran sayap 'kanan'
semacam Wall Street Journal dengan alasan yang berbau 'Marxis': koran
koran itu informasinya handal, katanya, karena para kapitalis
mempertaruhkan modal dengan mengandalkan info media yang kayak
gitu.
Ada beberapa hal yang layak dicatat pada cara pandang Onghokham.
Wawasannya komparatif (visi perbandingan) dan jeli (wity), karena
itu, sering mengagetkan orang. Sejarah Eropa, kata dia, adalah
sejarah yang `lengkap' (sumber-sumber primairnya lebih dari memadai)
atau dia bertolak dari sejumlah peristiwa besar (a.l. Revolusi
Prancis, Revolusi Cina, perjuangan kemerdekaan Indonesia) sebagai
rujukan-rujukan pokok.
Salah satu tulisannya yang cantik, "The Inscrutable and the
Paranoids" (dalam The Thugs, The Curtain Thief and The Sugar Lord,
2003), menunjuk pada peristiwa pencurian di rumah Residen Madiun,
J.J. Donner. Ulah pencurian berantai itu, terutama pencurian gordijn
(tirai kain) yang menyingkap isi rumah mereka, membuat penguasa
Belanda merasa dipermalukan di hadapan Bupati Raden Mas Adipati
Brotodiningrat, dan, terutama, di hadapan rakyat. Pasalnya, Belanda
mengklaim sistim pemerintahannya sesuai adat Jawa dan berupaya
merebut hati rakyat. Menurut Ong, insiden insiden dan sengketa
Belanda dan sang Bupati, "de kwestie Brotodiningrat" itu, mengungkap
struktur sosial Jawa di abad ke XIX: posisi Belanda yang mudah
rentan, posisi penguasa Jawa yang cerdik dan licik memainkan bola
kekuasaan, karena para Bupati inilah yang berwibawa dan menguasai
kelompok petani kaya.
Di situ, Onghokham menohok satu butir yang penting dan mendasar:
bahwa institusi `kepemilikan tanah' penguasa Jawa sebenarnya
bersandar pada "his leadership over men rather than on claims over
territory" (ibid. hal.7). Asas itu membuat cara cara "feodal" Jawa
mengukur `kepemilikan' tanahnya, menjadi identik dengan cara cara
menunjukkan `kekuasaan'nya, yakni, bukan dengan bilangan hektar,
melainkan dengan hitungan ("cacah") jumlah keluarga petani (petani
kaya: sikep) yang tergantung sekaligus mendukung sang Bupati. Asas
penguasaan lahan yang demikian, membuat penguasa Belanda secara
politik lemah dan, kelak, para pengamat Barat yang bertolak dari
purba-sangka feodalisme Eropa, menjadi `bingung'.
Namun Ong mengingatkan, sistim itu hanya mungkin karena, kala itu,
lahan tani di Jawa melimpah ruah, sedangkan tenaga kerja, langka.
Kelak, ketika jumlah penduduk Jawa melonjak, asas tadi "cacah"
kehilangan makna aslinya, lalu menjadi sebutan belaka bagi sensus
penduduk. Antropolog Amerika Clifford Geertz mengembangkan
tesis "involusi" dengan mengatakan, para petani Jawa menanggapi
sistim Tanam Paksa Belanda (Cultuurstelsel) dengan lompatan
demografis, dst, sedangkan Ong, lebih sederhana namun cerdik dan
jeli, menunjuk pada lahirnya tempe sebagai makanan rakyat pengganti
daging, karena rakyat Jawa makin melarat. Menurut Ong, gudeg yang
juga asli Jawa, mungkin juga substitut daging yang terjadi akibat
sistim Tanam Paksa (1830-1850).
Sistim cacah yang mengungkap sistim kekuasaan ala Jawa tadi,
menghasilkan kantong-kantong kekuasaan Jawa yang secara geografis
tersebar (dispersive). Maka Ong menyimpulkan bahwa `desa' sebenarnya
adalah gagasan birokrat birokrat kolonial Belanda, bukan gagasan
Jawa. Artinya, itu adalah cara penataan teritorial pedesaan Jawa yang
diperlukan untuk memudahkan pemungutan pajak Belanda. Belakangan,
sosiolog Belanda, Jan Breman dari Universitas Erasmus, Rotterdam,
mengembangkan ide desa ala Belanda - temuan imajinatif Ong tsb -
sebagai bagian dari sistim kolonial. Begitu pula apa yang disebut
rijstafel, sajian makanan "Indonesia" yang populer di kalangan Indo-
Belanda yang dapat ditemui di restoran restoran "Indisch" di Belanda
kini, ditunjuk Ong sebagai hasil imajinasi Belanda, bukan gagasan
asli Indonesia.
Dengan terobosan-terobosan itu, sebenarnya Ong mendorong para
pengkaji Indonesia agar melepas diri dari kungkungan subtil dari
paradigma para birokrat dan sejarahwan Belanda di masa lalu.
Hanya Aceh, dengan tradisi lembaga negara yang panjang, dan sistim
kepemilikan yang jelas dan tegas, yang mirip feodalisme Eropa.
Kesultanan Aceh tentaranya memakai gajah, artinya tentara yang
reguler, sedangkan Mataram, misalnya, tentaranya ekspedisioner, yang
dikerahkan kalau melakukan ekspedisi untuk menggertak lawan atau
merebut wilayah. Dan feodalisme Eropa penting untuk dipahami sebagai
landasan bagi kapitalisme moderen, demikian Ong sering mengingatkan.
Pada 1970an itu, Ong sulit membayangkan kaum bermental priyayi Jawa
bakal menjadi kapitalis, 'borjuis' Asia baru. Di situ, Ong mungkin
meleset, Orde Baru membuktikannya.
Bagi Onghokham, Eropa (Prancis), Cina dan Jawa, baik di dunia
culinair mau pun dalam membangun wawasan kesejarahan, amat memukau.
Sejarah ketiga negeri itu diguncang revolusi dan banditisme dalam
formasi dan bentuk yang berbeda-beda. Robin Hood di Inggris berbeda
dengan Ken Arok dan `titisan-titisan'nya di Jawa. Gambaran Ong
tentang Jawa pra-Tanam Paksa mengesankan sebuah dunia yang `anarkis'
(bukan dalam artian kacau balau, melainkan: tak tertata) yang
memekarkan tokoh tokoh di dalam dan di luar kelas penguasa, yang
perilakunya menonjolkan dan menuntut kehormatan, melalui ciri ciri
dan ulah fysik mereka semacam ulah ayam jago diantara sesama ayam.
Gagasan Onghokham tentang fenomena `jago', sebagai bagian dari
struktur kekuasaan "feodal" di pedesaan Jawa itu, kelak dikembangkan
oleh para antropolog sebagai gejala premanisme di perkotaan, selaku
bagian dari sektor informal dari sistim politik kapitalisme-semu di
negara-negara berkembang. Dalam konteks itu, ketika menulis tentang
negara dan kriminalitas, tentang fenomena Petrus (penembak misterius)
versus gali-gali di awal 1980an, Ong secara tersirat menyampaikan
pesan, bahwa sistim Orde Baru, dengan militerisme dan Golkarnya,
sesungguhnya tidak lain adalah sebuah bentuk banditisme moderen.
Onghokham, sohib dan guru itu, telah pergi. Selamat jalan, Pak Ong!
Penulis adalah wartawan di Amsterdam (eks Radio Nederland).