bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, 
amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH.

ada kiriman bagus nech, silah yach!

Matematika Gaji VS Sedekah
    Posted by: [EMAIL PROTECTED] 
    
Matematika Gaji VS Sedekah
Penulis : Abdallah 

Klab Santri Peduli : Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu
pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan
falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini,
di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar. 

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram
sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri.
Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari
pelatihan itu. Melainkan dari pria ini. 

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena
penampilannya rapih, menarik, dan wajah yang tampan. Namun tidak
seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan.
Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan
sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami
dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun. 

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar
informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu
sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami
masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama
bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan
sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat
berbudi.
Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi. 

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai
seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki
tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA.
Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi
berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa
mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari
jumlah yang diterimanya. 

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada
dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis." 

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?" 

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit.
Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapa pun
sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup.
Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang." 

"Kenyataannya memang begitu kan, Mas?" kata saya mengiayakan. "Mana
mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah.
Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya. 

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar
dari medium itu. Oke, sekarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang
sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu
kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?" 

"Tidak ada. Habis," jawab saya spontan. 

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan
seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga." 

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung
pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa
uang seribu rupiah? Dari mana sisanya? 

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah
diberikan pada pengemis," saya tak sabar untuk mendapat jawabannya. 

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi
cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah.
Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi
puluhan lontaran do'a keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis
itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita
memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu
menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat.
Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai
bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC." 

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya.
Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang
hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang
berat.
Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa
cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau
sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang
serta sayang untuk memberi dan berbagi. 

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui
pola hubungan anak dan orangtua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti
ingin menggarisbawahi, bahwa berapa pun nilai yang kita keluarkan untuk
mencukupi kebutuhan orangtua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya.
Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya, dan sejagat haru
biru perasaannya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang
dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat. 

"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai matematis
dengan dimensi sedekah itu?" 

"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi
sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan
keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga,
lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah
nilai qana'ah, ridha, dan syukur". 

Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup
yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy.
Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada
keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua
penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya
dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama
diabaikan. 

Ya Allah, saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini.
Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang
masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan. 

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] :
261).

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK. 
wassalamu 'alaikum

"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"

Leo Imanov
Abdu-lLah
AllahsSlave
http://sudjanamihardja.multiply.com
http://imanov.jeeran.com
phone: +49 241 1 89 93 69
mobile: +49 1 76 63 01 56 79


      ___________________________________________________________ 
Copy addresses and emails from any email account to Yahoo! Mail - quick, easy 
and free. http://uk.docs.yahoo.com/trueswitch2.html

Kirim email ke