Penembakan Polisi Mesum Pencabut Nyawa
Nia Sari tewas sia-sia di tangan polisi brengsek. Padahal, Nia tak melanggar
hukum. Dia bukan penjahat, juga bukan teroris. Nia hanya gadis remaja yang
lugu. Usianya baru 15 tahun. Satu-satunya "dosanya" terhadap si biadab --begitu
belakangan warga menjuluki polisi itu-- adalah menolak diajak berbuat mesum.
Akibatnya, Brigadir Kepala Suwandi, polisi yang sudah tak kuasa menahan gelora
syahwatnya itu, jadi kesal berat. Lebih-lebih, Nia berusaha lari dan mengancam
akan melapor ke atasan Suwandi. Suwandi pun mengacungkan pistol ke arah kepala
Nia. "Kutembak kau!" bentaknya.
Ternyata ia benar-benar menarik pelatuk pistol. Dor! Di tempat sepi tengah
malam, Senin pekan lalu, itu Nia tersungkur. Sebutir peluru menembus bagian
belakang kepala dan bersarang di pelipis kirinya. Diperkirakan gadis malang itu
tewas seketika.
Suwandi menyeret mayatnya sejauh lima meter ke semak-semak. Kemudian anggota
Kepolisian Resor (Polres) Bogor , Jawa Barat, itu menyalakan motornya. Sempat
mampir ke Polres, Suwandi kemudian pulang ke rumah. Kepada sang istri, ayah dua
anak itu dengan tenang menyatakan bahwa ia pulang agak telat karena habis tugas
malam.
Seolah tak pernah terjadi apa-apa, dia kemudian tidur pulas hingga pagi hari.
Bangun tidur, Suwandi kembali ngantor. Ia masih tenang-tenang saja. Atasan dan
sejawatnya belum mengetahui laku biadab Suwandi. Bahkan, ketika warga menemukan
mayat korban pada pagi itu, polisi sempat mengira korban tewas di tangan
perampok.
Warga menemukan mayat Nia pada Selasa pagi, telentang di semak-semak di
belakang kantor Desa Tengah, Cibinong, Bogor . Kepalanya digenangi darah
kental. Baju kaus dan kutangnya tersingkap. Kancing dan risleting celana
jinsnya terbuka.
Warga melaporkan penemuan itu ke polisi. Dari pengusutan polisi ketahuanlah
pelakunya Brigadir Suwandi. Nah, Suwandi pun lantas mengarang cerita. Katanya,
dia terpaksa menembak karena mengira korban akan merampas sepeda motor Yamaha
Vega-R miliknya.
Suwandi bilang, di malam nahas itu Nia berjalan-jalan bersama pemuda
tetangganya, Nasih Alwali alias Dede. Mereka mengendarai sepeda motor Suzuki
Thunder. Tak jauh dari Polres Bogor, motor tersebut mogok kehabisan bensin.
Suwandi sempat mengantar Dede ke pangkalan ojek guna diantar mencari bensin.
Setelah itu, Suwandi balik ke tempat Nia yang menunggu motor Suzuki. Suwandi
mengajak Nia muter-muter, katanya, untuk mencari bensin. Eh, tak tahunya Nia
diajak ke tempat sepi di belakang kantor Desa Tengah. Nia manut saja karena
mungkin merasa aman bersama polisi. Atau mungkin saja Nia segan menolak karena
Suwandi polisi.
Tiba di situ, telepon seluler Suwandi berdering. Pada saat bertelepon itulah,
kata Suwandi, Nia mengambil alih kemudi motor dan tancap gas. Suwandi
berteriak, mencoba menghentikan Nia. Tapi, katanya pula, Nia tetap kabur. "Saya
langsung menembaknya karena panik." Begitulah awalnya pengakuan Suwandi kepada
atasannya.
Sulit dipercaya, oknum polisi satu ini enteng saja mengarang cerita dan
memutarbalikkan fakta. Bagaimana mungkin seorang gadis belia berani merampas
motor polisi? Katakanlah Nia memang hendak merampas, kenapa sampai harus
ditembak kepalanya? Tidakkah bisa dilumpuhkan tanpa harus membunuh?
Kalaupun Nia benar penjahat seperti dituduhkan, sepatutnya pulalah Suwandi
segera melaporkan penembakan itu kepada atasan. Dan Suwandi bersama pihak
kepolisian haruslah secara resmi mengurus jenazahnya, bukan malah
menyembunyikannya di semak.
Celakanya pula, ocehan yang sama sekali tak masuk di akal itu, apalagi di akal
polisi yang sudah banyak makan asam garam, sempat dipercaya sejawat dan
atasannya. Celotehan kosong itulah yang kemudian dipaparkan Kepala Polres
Bogor, Ajun Komisaris Besar Arief Ontowiryo, kepada wartawan, Rabu pekan lalu.
Menurut Arief, ketika Suwandi menerima telepon, korban mengambil alih kemudi
motor. "Karena panik, Sw (Suwandi) mengarahkan pistol ke korban, dan
tembakannya mengenai kepala korban," kata Kapolres pada waktu itu.
Keruan saja, pernyataan resmi polisi ini --yang terkesan asal membela korps
secara membuta-- mendapat reaksi keras. Keluarga korban tak bisa menerima
pengakuan Suwandi. Sebab, menurut mereka, jangankan merampas sepeda motor
--apalagi motor polisi-- mengendarai motor saja Nia tak bisa.
"Itu fitnah, sangat menyakitkan kami," kata Mahmudin, kakak kandung Nia. Ibu
korban, Ny. Sani, sangat terpukul. Ia shock mendapat kenyataan putrinya
terbunuh, dituduh pula sebagai perampok. "Pokoknya, saya tidak terima apa yang
dikemukakan polisi," teriak Ny. Sani sesenggukan, lalu pingsan beberapa kali.
Keluarga korban juga menepis tudingan polisi bahwa korban bersama Dede
berkomplot untuk menggasak motor Suwandi. Mereka mengatakan, sungguh
membutuhkan nyali luar biasa besar bagi sepasang remaja untuk merampas motor
milik polisi dengan modus mogok di kantor polisi. Apalagi, kedua remaja itu tak
punya catatan kriminal.
Masyarakat pun, terutama di lingkungan tempat tinggal korban di Kampung
Citayam, Kecamatan Bojong Gede, Bogor , menolak cerita versi polisi itu.
Pengamat hukum dan anggota dewan juga bereaksi. Indonesia Police Watch (IPW),
lembaga swadaya yang getol menyoroti polisi, turut mengecam keras.
"Logikanya, nggak mungkinlah korban berani. Itu hanya karangan polisi untuk
menjaga nama baik korps. Pembelaan asal-asalan ini justru bisa merusak citra
polisi," kata Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane, kepada Gatra. Ia ketika itu
meminta petinggi polisi mengusut tuntas kasus tersebut.
Syukurlah, reaksi-reaksi keras itu mendapat perhatian petinggi polisi. Kepala
Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat, Inspektur Jenderal Soenarko Danu Ardanto,
bergegas menurunkan dua tim ke Polres Bogor untuk mengusut kasut tersebut.
Tim pertama di bawah koordinasi Kabid Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda
Jawa Barat, Komisaris Besar (Kombes) Adri Widuhung, serta Direktur Intelijen
dan Keamanan Polda Jawa Barat, Kombes Slamet Sopandi. Tim ini fokus terhadap
pelanggaran profesi yang dilakukan tersangka.
Adapun tim kedua di bawah koordinasi Direktur Reserse dan Kriminal Polda Jawa
Barat, Kombes Tatang Somantri. Tim kedua ini khusus menangani tindakan
pelanggaran pidana yang diduga dilakukan tersangka. Syukur pula, kedua tim ini
bekerja profesional.
Upaya Suwandi mengaburkan kasus pembunuhan itu pun terungkap sudah. Keterangan
awal Suwandi terpatahkan semuanya. Anggota Intelijen dan Keamanan Polres Bogor
itu akhirnya mengakui bahwa ia membunuh korban karena takut perbuatannya
dilaporkan korban ke komandan.
Suwandi mengaku mencoba berbuat tak senonoh terhadap korban. Namun, karena
korban melawan, "Oknum anggota Polri ini mengaku panik," kata Sunarko.
Kepanikan ini membuat Suwandi mencoba membungkam korban dengan cara kelewatan:
menembak kepalanya.
Hasil pengusutan yang menggembirakan ini dipaparkan Kapolres Arief Ontowiryo
kepada pers di Polres Bogor , Jumat pekan lalu. Suwandi pun ditahan. Kapolres
mengakui, sebelumnya ia terlalu terburu-buru mempercayai cerita bohong yang
dikarang Suwandi. "Sekarang (Suwandi) sedang diperiksa intensif," kata Arief.
***
Mungkin sudah takdir Nia Sari harus meninggal ditembak polisi di usia belia. Di
malam nahas itu, Nia kumpul di rumah teman yang juga tetangganya, Fitrah.
Sedianya, dari situ mereka pergi ke tempat pengajian. Tapi acara pengajian
batal. Nia pun pulang, diantar Dede, kakak Fitrah, mengendarai Suzuki Thunder.
Seharusnya Nia benar-benar pulang ke rumah. Tapi tiba-tiba saja ia ingin
jalan-jalan dulu ke kota Bogor . Padahal, hari sudah malam. Dede tak keberatan.
Mereka pun raun-raun sejenak di sudut-sudut " kota hujan" itu. Apes, bensin
habis.
Motor pun mogok tak jauh dari Polres Bogor. Sepasang anak muda ini mendorong
motor hingga berpeluh. Menjelang di seberang Polres Bogor, keduanya
beristirahat sejenak. Dede tak waswas karena mengira, mogok di depan kantor
polisi pastilah aman.
Ternyata pikiran lajang 19 tahun itu salah besar. Mereka memang aman dari
penjahat sipil. Tapi bencana justru datang dari oknum polisi anggota Polres
Bogor, Suwandi. Lulusan Sekolah Polisi Negara tahun 2000 ini kebetulan
melintas, hendak ke Polres. Suwandi melambatkan laju Yamaha Vega-R warna hitam
yang ditungganginya.
Dede menyetopnya dan minta diantar mencari bensin. "Saya kira tukang ojek,"
tutur Dede. Suwandi tak keberatan. Menurut Dede , ia menangkap kesan, pada
waktu itu Suwandi sudah kesengsem terhadap Nia. Maklum, bunga Kampung Citayam
ini cantik, menarik, dan berkulit mulus.
Agak waswas, Dede meninggalkan sepeda motornya dan Nia. Waktu menjelang pukul
22.30. Suwandi mengantarkan Dede ke pangkalan ojek, dan menyuruhnya mencari
bensin dengan naik ojek di pangkalan tersebut. Dari tukang ojek beneran, Dede
baru tahu bahwa yang mengantarnya barusan itu anggota intel polisi.
Setelah memperoleh bensin, Dede kembali ke depan kantor Polres Bogor . Motornya
memang masih ada, bergeser ke depan Polres. Namun Nia sudah raib. Seketika Dede
panik. Berkali-kali ia menghubungi telepon seluler Nia. Tapi tak ada jawaban.
Boleh jadi, pada saat itu Nia sudah tewas atau masih tak berkutik di bawah
"penguasaan" Suwandi.
Dede pun berputar-putar mencari Nia sampai dini hari. Tapi tetap nihil. Dia
kemudian memacu motornya ke rumah Nia, mengecek keberadaan gadis itu. Ternyata
korban belum pulang. Kepada keluarga korban, Dede menceritakan semuanya,
termasuk soal sosok Suwandi. Keluarga Nia pun panik.
Paginya, warga Desa Tengah digegerkan dengan penemuan mayat Nia dengan luka
tembak di kepala. Polisi yang dilapori segera meluncur ke TKP (tempat kejadian
perkara). Kabar ini pun tersiar sampai ke Citayam. Ketika disebutkan
ciri-cirinya, "Saya mau pingsan mendengar kabar itu," tutur Oman , ayah Dede,
kepada Gatra.
Sani, Ibu Nia, langsung pingsan. Setelah siuman, Sani bersama Oman dan
tetangganya pergi ke RS PMI Bogor guna menengok mayat Nia. Sedangkan Dede
bersama Medi, tukang ojek yang mengantarnya membeli bensin, dimintai keterangan
di kantor polisi.
Dari keterangan Dede dan si ojek, polisi mengantongi nama Suwandi yang diduga
berada di balik kematian korban. Kepada penyidik, seperti telah dijelaskan di
bagian awal, Suwandi mengaku menembak karena Nia hendak merampas motornya.
Sebelumnya, Suwandi juga berbohong kepada Sani, ibu korban, dengan mengatakan
tak tahu perihal keberadaan Nia. Pagi itu, Sani sempat ke rumah Suwandi di
asrama polisi di Cibinong, Bogor . Sani yang janda ini ditemani keluarga Dede
dan Medi yang tahu rumah Suwandi, bermaksud menanyakan soal Nia.
Suwandi pada waktu itu masih tidur. Kedatangan mereka disambut istri Suwandi,
Nani Suryani. Kepada tamunya, Nani menjelaskan bahwa suaminya masih pulas,
kecapekan habis tugas malam. Toh, Suwandi akhirnya dibangunkan juga. Kepada
Sani, Suwandi mengaku tak tahu mengenai keberadaan Nia.
Kata Suwandi, setelah mengantar Dede ke pangkalan ojek, ia langsung ke kantor
Polres, kemudian pulang ke rumah. "Saya tak ketemu dia (Nia) lagi, tapi saya
berusaha membantu mencarinya," kata polisi berbadan tegap itu, seperti
dituturkan keluarga Dede kepada Gatra.
Siangnya, Oman menelepon Suwandi, mengabarkan penemuan mayat Nia. "Nia sudah
ditemukan, tapi sudah meninggal dibunuh. Tolong, Pak, dibantu mencari
pelakunya," ucap Oman di telepon. Suwandi berlagak ikut sedih dan berjanji akan
berusaha menangkap pelakunya.
Padahal, pelakunya tak lain Suwandi sendiri. Pengakuan Suwandi kepada penyidik,
sepulang mengantar Dede ke pangkalan ojek, ia kemudian menemui Nia. Benarlah
kesan Dede, Suwandi rupanya tergiur kecantikan dan kemolekan Nia. Suwandi
mengajak Nia untuk mencari bensin pula.
Awalnya Nia menolak. Tapi, setelah dirayu terus, gadis itu akhirnya mau juga.
Di perjalanan, Suwandi mendapat telepon dari Brigadir Enteng, rekannya yang
sedang piket di Polres Bogor . Suwandi memarkir motornya di penggalan Jalan
K.S.R. Dadi Kusmayadi. Suasana di tepi kantor Desa Tengah itu gelap dan sepi.
Tak ada penerangan jalan.
Enteng memintanya agar segera ke Polres. "Sebentar, saya lagi nyari bensin
bersama teman," Suwandi menanggapi. Setelah bertelepon, kata Suwandi, ia
meminta Nia menyetir motor. Atau, boleh jadi, Suwandi memaksa Nia untuk diajari
nyetir motor. Dalam takutnya, Nia tak berani menolak.
Maka, Suwandi yang duduk di belakang enak saja meraba-raba dan memeluk tubuh
Nia. Gadis yang bercita-cita menjadi bintang sinetron itu tersentak dan menolak
secara halus. "Pak, jangan macam-macam, ah. Nanti saya laporkan ke atasan,
lho," kata Nia, seperti dituturkan Suwandi kepada penyidik.
Suwandi tak peduli. Ia terus menggerayangi perut dan dada Nia. "Ayolah,
sebentar saja," bisik Suwandi, penuh nafsu. Nia berontak keras sampai terjatuh
dari motor. Gadis yang baru tamat SMP itu berusaha bangun dan melarikan diri.
Pada saat itulah, masih menurut Suwandi, ia panik dan menembak Nia.
Menilik kepanikan itu, boleh jadi Suwandi sempat menodai korban. Sebab, kalau
sekadar meraba-raba, kenapa begitu takut dilaporkan ke atasannya oleh korban?
Tapi, soal dugaan memerkosa ini masih remang. Kapolda Sunarko dan Kapolres
Arief hanya menyebut "berbuat tak senonoh".
Sedangkan hasil otopsi korban belum diketahui. Yang pasti, kelakuan Suwandi
sangat mengejutkan sejawatnya. "Saya tak menyangka ia berbuat begitu," ujar
seorang sejawatnya di Polres Bogor , yang mengaku mengenal Suwandi sebagai
sosok yang supel dan bereputasi cukup baik.
Nani, istri Suwandi, sampai shock. Selama tujuh tahun berumah tangga, Nani
mengenal Suwandi sebagai suami yang baik. Kapolda Sunarko menyesalkan laku anak
buahnya yang mencoreng citra polisi itu. "Saya prihatin dengan kejadian itu dan
memohon maaf kepada keluarga korban," kata Sunarko.
Ia berjanji akan memproses Suwandi secara transparan. "Tentunya akan diganjar
hukuman setimpal, baik dari institusi maupun peradilan umum," ujar Sunarko.
Ketua Presidum IPW, Neta Pane, menilai permintaan maaf tak cukup oleh Kapolda
saja. "Kapolri juga harus minta maaf secara terbuka kepada keluarga korban,
karena kasus ini dapat dikategorikan pelanggaran HAM berat," katanya.
Neta juga mendesak agar Kapolres Arief Ontowiryo mengundurkan diri. Arief
dinilainya tidak bersikap arif dan tidak mampu menganalisis persoalan yang
melibatkan anak buahnya. "Seharusnya sedari awal ia sudah tahu bahwa cerita
Suwandi yang pertama itu bohong besar karena tak masuk akal sama sekali," ucap
Neta.
Toh, ia cukup menghargai sikap polisi yang akan memproses Suwandi secara
transparan. "Memang harus begitu. Citra polri dapat dijaga dengan cara-cara
yang realistis, bukan dengan cara membela anak buah secara membuta," kata Neta.
Iya tuh!
Taufik Alwie, Deni Muliya Barus, Anthony, dan Wisnu Wage Pamungkas ( Bandung )
[Hukum, Gatra Nomor 43 Beredar Kamis 6 September 2007]
____________________________________________________________________________________
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
[Non-text portions of this message have been removed]