http://www.kompas.com/


*Budaya Iptek Perlu Dibangun*

JAKARTA, KCM - Salah satu faktor tidak berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi di Indonesia adalah tidak adanya budaya iptek. Negara-negara maju
bisa mendapat manfaat yang besar dari iptek karena didukung kepedulian yang
tinggi dari masyarakatnya terhadap perkembangan iptek.

Pendapat tersebut disampaikan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) Nani Grace Simamora pada seminar Indikator Iptek Indonesia yang
digelar di Jakarta, Rabu (12/9). Ia mengatakan budaya bangsa secara umum
masih belum mencerminkan nilai-nilai iptek yang mempunyai penalaran
objektif, rasional, maju, unggul, dan mandiri.

"Pola pikir masyarakat belum berkembang ke arah yang lebih suka mencipta
daripada sekedar memakai, lebih suka membuat daripada sekedar membeli, serta
lebih suka belajar dan berkreasi daripada sekedar menggunakan teknologi yang
ada," ujarnya.

Indikator

Ia mencontohkan, hasil survai Nielsen index di indonesia menunjukkan anak
usia sekolah lebih banyak menonton TV daripada membaca atau belajar. Untuk
menonton TV setiap anak menghabiskan waktu 1520 hingga 1860 jam per tahun
sedangkan untuk sekolah hanya 1000 jam per tahun.

Pembangunan budaya iptek juga harus dibarengi dengan pengembangan indikator
budaya iptek agar terukur hasilnya. Sebagai acuan sudah ada beberapa panduan
indikator yang sudah dapat dipakai, mislanya indikator yang dipakai NSF
(national Science Foundation) di AS, atau Venchmarking exercise yang dipakai
OECD tahun 2000, dan Public Awareness of Science and Technology Malaysia
yang dipakai sejak tahun 1996.

Dengan indikator tersebut dapat dilihat bahwa Malaysia berhasil
mengingkatkan kepedulian publik terhadap iptek. Jika pada tahun 1996 hanya
38 persen masyarakat Malaysia yang peduli, tahun 2004 justru kebalikannya,
69,1 persen masyarakat peduli iptek. Dari sana juga dapat dilihat bahwa
kepedulian masyarakat Malaysia terhadap penemuan-penemuan saintifik,
teknologi baru, dan eksplorasi ruang angkasa sudah hampir setara dengan
masyarakat Jepang.

Terobosan iptek

"Indikator menggarisbawahi perkembangan dan menunjukkan posisi, tapi yang
lebih penting adalah mengetahui tren perkembangan di masa depan," ujar Iman
Sudarwo, Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) menanggapi hal tersebut.
Ia menambahkan, keputusan pemerintah untuk memberi dukungan saat ini sangat
menentukan ke mana iptek Indonesia akan dibawa, jadi intervensi terhadap
kebijakan iptek harus dilakukan.

Sedangkan Idris Lutfi, salah satu anggota Komisi VII DPR RI menilai harus
dilakukan lompatan kebijakan iptek. Indonesia harus bisa belajar mengapa
Malaysia bisa melompat dari negara yang mengandalkan timah dan sawit
bertransformasi ke industri otomotif sampai ke IT dan bioteknologi saat ini
atau Filipina yang bangkit dengan industri jasa IT-nya.

Penulis: Wah


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke