TANGGAPAN From: Manneke Budiman, Canada E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Lepas dari "dosa-dosa" TUK yang telah diinvetarisasi secara dramatis oleh Rumah Dunia dan disebarkan di jurnalnya, Bumiputra, saya respek pada sikap yang diambil GM dalam wawancara ini. Ada dua hal yang penting digaris bawahi: Pertama, bahwa GM memperlihatkan sikap yang bertolak belakang dari yang dipertunjukkan lawan-lawannya yang konon anti-sastra kelamin itu. Ia bahkan sempat secara objektif memuji karya cipta Saut. Ia bahkan tidak menyetujui reaksi berlebihan yang diperlihatkan sebagian pembaca atas isu agama dalam puisi Saut. Siapapun yang terbebas dari kubu-kubuan justru akan mendapat kesan bahwa GM malah bersimpati kepada Saut alih-alih mendukung pengganyangan terhadap penyair yang mukim di Yogya itu. Kedua, wawancara ini memberikan perkenalan singkat tapi cukup baik dengan TUK: bahwa ternyata TUK bukanlah sebuah kubu monolitik tempat para "anggotanya" makan, tidur, dan ngelantur, melainkan cuma sebuah ruang longgar tempat orang bertukar gagasan. Buat yang tahu TUK, akan juga tahu bahwa yang namanya Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Hasif Amini, dll itu kumpul bukan cuma buat saling amin-aminan, tetapi kerap mereka juga berantem sendiri karena memang masing-masing punya ideologi sendiri. TUK bukan sekte, tetapi arena. Siapapun boleh nongkrong di situ, tak peduli apa latar belakangnya. Saya ke TUK sangat jarang, mungkin sekali atau dua kali setahun, kalau ada acara-acara besar. Tapi saya tak merasa dikucilkan, atau mendapat kesan bahwa mereka yang di TUK itu adalah gerombolan seperti yang hendak diisyaratkan oleh Saut dkk lewat Jurnal Bumiputranya. Kritik buat TUK harus selalu dilontarkan, dan TUK mustahil bisa mencegah kritik dari pihak manapun. Namun, jika kritiknya dilontarkan dengan cara kasar seperti yang dipertunjukkan oleh Rumah Dunia Banten, saya khawatir simpati masyarakat justru berbalik kepada TUK, dan para pengkritiknya malah yang akan dapat label sebagai kelompok norak yang tak punya kesantunan. Mungkin, dalam kesempatan ini, ada baiknya mendengar dari banyak orang, bila perlu dari Saut Situmorang sendiri, sajaknya yang di Republika itu bisa digolongkan sebagai sastra Syahwat Merdeka atau tidak? Apa kriteria untuk memutuskan bahwa novel Saman adalah sastra lendir, sementara puisi Saut bukan? Ayo kita sama-sama belajar. Saya tunggu pencerahannya. manneke e-mail: [EMAIL PROTECTED] blog: http://mediacare.blogspot.com --------------------------------- Pinpoint customers who are looking for what you sell. [Non-text portions of this message have been removed]

