Angkat topi untuk prancis? tunggu dulu.... meskipun prancis menjunjung tinggi 
sekularisme namun bukan berarti soal agama tidak menjadi perhatian.
adanya umat islam yang melakukan aktivitas ibadahnya bukan menjadi ukuran bila 
mayoritas kristen katolik prancis tidak melakukan diskriminasi. beberapa waktu 
yang lalu kita melihat bagaiaman peraturan pelarangan jilbab dan atribut muslim 
di prancis. itu hanyalah satu contoh kecil bagaimana negara yang mengaku 
menganut sekularisme tetap tidak mampu untuk benar-benar menajdi 'sekuler'. 

http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2007/06/070612_moslem2.shtml
Keresahan Islam Perancis
     
Islam di Perancis
Keragaman masyarakat di pemukiman imigran berkurang
Rangkaian kekerasan yang melanda kawasan pinggiran Paris tahun lalu telah 
mengangkat masalah kaum imigran di Perancis.
Perasaan disingkirkan tampaknya menyebar di kalangan kaum imigran yang tinggal 
di pemukiman pinggiran, yang sebagian besar merupakan umat Islam.
Hal itu antara lain karena kawasan pemukiman di pinggiran Paris semakin 
terabaikan dan menjadi pemukiman kumuh, seperti yang diamati Nadir Dendoune.
Pada awal 1980-an dia tinggal dan tumbuh berkembang di kawasan L'Ile 
Saint-Denis, Paris Utara, yang merupakan kawasan dengan penghuni beragam.
"Kami semua miskin, tapi ada orang Perancis, ada orang Eropa Timur, ada orang 
Hitam dan juga orang Arab," kata Dendoune, yang kini berusia 33 tahun dan 
menjadi seorang penulus.
Namun 2 dekade sejak itu, keragaman di tempat tinggalnya sudah berubah drastis.
"Di foto sekolahku dulu, lebih dari setengah berkulit putih. Tapi di foto 
sekolah sekarang hanya satu atau dua saja yang berkulit putih," tambahnya.

Pendidikan dan pengangguran
L'Ile St-Denis adalah salah satu kawasan di pinggiran Paris yang menjadi tempat 
tinggal kaum imigran asal Afrika Utara yang datang ke Inggris pada tahun 
1960-an.
Namun pendidikan di sana tidak diperbaiki sementara pengangguran meningkat 
sehingga hanya orang-orang yang tidak punya pilihan saja yang tetap tinggal di 
sana.
Kondisi ini tampaknya membuat kaum muda menjadi terperangkap tak berdaya dan 
menimbulkan kekecewaan yang dianggap menjadi pemicu kerusahan.
Dan dalam kondisi itu ada kecenderungan di kalangan kaum muda untuk 
mengidentifikasi diri semata-mata dari agama saja.
Seperti kata Nadir Dendoune, 10 tahun lalu, dia teman-teman seusia menganggap 
diri mereka sebagai Arab Perancis.
"Namun sebagian kini merujuk dan mendefinisikan diri sebagai Islam," tambahnya 
karena perasaan diabaikan.
Sebenarnya hampir semua negara memiliki kantung-kantung pemukiman suku dan 
agama, namun di Perancis pemukiman seperti itu menimbulkan kekuatiran.
Salah satu penyebab adalah karena Perancis selalu menganggap diri mereka mampu 
mengasimilasi berbagai komponen masyarakat yang beragam.
Dan sikap itu tampaknya mendorong kecenderungan untuk menghindar dari 
ekslusifitas kelompok tertentu.

Perancis
Tahun 2006 kerusuhan marak di kawasan pemukiman imigran
Pemerintah Perancis, misalnya, melarang statistik yang didasarkan pada asal 
suku dan juga agama. Akibatnya tidak ada yang tahu berapa banyak sebenarnya 
umat Islam di negara itu.
Perkiraan kasar adalah terdapat sekitar 3 juta umat Muslim di seluruh Perancis.

Sekularisme
Perancis memang amat bangga dengan prinsip sekularisme yang mereka anut, yang 
dengan tegas memisahkan gereja dan pemerintahan.
Namun di sisi lain ada kekuatiran di kalangan warga Perancis bahwa Islam 
merupakan tantangan terbesar bagi sekularisme.
Selain itu timbul pula kekuatiran sejalan dengan meningkatnya serangan kaum 
militan Islam, mengingat Perancis merupakan negara dengan umat Muslim terbesar 
di Eropa Barat.
 Dengan kata lain mulai muncul saling curiga antar kelompok masyarkat. Kaum 
imigran, yang sebagian besar merupakan umat Islam, merasa ditinggalkan karena 
kondisi kehidupan mereka tidak membaik.
Di sisi lain masyarakat Perancis melihat keterasingan dan kekecewaan kelompok 
imigran sebagai sesuatu yang mengancam.
Bagaimanapun para penghuni kawasan pemukiman Islan menegaskan mereka bukanlah 
lahan penyebaran separatisme.
Lhaj Thami Breze, Presiden Persatuan Organisasi Islam Perancis (UOIF) 
menegaskan mereka tidak menentang sekularisme, yang merupakan doktrin nasional 
yang juga didukung oleh umat Islam Perancis.
"Kami tidak punya masalah dengan sekularisme," tegas Lhaj Thami Beze.
Dia menambahkan bahwa netralitas negara dalam agama berarti bahwa semua agama 
boleh berkembang.
Sedang menurut Azzedine Gaci, Ketua Dewan Muslim di Lyon, Islam sudah terbukti 
juga bisa beradaptasi dengan hukum-hukum setempat.

Menjadi Perancis dan Islam
    
Islam Perancis adalah Agama terbesar kedua
Diperkirakan 5 juta umat Islam
35% berdarah Aljazair
25% berasal dari Maroko
10% asal Tunisia
Umumnya tinggal di kawasan pinggiran Paris, Lille, Lyon, Marseille dan 
kota-kota besar lainnya.
Dan itu bukan hanya pandangan para pemuka umat Islam Perancis saja.
Pemukiman imigran
Pemukiman imigran didirikan di beberapa pinggiran kota Perancis
Sebuah jajak pendapat tahun 2004 memperlihatkan bahwa 68% umat Islam Perancis 
berpendapat bahwa pemisahan negara dari agama merupakan 'hal penting.
Seorang pekerja di Paris, yang beragama Islam, Nour-eddine Skiker, menegaskan 
sikapnya sebagai warga Perancis.
"Saya sepenuhnya warga Perancis dan saya akan melakukan apapun untu negara 
saya," tuturnya.
Bagaimanapun ia tetap yakin bahwa negara asalnya, Maroko, amat penting dalam 
jati dirinya dan pada saat bersamaan dia yakin tidak ada kontradiksi sebagai 
warga Perancis dan sebagai keturunan Maroko.
Perancis kini dipimpin oleh Nicolas Sarkozy, yang menempuh kebijakan tegas 
terhadap kriminalitas saat menjabat Menteri Dalam Negeri.
Namun pada saat kampanye dia tampak mulai melunakkan sikapnya, yang menurut 
banyak orang membantunya terpilih dia sebagai Presiden Perancis.
Dan bersamaan dengan rencananya untuk menjadikan Perancis sebagai negara dengan 
perekonomian dinamis, Sarkozy tampaknya juga perlu melihat kerusuhan imigran 
bukan sebagai kriminalitas semata.**

RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
--- In [email protected], riri cute <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >   Ada tiga jalan utama yang ditutup siang itu, karena demikian 
 >banyaknya kaum Muslimin yang ingin melaksanakan shalat Jum'at. 
 >Syukurnya, Paris termasuk salah satu kota yang disiplin di negara 
 >Eropa dan bisa mentolerir kondisi seperti siang itu. Terlebih kaum 
 >Muslimin juga tidak terlalu lama mengganggu jalan raya, hanya 
 sekitar >2 jam saja.
 
 Angkat topi pada masyarakat sekulair Kristiani Perancis yang 
 menerima tamu dinegeri mereka dengan ramah. Bangsa Perancis telah 
 mengundang mereka ini sebagai TKA (Tenaga Kerja Asing), yang ikut 
 membangun perekonomian Perancis, jadi wajarlah massyarakat Perancis 
 menerima mereka dengan baik. Jangan seperti di Arab Saudi dan 
 Malaysia, dimana TKA diperlakukan sebagai binatang. Bagaimana kalau 
 TKA ini beragama asing pula?
 
 Salam
 
 Danardono
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke