http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0709/19/092659.htm
*Sengat Tak Mempan, Lebah Cekik Lawan* Selama ini lebah dikenal dengan sengatnya yang menjadi senjata ampuh melawan musuh-musuhnya. Kadang-kadang manusia pun jadi korban meski musuh utamanya adalah lalat yang suka mencuri larvanya. Sejenis lebah madu yang hidup di Cyprus (Apis mellifera cypria) juga memiliki sengat untuk melindungi diri. Namun, senjata tersebut tak akan mempan untuk melawan lalat besar orientalis (Vespa orientalis) yang menjadi musuh bebuyutannya karena tubuhnya dilindungi lapisan yang keras. "Lalat predator rutin menyerang koloni lebah secara bergerombol di pertengahan musim gugur," ujar Alexandros Papachristoforou, salah satu peneliti dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani. Untuk mengatasinya, lebah Asia pada umumnya diketahui punya strategi kedua melumpuhkan mangsanya yang disebut lingkaran termal (thermo balling). Mereka akan bergerombol mengerumuni lalat agar kepanasan sampai mati lemas. Lagi-lagi cara tersebut juga tidak akan ampuh melawan lalat oriental karena sudah beradaptasi dengan iklim Cyprus yang kering dan panas. Lingkaran panas dapat menaikkan suhu dalam tubuh lalat hingga 44 derajat Celcius, sayangnya lalat oriental masih tahan hingga suhu lebih dari 50 derajat Celcius. Namun, lebah madu Cyprus ternyata punya taktik baru yang membuat kagum para peneliti. Mereka memang mengerumuni tubuh lalat namun bukan untuk memaksanya kepanasan melainkan untuk menutup lubang pernafasannya sehingga musuhnya tercekik. Lalat diketahui bernapas melalui lubang-lubang kecil di kanan kiri perutnya yang disebut spiracle yang dinaungi struktur yang disebut tergite. Dalam sebuah percobaan, para peneliti melihat bahwa lebah-lebah yang melawannya akan mengelilingi bagian perut lalat hingga menutupi seluruh spiracle. Untuk memastikan apakah lebah membunuh lalat dengan menutup jalur napasnya, para peneliti menggunakan plastik keras untuk menahan sebagain tergite agar tetap terbuka. Hasilnya, lalat yang dikerumuni dapat bertahan hidup hingga dua kali lebih lama. "Di bawah tekanan, lebah madu dapat mengembangkan mekanisme yang sangat baik untuk bertahan hidup," ujar peneliti lainnya Gerard Arnold dari Pusat Penelitian Sains Nasional Perancis. Ia katakan strategi jitu yang layak disebut asphyxia balling (menutup jalur napas) seperti ini belum pernah teramati sebelumnya pada serangga bahkan mungkin pada jenis hewan lainnya. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Current Biology edisi terbaru. Sumber: LiveScience.com Penulis: Wah [Non-text portions of this message have been removed]

