http://www.tniad.mil.id/news.php?id=1487
*INDIA MENGAKUI KEMAMPUAN PASUKAN INDONESIA* Kunjungan dan undangan makan merupakan salah satu media untuk melakukan diplomasi. Hubungan antar kontingen terjalin erat dilakukan dengan saling mengunjungi antar komandan kontingen. Dalam kunjungan tersebut dapat diselingi dengan makan bersama atau mendemontrasikan ketrampilan yang dimiliki oleh kontingen tersebut. Kontingen Indonesia dalam beberapa kali menerima kunjungan, memperagakan ragam budaya nusantara. Tarian tradisional Kecak dan Saman telah menjadi ikon tersendiri bagi Konga XXIII-A. Hal ini merupakan apresiasi bagi pasukan Indonesia yang berhasil menunjukan ketrampilan tarian tersebut secara masal pada saat pelaksanaan HUT RI ke 62 dan penyematan medali PBB pada tanggal 17 Agustus 2007 di Lebanon. Saat ini setiap kontingen yang bertugas di Unifil (United Nations Interm Force in Lebanon), saat melaksanakan penerimaan medali PBB, melakukan atraksi atau peragaan yang dimiliki. Pelaksanaan penyematan Medali PBB yang dilakukan di France Component (Satuan Perancis) tanggal 12 September 2007 menampilkan kemampuan anjing penjaga. Ketrampilan anjing yang berjumlah empat ekor tersebut didemontrasikan didepan Force Comander (Panglima Unifil) Mayjen Claudio Graziano. Anjing yang terlatih untuk menaklukan penyusup dan pencuri yang berusaha masuk kedalam daerah pasukan PBB, dipertontonkan dengan mahir. Tepuk tangan diberikan oleh penonton yang menghadiri kegiatan penyematan medali yang digelar pada malam hari tersebut. Disisi lain, Kontingen Indonesia yang dapat menunjukan keramahannya. Pada minggu lalu mengundang Kontingen India untuk melakukan official dinner. Aktifitas ini merupakan kegiatan balasan yang dilakukan Satgas Indonesia, yang telah menerima undangan yang sama pada waktu sebelumnya. Susunan meja tertata rapi dengan menggunakan tenda serba guna secara apik, ditempatkan menghadap kearah perbukitan terbuka Lebanon. Undangan jamuan ini adalah media untuk menunjukkan kepada bangsa lain bahwa kemampuan Indonesia sama dengan yang lain. Tidak hanya dibidang kemiliteran namun juga dalam menghormati tamu, pasukan Indonesia memiliki kualitas yang sama baiknya. Dalam sambutannya Kol Surawahadi secara rendah hati menyampaikan bahwa Kontingen Indonesia banyak belajar dari kontingen India yang sudah lama bergabung di misi Unifil. Namun sambutan yang disampaikan oleh Dansatgas India mengatakan dia mengakui kemampuan personel Indonesia. "Hal ini, ucap Kolonel Advitya Madan, terlihat saat pelaksanaan HUT Kemerdekaan Indonesia tergelar dan terorganisir dengan sangat bagus, satuan yang dikirim ke Lebanon adalah satuan yang terbaik serta prajurit Indonesia yang selalu memberikan penghormatan kepada siapapun terutama pasukan yang melintas, ketika bertugas". Uraian ini diapresiasikan dalan kesan yang dituliskan oleh Kolonel Advitya Madan, komandan kontingen India pada lembar Message and Impression di kontingen Indonesia sbb: I am deeply impressed by the professional standarts of Indonesian unit and the conduct and morale of the soldiers in Unifil environment. Indonesian troops have very efficiently adjusted to the international environment with great élan and pride. It is all the more praiseworthy since it is the first exposure in the United Nations Peace Keeping Mission. We are indeed floored by the quality hospitality at an elegant dinner hosted by the battalion for all of us. May God bless the Battalion with more operational laurels in future. Jamuan yang disiapkan secara sederhana, dengan menyajikan menu tradisional Indonesia, digabung dengan dekorasi lambang satuan yang ada di Konga XXIII-A. Kostrad, Marinir, Kopassus dan Paskhas terpampang elegan di dinding tenda serbaguna. Mayor Rajiv, dokter Gigi kontingen India sangat familiar dengan lambang satuan tersebut. Seperti lambang Kostrad dan Marinir. "Benar, kami banyak menggunakan lambang yang berasal dari bahasa Sansekerta, ujar Kapten Yudha, saat menjelaskan kepada lulusan dari Universitas New Delhi tersebut. Sejarah memang menorehkan secara abadi, bahwa hubungan antar negara juga akan saling mempengaruhi dalam budaya. Acara tersebut diakhiri dengan saling tukar menukar cindera mata. (Satgas Konga XXIII-A/Dispenad) [Non-text portions of this message have been removed]

