http://www.antara.co.id/arc/2007/9/21/awan-gempa-cuma-kebetulan-atau-penanda/
*Awan Gempa, Cuma Kebetulan atau Penanda?* Oleh Masduki Attamami Yogyakarta (ANTARA News) - Awan gempa, yaitu awan yang dianggap sebagai pertanda akan terjadi gempa, masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Sebagian masyarakat awam bahkan masih bingung untuk meyakini bahwa awan yang biasanya berbentuk seperti garis putih memanjang vertikal maupun melengkung dan salah satu ujungnya mengarah ke bumi sebagai penanda sebagai bakal datangnya gempa. Sebagai gejala alam, kemunculan awan aneh pada setiap menjelang gempa mungkin bisa dipahami sebagai suatu kebetulan. Tetapi secara logika, fenomena kebetulan itu sampai saat ini masih diperdebatkan. Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, Tiar Prasetya, mengatakan sebagai fenomena alam yang beberapa kali kebetulan muncul sebelum gempa mungkin masih bisa dipahami atau dimengerti. "Tetapi jika dijadikan tipologi, tentunya harus ada pembuktian secara empiris maupun keilmuan (ilmiah)," katanya. Mitos awan gempa tidak mudah dihapus. Memperdebatkan mitos tersebut seperti tidak ada habisnya, karena mitos itu terus berkembang, seiring sifat manusia yang selalu ingin mengetahui sesuatu yang menjadi rahasia alam. Bahkan berbagai penjelasan secara ilmiah semu sering mengikuti berkembangnya mitos-mitos mengenai gejala alam, termasuk mitos awan gempa. Seperti isu awan gempa di Jepang tahun 1995. Isu tersebut bermula dari kejadian gempa di Kobe, Jepang, pada tahun yang sama yang menelan banyak korban manusia. Awan Kobe kemudian menjadi terkenal sampai sekarang. Gempa bumi berkekuatan 6,9 skala Richter (SR) yang mengguncang Kobe tersebut seperti menjadi titik awal munculnya berbagai isu seputar awan gempa, yang salah satunya isu mengenai awan lurus. Isu awan lurus kemudian menyebar secara cepat ke berbagai negara, terutama melalui media internet. Sebagian kalangan ahli tidak meyakini bahwa awan Kobe tersebut merupakan awan pertanda gempa. Menurut mereka, saat itu kebetulan ada awan, dan kebetulan pula setelah itu terjadi gempa. Jadi, awan tersebut bukan pertanda gempa. Pada 12 Juli 2006 sebagian masyarakat di Yogyakarta melihat awan putih memanjang di langit di atas kota. Lima hari kemudian Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, diguncang gempa dan tsunami. Banyak korban manusia akibat bencana itu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bahwa awan putih tersebut merupakan awan pernanda akan terjadi gempa di Pangandaran waktu itu. Tiga hari sebelum gempa besar mengguncang wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Klaten (Jawa Tengah) 27 Mei 2006, masyarakat sekitarnya melihat gejala alam yang aneh. Beberapa warga melihat awan aneh pada pagi hari (waktunya sama dengan jam kejadian gempa), bentuknya memanjang dan bergelombang serta besar berjajar tiga. Awan itu membujur dari arah timur laut ke selatan, atau seperti mengikuti jalur patahan Opak. Ketinggian awan tersebut tampak rendah, dan langit ketika itu cerah. Terekam Satelit Fenomena awan putih yang tergolong aneh sebelum gempa terjadi, menurut peneliti geomagnetik Dr Sarmoko Saroso dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah beberapa kali muncul dan terekam satelit sebelum gempa terjadi. Kata dia, awan putih tersebut muncul sebelum beberapa gempa terjadi. Awan itu terekam oleh IndoEx Satellite. Menurut Sarmoko, awan itu dinamakan awan gempa. Awan gempa berbeda dengan awan yang terjadi karena proses kondensasi uap air di atmosfer. Awan yang terbentuk dari proses kondensasi di atmosfer membentuk awan jenis sirus, stratus, dan cumulus. Ia mengatakan awan gempa terjadi karena adanya gesekan di sumber gempa (episentrum), dan gesekan itu makin lama membuat rekahan di dalam bumi serta menimbulkan panas. Panas ini kemudian mendidihkan air tanah, hingga menguap. Karena temperatur dan tekanan sangat tinggi, uap air tersebut keluar melalui celah-celah rekahan ke permukaan bumi. Pada ketinggian tertentu, uap itu bertemu dengan udara dingin dan terbentuklah awan. Kata dia, spesifikasi awan gempa munculnya secara tiba-tiba. Semula tidak ada, tiba-tiba muncul. Ia menggambarkan awan tersebut seolah-olah keluar dari suatu titik tertentu yang posisinya tetap. Dari titik kemunculannya, menurut Sarmoko, awan itu membesar dan memanjang ke samping, memanjang ke atas seperti asap roket, bergelombang atau berlipat-lipat seperti lipatan lampion, bahkan terkadang tampak seperti pijar cahaya. Menurut dia, sudah cukup lama para ahli memikirkan tentang hubungan antara awan gempa dan gempa. China bahkan sudah membicarakan tanda alam itu pada tahun 1622. "Pada 25 Oktober tahun itu terjadi gempa besar berkekuatan 7 SR di Guyuan, Provinsi Ningxia, China barat. Masyarakat di China barat ketika itu melihat ada awan aneh sebelum gempa terjadi," katanya. Pada 1978, yaitu sehari sebelum gempa Kanto di Jepang, Walikota Kyoto Kagida melihat awan aneh. Ia mengaitkan gempa dengan awan tersebut. Fenomena alam itu kemudian disebut Awan Kagida. Kagida waktu itu memperkirakan sumber gempa di titik paling tengah awan gempa. Namun, pada 1985 pendapatnya dibantah. Sumber gempa diduga berada di titik awal mula terjadinya pembentukan awan. Sarmoko menyebutkan Satelit IndoEx juga merekam fenomena gempa yang diiringi awan. Di antaranya pada 20 Desember 2003 di langit sekitar Bam, Iran, muncul awan memanjang. Empat hari kemudian terjadi gempa berkekuatan 6,8 SR. Sebelumnya, pada 17 Januari 1994 muncul awan seperti asap roket di sekitar Northride, Amerika Serikat (AS). Sehari kemudian terjadi gempa. Pada 13 Februari 1994 muncul awan berbentuk gelombang di Northride, AS, dan 20 Maret 1994 terjadi gempa besar. Setelah itu, pada 31 Agustus 1994 ada awan berbentuk bulu ayam di Northern, California, AS. Sehari kemudian, yakni pada 1 September 1994 terjadi gempa di daerah setempat. Awan seperti sinar terjadi di kawasan Joshua Tree, AS pada 22 Juli 1996, dan 23 hari kemudian terjadi gempa. Menurut dia, awan-awan aneh tersebut selalu muncul sebelum terjadi gempa berkekuatan di atas 5,5 SR. "Awan gempa biasanya muncul hanya sehari, kemudian menghilang sampai terjadi gempa. Jarak waktu antara munculnya awan dan gempa adalah 1-100 hari," katanya. Ia mengatakan, proses hilangnya awan itu, sampai sekarang masih diteliti. Sedangkan mengenai terbentuknya awan gempa, menurut dia mirip dengan anomali perubahan medan magnet. Saat aktivitas di dalam kerak bumi meningkat akibat kenaikan temperatur, muatan listrik terpolarisasi, sehingga meningkatkan konduktivitas listrik dan medan magnet, yang kemudian menyebabkan terjadi perubahan medan magnet bumi. Kekuatan elektromagnet Pendapat lain mengatakan bisa saja awan gempa terbentuk karena ada awan yang tertarik suatu kekuatan besar ke arah bumi. Kekuatan tersebut bisa saja elektromagnet atau angin yang tersedot ke arah bumi. Pendapat itu berbeda dengan pemikiran Sarmoko Saroso serta peneliti lainnya yang menyebutkan bahwa awan gempa terbentuk dari uap air yang muncul dari daerah gempa. Sedangkan pendapat lainnya lagi menyarankan perlu diteliti lebih dulu untuk memastikan apa penyebab terjadinya awan aneh tersebut. Jika ternyata awan itu terbentuk karena penguapan air pada sepanjang patahanr akibat kenaikan suhu dari gesekan atau proses konversi energi lainnya, maka semestinya korelasi antara awan gempa dan gempa akan langsung terbukti. Namun, ada lagi pendapat yang bisa menggugurkan kemungkinan tersebut. Pendapat itu mengatakan, jika awannya terjadi karena bermula dari gesekan di sumber gempa (seperti pemikiran Sarmoko Saroso), berarti secara logika seharusnya awan tersebut terjadi saat terjadi gempa. Sebab, pengertian gempa adalah kejadian alam saat terjadi gesekan lempeng bumi. (*) [Non-text portions of this message have been removed]

