Riri Fawzan yang katanya kiyut,
Kalau dalam Bahasa Jawa "Telek" itu artinya tai ayam....
Bagaimana pendapat Bu Muskit untuk postingan terbaru Riri ini? Jangan
marah-marah ya Bu, lagi bulan puasa. Kalau habis Lebaran boleh deh
ngamuk-ngamuk..:))
salam,
rd
ri2 cute <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Intelektual Produk Barat, Arogan dan Tak Layak Jadi Teladan Sabtu, 29 Sep
07 18:46 WIB
Pergumulan intelektual di Barat dimulai tahun 1898. Saat itu ada seorang
perwira berpangkat kapten 'keturunan Yahudi dipecat dari dinas ketentaraan
Perancis karena dicurigai bekerja sebagai mata-mata pihak asing. Namanya Albert
Dreyfus.
Kasus Dreyfus inilah kemudian menjadikan masyarakat Prancis terbelah dua;
yang membela dan yang mengutuk. Yang mengutuk Dreyfus disebut oleh yang pertama
sebagai anti-semit atau rasis dan pembela Dreyfus disebut sebagai les
intellectuels dan déracinés oleh yang kedua. Di antara pembelanya seperti Emile
Zola (1840-1902), Emile Durkheim (1858-1917) dan Anatole France (1844-1924),
sedang yang mengutuk adalah seperti Maurice Barrés (1862-1923) dan Fedinand
Brunetiére.
"Nah, dari kasus inilah kemudian sebutan intelektual lebih merupakan cap
hinaan dari pada sanjungan. Hal itu berlaku tidak hanya di Perancis, tapi juga
di Inggris dan Amerika, " ujar Dr. Syamsuddin Arif, dosen International Islamic
University (IIU) Malaysia.
Menurutnya, ada beberapa teori intelektual. Ia memulai dengan teori
intelektual ala Julien Benda (1867-1956). Lewat buku monumentalnya, La Trahison
Des Clercs (1927), Benda memberi beberapa catatan tentang intelektual. Di
antaranya, seorang intelektual adalah pejuang kebenaran dan keadilan, tekun dan
menikmati bidang yang digelutinya, tidak ditunggangi ambisius materi dan
kepentingan sesaat, berani keluar dari sarangnya untuk memprotes ketidakadilan
dan menyuarakan kebenaran, walau mahal resikonya, dan oleh itu ia tidak takut
penjara atau hidup susah. Singkatnya, sosok-sosok semacam Socrates, Yesus, dan
Spinoza adalah profil yang sangat pas bagi Benda .
Tapi menurut Edward Said (1935-2003) dan Ernest Gellner (1925-1995), teori
Benda terlihat sangat elitis, mengawang-awang. Lain halnya dengan seorang
sosiolog Régis Debray yang lebih praktis dan dinamis. Ia membagi tiga generasi
intekletual. Pertama, 1900-1930, terdiri dari para pengajar (teachers) yang
membela Dreyfus, seperti Émile Zola, Émile Durkheim dan Anatole France.
Kedua, 1930-1960, diwakili oleh para penulis (writers; novelist, essayist).
Dan, ketiga, dari tahun 1960-sekarang, mereka yang disebut sebagai "Cendekiawan
Selebritis", yang suka tampil di media massa, yang punya pesona, sensasional
dan ingin terkenal dan mengabaikan standar keilmuan dan kejujuran. Seorang Jean
Francois Sirinelli pun merasakan fenomena generasi ketiga ini, seraya ia
berteriak lantang, "Faut-il sonner le glas des intellectuals?", atau "Apakah
intelektual kini sudah tiba ajalnya?"
Lain lagi dengan pandangan Antonio Gramsci (1891-1937), yang membagi
intelektual menjadi dua macam; intelektual "tradisional" dan intelektual
"organik". Intelektual yang pertama adalah mereka para tokoh agama, guru/dosen,
birokrat, dan seperti mereka inilah profil intelektual yang tidak membumi,
hidup dalam ilusi dan utopia. Sedangkan yang kedua adalah intelektual yang
aktif, tidak pernah diam, senantiasa berbuat sesuatu untuk masyarakatnya.
Mereka ini always on the move, on the make, " tegasnya.
Karena intelektual di Barat tidak bisa lepas dari istilah intelligentsia.
Untuk mengetahui asal-usul kata ini, perlu dikroscek ke negara asal pemproduksi
istilah ini. Ternyata ia berasal dari Polandia dan Russia. Di Polandia,
inteligentsia adalah para lulusan sekolah, minimal sekolah menengah, dan yang
mengerti sejarah Polandia. Mereka ini yang disebut mature (dewasa), lebih layak
memimpin dan mengelola negara ketimbang kaum borjuis yang tidak punya idealisme
dan suka korupsi.
Sementara di Russia, intelligentsia adalah orang-orang bangsawan yang
mengambil jarak dari kaum borjuis kapitalis dan merasa terpanggil untuk
memanggil bangsa. Kelompok inilah yang kemudian dijuluki 'slavophile' karena
merekalah yang menuntut penghapusan feodalisme dan tsarisme, menghendaki
perombakan total sistem politik, ekonomi dan sosial. Kelompok ini sempat eksis
setelah Tsar digulingkan pada revolusi Oktober 1917, setelah kemudian ditumpas
habis oleh Stalin.
Sedangkan di Inggris dan Amerika, istilah intelektual mempunyai konotasi
negatif. Bagi masyarakat Inggris, intelektual itu sebutan bagi orang-orang yang
irrasional, egois, 'sok pintar'. Bahkan seorang sekretaris luar negeri di masa
PM Margaret Thatcher, Sir Geoffrey Howe, menyifati Salman Rushdie (penulis buku
"Ayat-ayat Setan") sebagai 'arrogant', 'a dangerous opportunist', dan 'a
multiple renegade'. Lebih jauh lagi, Paul Johnson, dalam bukunya, Intellectuals
(1988), mengutuk kalangan inteletual dengan menyatakan, "no wises as mentors,
or worthier as exemplars, than the witch doctors or priest of old " atau 'tak
layak jadi teladan. '
Melihat akar sejarahnya, Syamsuddin, yang juga doktor jebolan Universitas
Frankrut, Jerman, memberikan beberapa karakter penting intelektual di Barat.
Yakni: non-committal, tak terikat dari segi ide; independent, tak terikat dari
segi aksi; non-sectarian, untuk semua golongan; non-partisan, tidak memihak;
non-conformis, pantang menyerah; rebellion, cenderung memberontak;
oppositional, menentang arus; dan dissident, berani berbeda; resistent,
menunjukkan perlawanan. Lalu bagaimana dengan intelektual di dalam Islam?
Intelektual Islam
Istilah "intelektual" dikenal baru-baru ini saja di dunia Islam. Menurutnya,
istilah ini mengimpor dari peradaban lain, seperti halnya "falsafah". Oleh
karena itu mesin worldview Islam bermain di sini. Istilah ini, "intelektual",
dengan konteks masyarakat Barat yang sudah disebut di atas, tidak boleh
dipindah begitu saja ke dalam Islam.
"Itu tidak bisa. Selama ini, cendekiawan- cendekiawan muslim di Indonesia
sangat memaksakan penggunaan istilah itu dengan segala motifnya. Sebagai
contoh, ketika muncul kasus Ahmadiyah, tampillah pembela Ahmadiyah atas nama
kaum intelektual dan membela atas nama HAM. Nah itu baru contoh kecil
penggunaan istilah itu yang sangat dipaksakan.
Contoh lainnya, ketika kalangan modernis atau liberalis dengan lantangnya
menggugat otoritas Al-Quran, Hadits, ulama, dll. Mereka mengatasnamakan
intelektual. Nah itu sikap yang sangat Barat dan tidak bijak serta terburu-buru
menggunakan istilah asing. "
Kalau diperhatikan, ada makna universal dalam istilah intelektual, seperti
'memperjuangkan keadilan dan kebenaran', 'pendirian kuat', 'tidak mudah terbawa
arus', dan lainya. "Makna universal ini ada di mana-mana, tidak saja di Barat.
Masalahnya adalah ketika makna universal diterapkan ke dalam partikular.
Seperti menentang arus dalam konteks di dunia Kristen tidak akan sama kasusnya
dengan menentang arus dalam konteks di dunia Islam, " paparnya.
Ia menegaskan, membela kebenaran dalam konteks dunia Barat tidak sama dengan
membela kebenaran dalam konteks dunia Islam. Dengan demikian, dengan melepaskan
makna partikulernya dan mengambil makna unversalnya, maka pemateri mengajak
melihat makna-makna universal itu dalam Islam. "Ternyata, cendekiawan dan
intelektual sejati itu dalam Islam adalah para Nabi dan penerusnya, waratsat
al-Ambiya' (pewaris para nabi) dan penerus risalah profetis, " imbuhnya.
Intelektual Profetik atau Diabolik
Intelektual dalam khazanah Islam mempunyai dua tipe, mengikut sejarah dan
konteks keIslaman, yaitu :
(1) intelektual profetik; dan
(2) intelektual diabolik. Intelektual profetik adalah para nabi dan waratsat
al-ambiya', pewarisnya. Merekalah para pembela kebenaran, sebagaimana kebenaran
yang terkonsep dalam al-Quran. Sedangkan cendekiawan diabolik adalah iblis dan
para pengikutnya.
Kalau diamati lebih jauh, karakter Iblis sangat pas dengan ciri intelektual
di Barat. Ia tidak mau terikat dengan aturan Allah (non-committal,
independent), tidak mau menyerah ( non-conformis), memberontak (rebellion),
menentang arus (oppositional), dll. Yang menyatu dalam kata "takabbur".
Contoh-contoh cendekiawan diabolik ini sangat banyak sekali dalam sejarah.
Sepeti Kan'an putra nabi Nuh yang menolak naik ke atas perahu, Haman sebagai
the intellectual in the service of tyrant, Fir'aun, Musa Samiri sebagai
cendekiawan yang membuat tuhan dari patung lembu , kaum kuffar dari ahlu kitab
di zaman Nabi Muhammad sebagai para-pakar yang kafir, dan lain sebagainya.
Sedangkan contoh cendekiawan profetik adalah seperti para nabi, sahabat,
ulama. Dari para nabi sebut saja Nabi Ibrahim yang menentang kuasa Namrudz.
Nabi Luth juga intelektual yang menentang arus kaumnya yang mayoritas lesbi dan
guy.
Dari kalangan sahabat, Abu Darda' disebut sebagai intelektual yang berani
mengatakan kebenaran dengan lantang di depan Muawiyah, penguasa waktu itu. Dari
kalangan ulama, seperti Hasan al-Basri, Imam Syafii, Ibnu Taimiyah, Imam Ahmad
bin Hambal, dll, dan di Indonesi seperti HAMKA, Syeh Yusuf Al-Makasari,
Muhammad Natsir, di mana mereka berani mengeraskan suara kebenaran dan
merelakan resiko yang terus mengancam.
Dengan demikian, intelektual dalam Islam cukup dikenali dengan tiga cirinya.
Pertama, ia tidak ada rasa takut menyuarakan kebenaran (la khaufun alaihim wa
la hum yahzanun).
Kedua, tidak ditunggangi kepentingan- kepentingan pribadi, kelompok, partai
dan lain-lain (la yas alukum alaihi ajran wahum muhtadun). Ia hanya ditunggangi
kepentingan misi Tuhannya.
Ketiga, ia adalah agent of change/agen perubahan, dan bukan subject of
change/yang dirubah oleh lingkungannya. (dina)
--
"Aku ridha Allah sebagai Rabb ku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad
sebagai Nabi dan Rasulku".
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
blog: http://mediacare.blogspot.com
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]