http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/10/tgl/03/time/153844/idnews/837462/idkanal/4


*Menkeu Dapat 'Hadiah Lebaran' Triliunan Rupiah dari DPR*

Dadan Kuswaraharja - detikfinance

Jakarta - Siapa tak senang dapat hadiah lebaran? Termasuk menteri keuangan
Sri Mulyani. Ia mengaku senang mendapat 'hadiah lebaran' hingga triliunan
rupiah dari DPR.

Tapi jangan salah sangka. Hadiah lebaran itu bukan uang yang akan masuk
kantong Sri Mulyani. Triliunan rupiah 'hadiah lebaran' itu adalah setoran
dividen BUMN.

Panitia Kerja (Panja) penerimaan DPR memprediksi penerimaan dividen BUMN
pada tahun 2007 mencapai Rp 21 triliun atau lebih tinggi dari target dalam
APBN perubahan 2007 sebesar Rp 19,6 triliun.

"Proyeksi dividen yang dimiliki panja BUMN komisi XI cukup representatif,"
ujar Ketua Panja Asman Abnur dalam rapat kerja dengan Menkeu dan Menneg BUMN
di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu (3/10/2007).

Hasil perkiraan itu didapat setelah melalui rapat dengar pendapat dengan
sekitar 27 BUMN. Dari 27 BUMN itu, 10 BUMN diantaranya mewakili 75 persen
aset BUMN atau sebesar Rp 1.000 triliun.

Untuk dividen 2008, panja penerimaan DPR mencatat angka yang lebih fantastis
lagi yakni Rp 39 triliun. Untuk proyeksi moderatnya sebesar Rp 31,5 triliun
dibanding targetnya Rp 20,3 triliun.

Menkeu Sri Mulyani mengaku senang dengan angka dividen yang lebih tinggi dan
dianggapnya sebagai 'hadiah lebaran'.

"Kita mendengar Komisi XI dapat angka yang lebih tinggi. Bagi menkeu senang
saja mendapat hadiah lebaran ini," ujarnya.

Menurut Menkeu dalam pembahasan di panitia anggaran angka persetujuan
sementara dividen 2008 Rp 21,4 triliun.

"Menneg BUMN concern dengan korporasi sehingga minimal sesuai yang panitia
anggaran Rp 21 triliun, kenaikan akan mengubah postur APBN," ujarnya.

Jika Sri Mulyani senang, tidak demikian dengan Menneg BUMN Sofyan Djalil.

Menurutnya, kebijakan dividen di berbagai negara cenderung sedikit disetor
BUMN ke kas negara. Contohnya di Jepang, perusahaan-perusahaan justru jarang
membayar dividen, namun keuntungannya digunakan pengembangan usaha.

"Bahkan perusahaan publik mereka duduk di atas tumpukan dividen sehingga
menjadi perusahaan raksasa yang berkembang sangat besar dan memberikan
kontribusi bagi ekonomi jepang," ujarnya.

Contoh lain adalah Petronas Malaysia. BUMN perminyakan Malaysia itu tidak
pernah menyetor dividen sehingga kini menjadi perusahaan minyak kebanggaaan
Malaysia


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke