Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Oleh Tia Setiadi
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/06/humaniora/3894625.htm
====================

"Sebelum melakukan petualangan fisik—dalam hidupku, setidaknya—ada
petualangan bersama buku-buku. Buku-buku itu menuturkan kepadamu dunia
yang maha luas, namun sungguh tercakup. Penuh dengan
kemungkinan-kemungkinan."

Itulah pengakuan Susan Sontag, seorang esais dan novelis perempuan
terkenal Amerika Serikat dalam sebuah esai memukau: Homage to
Halliburton, yang terhimpun dalam buku Where The Stress Fall. Dalam
esai ringkas tersebut, Sontag mengisahkan ihwal pertautannya dengan
buku. Pada umur tujuh tahun, ia membaca Book of Marvels, buku yang
merekam pengembaraan Halliburton ke tempat-tempat yang menakjubkan dan
menantang: Tembok Besar China, Grand Canyon, Masjid Biru di Isfahan,
Lhasa, Delphi, Taj Mahal, dan banyak lainnya.

Hallington menyebut tempat-tempat itu sebagai "mukjizat". Dan, gadis
kecil itu pun terpesona. Di benak gadis kecil itu, menjadi petualang
dan penulis seperti Halliburton merupakan suatu proses menjalani hidup
dengan rasa serba ingin tahu yang tak pernah berkesudahan, dengan
energi dan kegairahan yang melimpah.

Pikiran itu begitu kuat tertanam dalam diri Sontag kecil, bahkan
hingga jauh pada kemudian hari. Puluhan tahun kemudian, Sontag
mengunjungi sendiri tempat-tempat ajaib yang dipaparkan dalam Book of
Marvels dan dia pun menjadi penulis terkenal.

Perihal seberapa jauh buku- buku karya Halliburton telah
memengaruhinya untuk bermimpi menjadi seorang penulis, dengan takzim
Sontag menyatakan: "Ketika aku mengenang kembali kini, betapa besarnya
pengaruh buku-buku Halliburton kepadaku pada masa-masa awal riwayat
bacaku, aku melihat betapa kata "petualang" telah menyusup,
mengharumi, dan menghasut lahirnya impianku untuk menjadi seorang
penulis; sebab apakah penulis itu selain seorang petualang mental?"

Bocah dari Jawa Tengah

Dalam waktu yang tidak terpaut jauh dengan saat Sontag pertama kali
membaca Book of Marvels, nun di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, juga
ada seorang anak lelaki yang mengalami hal yang hampir serupa. Anak
lelaki itu memang terbiasa ikut bermain bersama teman-teman sebayanya,
namun ia merasa ada sesuatu yang berbeda antara dirinya dengan
anak-anak lainnya. Dan, beda itulah yang membuatnya sudah mulai
berpetualang dengan buku-buku, dan tak bisa kembali lagi selamanya.

Hanya saja, "Waktu itu, dia tak tahu bahwa khayalan- khayalannya
menggelikan kawan sepermainannya. Ketika untuk beberapa lama, sambil
bermain bola, dibayangkannya padang- padang prairie, meskipun yang
mengitarinya tidak lebih dari lapangan rumput bekas pabrik di mana
sebatang randu tua tegak dan pohon-pohon mangga melebat."

Bagi anak laki-laki itu, yang di kemudian hari menuliskan petualangan
kreatifnya dalam Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang,
"Bukan suatu perbuatan bodoh jika seseorang meminjamkan buku
terjemahan Treasure Island kepada rombongan ketoprak amatir desa, yang
sedang sibuk mencari sebuah kisah seru setelah mementaskan Damarwulan…."

Anak lelaki itu kini telah menjadi salah seorang penyair dan esais
terkuat Indonesia, dan juga telah menjadi seorang "petualang". Dialah
Goenawan Mohamad. Sejauh mana petualangan yang telah dilakukan
Goenawan, bisa kita simak, di antaranya, dalam puisi-puisinya. Kalau
kita membaca Sajak-sajak Lengkap Goenawan Mohamad (1961-2001), kita
akan digamit oleh Goenawan untuk berpetualang ke tempat-tempat jauh;
ke Sarajevo, Berlin, Hiroshima, Nanking, Praha, dan tempat- tempat
lainnya.

Maka, begitulah anak lelaki dari kota kecil Batang yang "punya
khayalan-khayalan yang menggelikan bagi kawan-kawan sepermainannya"
dulu itu, yang sekarang telah menjadi "petulang mental" sekaligus
"petualang fisik" yang mengagumkan.

Keterbatasan Kant

Yang sangat mencengangkan, menurut saya—barangkali juga terasa agak
ganjil—adalah kisah petualangan Immanuel Kant. Syahdan, pada suatu
masa dalam kehidupan Kant yang tak terlalu berbahagia, dia pernah
menjadi guru besar geografi. Padahal—astaga!—Kant sama sekali tak
pernah melihat gunung seumur hidupnya. Bahkan, dia sama sekali tak
pernah melihat lautan, yang sebetulnya hanya berjarak sekitar dua
puluh mil dari tempat tinggalnya.

Perjalanan fisik yang dilakukan Kant tak pernah melewati batas-batas
kota kecilnya, di Konigsberg. Dan, untuk perjalanan ini, Kant sudah
memiliki jadwal waktunya sendiri. Dengan jaket abu-abu dan tongkat di
tangannya, Kant akan muncul dari balik pintu rumahnya dan berjalan ke
arah sebuah jalan setapak yang dihiasi pohon-pohon linden. Inilah yang
disebut dengan "Philosopher's Walks", dan semua orang tahu persis
bahwa saat itu jam menunjukkan angka setengah empat tepat. Kant memang
selalu menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan, pada musim apa
pun.

Ajaibnya, kendati petualangan fisik Kant sangat terbatas, Kant mampu
memberikan kuliah-kuliah geografi dengan penggambaran yang sedemikian
cerdas, memukau dan hidup, hingga mampu membuat seluruh pendengarnya
membayangkan tempat-tempat yang dipaparkannya. Dari mana Kant beroleh
pengetahuan geografi yang menakjubkan itu, tanpa berkelana secara
fisik? Dari buku-buku.

Kant seorang petualang mental yang sangat ulung. Dari caranya
berbicara dan risalah-risalah yang ditulisnya, orang akan segera tahu
betapa Kant telah melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui
wilayah-wilayah etika dan epistemologi yang penuh onak. Bahkan,
melampaui Ultima Thule (jarak terjauh) logika yang berbahaya hingga
menembus lorong ilmu yang paling gelap dan paling jauh dari peradaban,
yakni metafisika.

Kisah tentang Sontag, Goenawan, dan Kant di atas meneguhkan kenyataan
yang tak terbantahkan ini: pentingnya buku-buku dalam pembentukan
kepribadian seseorang. Sedihnya, di Indonesia, kini, buku-buku boleh
dibilang telah menjadi spesies yang langka. Yang saya maksud ialah
buku-buku yang mampu memberikan kedalaman dan efek kesegaran bagi jiwa.

Buku-buku yang menginterogasi keyakinan-keyakinan kita yang sudah
usang. Yang mempertanyakan, yang menggugat, yang mengajak kita
berkelahi dengan kedunguan sendiri, yang menantang kita untuk
bertualang ke tempat-tempat, yang bahkan belum terpetakan, mungkin
tanpa "jalan pulang".

Yang membeludak dan laku hanya buku-buku yang sekadar pantulan dari
realitas televisi kita. Buku-buku yang disebut Sontag dengan tepat
sebagai bookscreen, yaitu buku-buku tentang seks, tentang menjadi
jutawan dengan cara instan, tentang manajemen, tentang gosip, dan
seterusnya. Ya, buku-buku "sejati" sangat langka di Indonesia.
Padahal, ah, izinkan saya mengutip Sontag lagi di penghujung tulisan
ini, masih dari buku Where The Stress Fall, tapi dari esai A Letter to
Borgers.

"Jika buku-buku musnah, sejarah akan musnah dan umat manusia juga akan
musnah … buku-buku bukan cuma penjumlahan dari mimpi-mimpi dan ingatan
kita, tapi juga memberikan kepada kita model transendensi diri. Banyak
orang yang mungkin berpikir bahwa membaca hanyalah sejenis pelarian:
pelarian dari dunia riil sehari-sehari ke dunia imajiner, yaitu 'dunia
buku-buku'. Tapi, buku-buku lebih dari itu: buku-buku adalah jalan
untuk menjadi manusia yang 'penuh seluruh'."

Tia Setiadi Penikmat Buku



                         


e-mail: [EMAIL PROTECTED]  
  blog: http://mediacare.blogspot.com  
   

       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke