07 Oktober 2007    "Perang Kebudayaan" akan segera dimulai?   
    

  

Pemberangusan Gus Dur di KUK dan "Perang Kebudayaan"

Seorang teman yang mukim di Tangerang mengirimkan temuan menarik, yaitu 
hubungan usaha pembungkaman Gus Dur dan Komunitas Utan Kayu (KUK):
  
1. Empat hari yang lalu stasiun Jogja TV memutuskan untuk tidak menyiarkan 
acara "Kongkow-Kongkow dengan Gus Dur." Rupanya keputusan itu diambil karena 
ancaman lewat telepon yang mengaku dari Front Pembela Islam (FPI). Gerombolan 
ini memberitahu, kalau Yogya TV menyiarkan acara itu, gedung mereka akan 
diserbu.

Tetapi teror itu gagal. Ternyata sejumlah ormas Islam menegaskan kepada direksi 
Jogja TV untuk meneruskan program "KongKow" . Di antara mereka malah menyatakan 
siap menjaga stasiun Yogya TV dari serangan FPI.

2. Acara Gus Dur yang akan diserang FPI itu diproduksi oleh Kantor Berita 68H 
dan School of Broadcasting Media, kedua-duanya bagian dari Komunitas Utan Kayu 
(KUK).

3. Setiap hari Sabtu pagi pukul 10, Gus Dur hadir di KUK, untuk wawancara 
interaktif di Radio 68H dan juga bertemu masyarakat, tempatnya di kedai yang 
terletak di KUK, "Kedai Tempo".

4. KUK sendiri pernah dicoba diserang FPI sekitar bulan Juli sampai Oktober 
2005. Usaha ini gagal, karena KUK dijaga oleh sejumlah besar aktivis bersama 
satu regu Banser.

5. Ulil Abshar Abdalla, tokoh Jaringan Islam Liberal, (yang seperti aktivis 
Jaringan Islam LIberal lain adalah anggota generasi muda NU), adalah salah satu 
aktivis KUK sejak KUK berdiri, dimulai dengan berdirinya Institut Studi Arus 
Informasi (ISAI) di tahun 1996. Di tahun 2002, setelah artikelnya dimuat di 
Kompas, Ulil diancam dibunuh. Darahnya halal. Sejak itu untuk Ulil selalu 
disiapkan penjagaan ke mana pun ia pergi -- sebelum ia ke AS untuk melanjutkan 
studinya di Harvard University.
  
6. Hubungan Jaringan Islam Liberal dengan KUK antara lain: Ahmad Sahal, salah 
satu pendiri jaringan itu, pernah bersama Ayu Utami menjadi kurator bagi 
program teater Utan Kayu (TUK).
  
7. Pertentangan antara para aktivis KUK (seniman, wartawan, dan lain-lain) 
dengan para pendukung "syariat-isasi" kebudayaan kembali menajam dalam soal 
Rancangan Undang-undang anti porno-grafi dan porno--aksi, sebab "orang-orang 
KUK" ikut terlibat dalam gerakan yang menentang RUU itu.
  
8. Serangan lain terhadap orang-orang KUK dimulai oleh Taufiq Ismail. Pada 
tanggal 20 Desember 2006 silam, Taufiq Ismail berpidato di Taman Ismail 
Marzuki, menyerang apa yang disebutnya "sastra selangkangan". Sebagaimana 
diulanginya dalam tulisan-tulisannya, ia juga memperkenalkan akronim GSM 
(Gerakan Syahwat Merdeka) dan FAK (Fiksi Alat Kelamin). Ia menyebut Ayu Utami 
sebagai salah satu pelopor FAK.
  
9. Pada tanggal 20-22 Juli 2007, di "Rumah Dunia", Serang, Banten, dimaklumkan 
Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung yang antara lain "menolak eksploitasi 
seksual sebagai standar estetika". Walaupun kata KUK atau TUK tidak disebut, 
diketahui bahwa pernyataan itu merupakan serangan kepada KUK, yang dianggap 
membawa "arogansi dan dominasi" komunitas. Konseptor pernyataan itu antara 
lain: Gola Gong, Saut Situmorang, dan Wowok Hesti Prabowo.
  
10. Sejak itu, beredar selebaran Boemi Poetera yang memuat tulisan (termasuk 
"wawancara imajiner") yang menggambarkan aktivis KUK sebagai orang-orang yang 
menganut "seks bebas". Yang sering digambarkan sebagai tokoh jahat adalah 
Goenawan Mohamad dan Ayu Utami. Tidak diketahui sejauh mana hubungan pengasuh 
selebaran ini dengan Taufiq Ismail dan "Rumah Dunia", tetapi jelas mereka 
mempunyai sasaran yang sama, yaitu KUK. 
  
Kesimpulan sementara yang dapat diambil ialah: sebuah "perang kebudayaan" 
sedang berlangsung diam-diam, antara dua kubu: kubu KEMERDEKAAN (yang pro 
kemerdekaan bersuara dan kebhinekaan ekspresi), melawan kubu SYARIAT (yang 
membuat aliansi taktis dengan sastrawan anti-KUK seperti Saut Situmorang).

Selengkapnya klik:
   
  http://culture-indonesia.blogspot.com
   
   



       
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by.    Make it a reality with Yahoo! Autos. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke